6/04/2009

BAB V - Denting Pertama

Hmm.. hari pertama ospek. Tegang.. tentu mereka rasakan. Apa lagi buat mereka yang gak kuat di bentak-bentak, seperti Ollie. Sungguh gak bisa nahan untuk mengeluarkan air mata bila dibentak. Tapi dia akan mencoba untuk selalu positive thingking bahwa dia bisa dan tidak akan buat masalah.

Ollie keluar dari mobil Iren, lengkap dengan atribut yang wajib dikenakan, seperti papan nama terbuat dari kardus dan bertalikan ravia yang sudah dikepang, kaos oblong putih, celana levis super duper rusuh, topi tentara, rambut acak-acakan, dan.. segala perlengkapan lagi yang membuat orang lain yakin bahwa ‘mereka lah orang gila depan rumah gue’.

Banyak orang yang berpelengkapan mirip dengan Ollie dan Iren masuk ke dalam kampus. Merekalah teman-teman senasibnya. Ollie menghembuskan nafas-nya panjang, dan menatap Rata PenuhIren dengan perasaan tegang.

“Santai aja kali Lie. Asal lo turutin semua yang mentor suruh, lo gak bakal nangis deh.” Iren menghibur dan sedikit menyindir.
“Gue bakal buktiin kalo gue gak cengeng lagi.”
“Seterah ape kate lo dah!” Baru saja mereka melangkahkan satu kakinya, tiba-tiba tepat di belakang mereka sesuatu teriakan keras yang telah sukses mem-buat kebo terbangun. Teriakkan menyuruh semua untuk segera masuk ke dalam.

Ollie, Iren dan yang lainnya yang masih berada di luar, segera masuk ke dalam kampus. Di sana sudah berkumpul para Junior dan mentornya. Mereka berdiri sembarangan di manapun.

Iren sepertinya sudah mempersiapkan secara mantap, bukti dari tadi dia cengar cengir mulu. Beda dengan Ollie yang gak henti-henti berdoa sambil me-yakinkan hati.

First day... first day. Apa saja bisa terjadi di first day.

***

First day, hmm.. benar-benar melelahkan. Gak ada yang bisa memungkiri-nya. Tapi kesenangan di hari pertama dan terakhir akan melebihi hari berikutnya (Semoga kalian setuju).
Semua mahasiswa keluar dari kampus saat jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Dengan muka yang sudah tak berbentuk lagi. Baju putih mereka sudah ber-mmetamorfosis menjadi sedemikian rupa, ada yang berubah warna, ada yang berubah bentuk, bahkan ada yang lenyap tak tersisa lagi (just for boys!!!).

Kaki mereka seakan berjalan sendiri tanpa ada perintah berarti dari pengendalinya. Kadang ada mata yang tak terbuka. Al hasil, sedikit kecelakaan pun terjadi. Gak sedikit yang saling menubrukkan diri ke pohon, tiang, maupun temannya sendiri.

Ollie yang baru kena hukuman dari mentor karna ke lemotannya men-jalankan perintah, jelas-jelas udah gak sanggup lagi menghentakkan kakinya akibat hukuman berlari berpuluh-puluh menit. Untung saja seorang laki-laki kenalan Iren bernama Nandy yang senantiasa mau membopong Ollie di belakang sampe ke mobil Iren. Padahal Nandy itu kan gak lain adalah mentor mereka juga, yang waktu itu jadi korban curi-curi pandangnya Ollie. Ternyata dia masih kenal sama Iren.

Iren masih setia mengelus-ngelus punggung Ollie sambil berjalan. Padahal dia juga sedang dilanda kecapean.

Ollie-Ollie, untung loe masih punya sahabat yang selalu menyertai loe dimana-mana.

Nandy mendudukkan Ollie di kursi VW Iren. Ollie menghembuskan napasnya (hal ini mungkin lebih wajar di lakukan Nandy).

“Maafin mereka yah, mereka emang keterlaluan. Dari dulu aku emang gak pernah suka sama yang namanya senioritas. Tapi..”
“Gak papa kok Mas Nandy.” Panggilan ‘mas’ menyertai nama Nandy. Walaupun ini adalah Bandung, tapi sebagian besar mahasiswa di sini berasal dari Jawa. Jadi sudah terbiasa para Junior memanggil Senior nya dengan nama panggilan khas Jawa.
“Ya udah, kalo ada apa-apa, ngomong aja sama aku.” Nandy berdiri dan menutup pintu mobil setelah menerima anggukan kepala Ollie. Iren yang udah duduk di sebelah Ollie, segera mengeluarkan mobil dari parkiran, dan me-lambaikan tangannya ke arah Nandy lewat jendela mobil yang terbuka. Bukan terbuka, tapi emang sengaja dibuka. Maklumlah, mobil Iren yang gak ber AC akan membuat nya sesak napas di dalam apabila tidak ada udara yang masuk.

Pandangan Ollie terhadap Nandy semakin dalam. Ollie gak henti me-mandang sampai akhirnya tak terjangkau lagi oleh matanya. “Entah kenapa ya Ren, setiap gue natap Nandy, kok tiba-tiba gue inget jelas Joni. Gue ngerasa kalo di antara mereka berdua ada ikatan batin.”
“Hmm.. emang sih Nandy itu mirip Joni, tapi.. gak mungkin kan mereka kakak-adek?” Iren serentak mengembalikan kartu parkir ke sang penjaga gerbang.
“Gue gak pernah tau kalo Joni punya sodara kandung.” Ollie mengerutkan dahinya. “Ya semoga aja ini jadi pertanda.”
“Pertanda?”
“Pertanda kalo gue masih di ijinin ketemu Joni.”

Iren memaklumi kerinduan Ollie yang udah beberapa bulan ini mesti rela menahannya sendiri “Oh ya Lie, kemaren lo mau curhat apa?”

Ollie tersenyum kecil. “Udah lah, gak begitu penting.” Senyum Ollie makin mengejek.
Ejekan yang terlalu tertuju pada kebodohannya menunggu Joni pulang.

***

Ini dia hari terakhir, setelah seminggu lamanya diadakan. Jelas hari terakhir ini tidak terlalu melelahkan seperti hari pertama. Semuanya bergembira, hari ini penuh tawa. Pukul 7 malam semuanya udah pada bubar dan berhamburan kemana-mana. Beberapa dari mereka ada yang berteriak me-nandakan keresmian mereka menjadi mahasiswa.

Pastinya termasuk Ollie. Dia gak bisa nyangka kalo dia bener-bener bisa jadi mahasiswa Universitas unggulan. Berarti gak lama lagi, cita-cita Ollie untuk menjadi pengusaha sukses disamping cita-cita nya yang ingin menjadi istri Justin Timberlake, akan tercapai.

“Iren.. Ollie..” seseorang memanggil dari belakang. Iren dan Ollie pun serentak menengok.
“Halo Mas Nandy!”
“Hai.. eh selamat ya.. kalian udah berhasil ngelewatin masa-masa menyebalkan ini.”
“Menyebalkan? Masa sih? Masih ada tuh masa yang lebih menyebalkan. Jika harus di cekokin ujian-ujian aneh.” Ollie menggerutu.
“Hahaha.. bisa aja kamu Lie. Ke caffe dulu yuk, refreshing.” Nandy mengajak.
“Caffe, dengan bau badan yang kayak begini?”
“Udahlah nggak apa-apa, gak akan kecium kok, tempatnya gede.”
“Boleh sih, ayo. Mas Nandy naik apa.”
“Aku naik angkot.”
“Yaudah, naik mobil aku aja yah.”

Ya masa sih kalian ngebiarin gue naik angkot sendiri.

***


CheZZin!!
International Cafe and Restaurant


Begitulah nama yang terpampang di cafe bermodel heritage modern ini. Dari gedungnya aja, sudah tergambar suasana classic yang sangat bernilai.

Iren memarkirkan mobilnya, sederet dengan mobil-mobil mewah. Mungkin pemilik mobil mewah akan mengira bahwa salah satu ac disini tidak berfungsi, sehingga harus di service dulu, atau atap dapur yang kebetulan bocor, saat melihat mobil Iren yang terparkir disana.

Mereka masuk ke dalam cafe dengan dipimpin oleh Nandy. Ollie dan Iren celingukkan melihat ke sekitarnya. Semua perempuan yang keluar masuk hampir semua berparfum sungguh menyengat, serta-merta accesoris dan pasangan lelakinya. Mereka seolah menatap ilfill ke arah 3 pemuda berbau apek. Di hati Ollie dan Iren pun serasa ada yang mengganjal. Mereka mulai saling sikut-menyikut.

“Mas Nandy, aku gak tenang nih. Sampai kapan kita berjalan melewati mereka-mereka?” Iren membisik ke kuping Nandy.
“Sampai kita duduk disini.” Nandy menyentuh kursi dan langsung mendudukinya. Kursi dan meja berkaki tinggi yang terletak pas di depan sebuah panggung berisi alat-alat musik pemainnya.

Ollie dan Iren ikut duduk di kursi yang pas tersisa dua. Mereka kembali celingukan.

“Mas gak malu apa? Disini itu tempatnya orang-orang berkelas! Bukan anak bau kencur kayak kita.” Ollie
“Udah lah, kalian pada dengerin musiknya aja, keren-keren. Itung-itung buat cuci otak dari kejadian kemarin.” Emang keren-kerensih musiknya.

Nandy mengambil menu makanan yang sudah tertera di atas meja. Dan segera melambaikan tangan untuk mengharapkan seorang waitress datang. Tak berangsur beberapa menit, salah satu dari mereka menghampiri.

“What can I do for You?” disini semua penghuni memakai bahasa International. Bahkan cleaning service pun bergosip dengan bahasi inggris.
“Kalian mau pesen apa? Apa aja, kali ini aku yang bayarin.” Nandy menyodorkan daftar menu.

Ollie yang duluan menggapainya, mulai melihat-lihat. Iren nebeng. Nama makanannya aneh-aneh. Entah nama makanan dari manakah ini. Mereka nggak berani melihat harganya. Tapi Iren ingin menguji nyalinya. Hampir ia melihat satu angka dari beberapa angka di harga itu, sebelum akhirnya Ollie menutup buku menu itu.

“Ada Mi Rebus telor nggak?” Ollie bertanya seolah mengejek cafe CheZZin ini. Iren menyikut Ollie yang tak bisa menyembunyikan kehumorannya. “Aku bingung Mas Nandy, aku cukup teh anget aja deh.”
“Ollie....” Nandy masih tersendat-sendat setelah tertawa.

Ollie kembali membuka daftar menu di bagian minuman. “Ok, Soft Blue Berry.. apalah itu namanya.” Ollie yang hanya asal nebak, memberikan daftar menunya ke Iren.

Tapi langsung di tutup oleh nya. “Samain aja deh.” Iren mengoper ke Nandy.

“Well, two ‘Soft Blue Berry’ and one ‘Hot Cappucino’.” Nandy berbicara pada waitress. Waitress itu pergi setelah membacakan kembali minuman-minuman yang baru di pesan.
Plok-plok-plok...

Sebuah grup band baru selesai dengan pertunjukannya. Seluruh pemain me-nuruni panggung disertai dengan tepuk tangan para pendengarnya, termasuk tiga remaja tadi. Seseorang yang baru turun dari panggung, datang menghampiri Ollie, Iren, dan Nandy.

“Woi bro! Bawa cewek lo sekarang.” Orang itu menepuk bahu Nandy.
“Temen. Ya.. tepatnya mereka junior gue di kampus.”
“O.. Junior. Hei, I’m Ruben.” Ruben menyodorkan tangannya. Pertama ke Ollie, orang yang dia anggap paling muda.
“Ollie.” Ollie dengan sigap menggapainya.

Seperti yang diperkirakan, tangan Ruben berpindah menggapai tangan Iren yang sudah duluan menyodorkannya. “Iren.”

Nama itu seakan meleleh di kuping Ruben. Tangannya lembut, suaranya lebih lembut. Ruben terpesona dengan Iren. Sepertinya ini sebuah tanda.

“Ehemm.” Ollie menyadarkan Iren dan Ruben yang sudah 5 detik berjabat tangan sambil berpandangan. “Lama banget pegangannya.”

Lantas mereka berdua menarik tangannya kembali. “Sorry.” Ruben membalikkan badannya untuk mengambil sebuah kursi dari meja lain, dan membawanya kesini.

“Udah lama lo gak kesini Nand.” Ruben diam saat seorang waitress datang mengantarkan minuman. “Ngapain aja, setahu gue kerjaan lo belakangan ini Cuma nongkrong di sini sambil minum Hot Cappucino.” Sanggahnya sambil mengangkat segelas Hot Cappucino milik Nandy. Tanpa minta izin, Ruben langsung menyesapnya. Nandy pun tak rela, dia menarik gelas itu. Biasanya kalo Ruben udah ngambil barang miliknya, sulit untuk berharap akan kembali.

Ruben adalah sahabat Nandy yang terbilang paling dan sangat dekat. Belum lama sih, kira-kira sekitar 2 tahun lalu. Nandy memergoki Ruben sedang transaksi obat-obatan terlarang di sudut kota Bandung.

Ruben nekat ingin mencoba obat-obat itu karna tidak sanggup memenuhi kemauan orang tuanya. Mereka memaksa Ruben untuk melanjutkan kuliah dalam bidang hukum, sementara dirinya lebih memilih untuk bermain musik. Waktu itu umurnya masih 18 tahun. Dia kabur dari rumahnya karna merasa terkucilkan oleh saudara-saudaranya. Tapi dia juga tidak tau mau memperdalam hobinya ini kemana. Tak salah lagi, Nandy lah yang melamar Ruben di CheZZin. Dan sampai sekarang dia menjadi salah satu andalan caffe ini dalam bermain gitar.

Kembali ke suasana di caffe.

“Gue sibuk mikirin Ospek belakangan ini.” Nandy menjawab. “Gimana jalan-jalan ke ...... nya?” Kira-kira baru kemarin Ruben balik dari kota itu.
“...... ? Yang bener?” Ollie langsung tertarik. Jelaslah, disitu tempat Joni berkuliah. “Asyik banget sih, ngapain aja?”

Iren menyikut tangan Ollie pelan. Segitu kagetnya apa? Mentang-mentang ada Joni disana.

“Disana gue pentas, bukan gue doang sih, hampir satu DubZZ. Namanya juga caffe International. Semuanya di bayarin deh.”
“Oh ya.. ketemu sama Jon.. mm maksud aku Justin Timberlake nggak?”
“Kebetulan waktu itu dia nonton. Huh banyak cerita nih......” Ruben memulai ceritanya “Bla..bla..bla..”

Entah kenapa Ollie jadi gak konsen dengerin cerita Ruben, padahal dari awal dia yang paling semangat kalo denger cerita tentang Justin Timberlake. Tiga detik setelah cerita di mulai, Ollie mendengar seseorang mendentingkan piano di atas panggung. Sebernya dari tadi piano itu sudah berdenting. Tapi lagunya beda. Mungkin kalo hanya suara piano biasa, dia masih bisa mendengar cerita Ruben, tapi suara ini begitu masuk ke dalam hati Ollie. Dia sungguh terpesona.
Ollie membalikkan badannya bermaksud ingin melihat siapa pemainnya. Baik cowok maupun cewek. Umur 10 tahun atau 80 tahun. Tapi tak terlihat. Yang Ollie lihat hanya sebuah Grand Piano. Pemainya terhalang. Ollie mengernyitkan kening. Masa dia harus medekati piano itu, hanya untuk melihat pemainya.

Lagu itu masih bermain. Tak pernah Ollie sampai seterkesan ini. Apa lagi Ollie mempunyai kenangan tak mengenakkan tentang piano. Ollie dulu pernah kursus piano. Tapi dia merasa tidak pd saat melihat gurunya itu, benar-benar ahli dalam bermain piano. Semenjak itu dia sangat sakit hati bila melihat orang bermain piano.

Setelah +/- 5 menit lagu itu dimainkan, pemainnya berdiri, memberi hormat tanda selesainya lagu. Semua bertepuk tangan, termasuk Ollie, tidak termasuk Nandy, Iren, dan Ruben, mereka masih asyik berbincang. Pianis itu menuruni panggungnya. Dia seorang laki-laki. Belum tua. Sepertinya masih seumuran dengan Ollie. Wajahnya tak terlihat, dia memakai kupluk berwarna putih, dan bertali. Aneh, biasanya pianis-pianis yang pernah Ollie lihat, semuanya memakai Jas dan berdasi. Sedangkan dia hanya memakai sweater abu-abu, blue jeans, dan sneakers. Apalagi di padukan dengan kupluknya. Tubuh Ollie gemetar saat melihat dia turun ke belakang panggung.

“Hua.. ha.. ha.. ha..” Iren, Nandy, dan Ruben tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Suara mereka jelas membuat Ollie sedikit terlompat dari tempat duduknya. “Gila, gokil abiss. Haha.” Iren masih terpingkal-pingkal.
“Kenapa sih?” Ollie bertanya kepada siapa saja yang mau menjawab.
“Kenapa? Emangnya kamu gak dengerin Lie?” Nandy balik nanya.

Ollie perlahan-lahan menggeleng.

“Sorry, gak ada siaran ulang.” Ruben meledek.
“Tadi aku terlalu serius dengerin suara piano.” Ollie memelas. “Ben, ngomong-ngomong tadi siapa sih yang main piano?”

Ruben berpikir sejenak. “Yang mana?”

“Baru aja tadi selesai.”

Ruben menatap jam tangan nya, tertanda jam 8.39. “Hmm.. setengah sembilan. Anak itu ternyata udah pentas.”

“Ooow.. anak Japannesse itu ya?” Nandy memastikan.
“Japannesse? Namanya doang yang terlalu ngayal. Tampangnya Indonesia sengak banget.”
“Emangnya kenapa Lie? Tadi gue juga sempet dengerin lagunya.” Iren
“Gue mah makasih deh.” Ruben mengangkat tangannya. Sepertinya dia benci dengan orang itu.
“Aku kebawa banget sama musik itu. Aku bener-bener seolah terbang waktu dengernya.” Ollie menggambarkan perasaanya.
“Cie.. yang lagi terbuai nih.”
“Namanya siapa sih Ben?” tanya Ollie lagi.
“Keiwataru Takainuchi. Puass?”
“Kalo panggilannya?”
“Nggak penting banget sih nanya gituan.”

Ollie tak menanggapi ketidak sediaan Ruben untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dia masih menatap ke arah panggung, berharap pemuda tadi akan kembali. Sambil menyedot soft blue berry yang ia pesan tadi, tetes demi tetes ia keluarkan dari sedotan, dan baru lima tetes minuman itu menyentuh lidahnya..

Burrrr...

Ollie tanpa perasaan bersalah, menyemburkan minuman (lebih tepatnya ludah) itu ke Ruben yang berada tepat di depannya. Dia langsung menampakkan tampang kepanikan dan kepahitan.

“Kenapa lo Lie?” Ruben mengusap wajahnya yang penuh dengan cairan berwarna biru tua. Nandy dan Iren kembali tertawa.
“Wek.... minuman apaan nih?” Ollie menjulurkan lidahnya.

Iren mencicipi minuman yang satu menu dengan minuman Ollie, dia malah tak sampai 2 tetes mencicipinya. Dia sudah menjulurkan lidahnya, sama seperti Ollie. Iren menatap Nandy minta penjelasan.

“Ya orang itu alkohol, gue kira dari tadi lo pada emang minum gituan?”
“WHAT” Ollie dan Iren bersamaan.
***

Matahari sudah tinggi di atas para mahasiswa UPB yang berjalan kemana kemari. Kesibukan di sana sudah terasa lagi. Ada yang bener-bener mau belajar, main, pacaran, bahkan yang sekedar minjem lapangan olahraga. Mahasiswa/i disini memang tak setaat yang dipikirkan.

Termasuk Iwat. Mahasiswa semester 3 yang mengambil Tekhnik Elektro ini, sudah terkenal di kalangan dosen sebagai The Danger Student. Sudah berkali-kali dia mendapat surat peringatan, sudah berkali-kali dia berada di ujung tanduk D.O. Cukup banyak alasan kenapa Iwat dijuluki The Danger Student. Pertama, tukang ribut di kelas. Dan kedua, bila dia sudah mengamuk, tak kenal siapapun yang akan dianiaya, dosen pun jadi. Tapi alasan Kampus untuk tidak men D.O. nya juga tak kalah kuat. Prestasinya tak sedikit. Dia selalu mendapat peringkat pertama di setiap semester. Bila ada olimpiade, dia-lah incaran utama.

Siang ini Iwat masih berada di kampus. Dia sudah berkali-kali berjanji pada dirinya untuk tidak lagi meninggalkan kelas. Dan setiap dia berpikir seperti itu, ada saja alasan tak masuk akal yang membuat dia malas masuk kelas. Lagi beres-beres kamar, nganterin temen yang kecelakaan, nemenin kakak belanja, atau menghadiri pemakaman orang yang sama sekali tak ia kenal. Padahal alasan-alasan itu hanya untuk menutupi ke jenuhannya bertemu dosen yang selalu ia kutuk.

Seperti halnya pagi tadi, dia membolos hanya karna ingin makan soto Bu Bariyah yang jelas-jelas lebih enak di nikmati pada malam hari.

Iwat berjalan dengan tenang disekian banyak orang yang mondar-mandir karna takut terlambat masuk kelas. Dengan tas selempang, celana 7/8, kaos lengan panjang, dan sepatu sneakers andalannya, Iwat berjalan dengan bawaan cool nya. Dia selalu menjadi idola para cewek-cewek di sana, dan 90% penggemarnya itu juga menjadi cewek incaran para lelaki malang di kampusnya. Tapi menjadi idola di sini malah membuahkan bencana baginya.

Simaklah apa yang terjadi siang ini..
“Iwa....t. Duh, kamu kok susah banget sih dicari, dari mana aja?” itu Mia, salah satu pengemarnya. Dia doyan makan, tapi badannya kurus sekali. Itu lah yang memperjelas kandungan cacing yang bebas berenang di dalam perutnya.
“Nggak dari mana-mana kok.” Iwat memaksakan senyumnya.
“Wat, makan bareng di kantin yuk.”
“Iya duluan aja, nanti gue nyusul.” Iwat pergi.

Di tempat lain...
“Assalamualaikum, A’ Iwat.” Yang ini Siti, cewek paling alim yang pernah menjadi idola Iwat. Liat aja, dia selalu manggil Iwat dengan sebutan A’a, padahal jelas-jelas lebih tua-an dia dibanding Iwat.
“Walaikumsalam, Sit, kalo mau nanyain tentang ka’idah-ka’idah agama, tunggu gue di kantin aja deh.” Iwat pergi.

Di tempat lain lagi...
“Hei..... kamu lagi sibuk ya, say.” Ini nih yang paling di gemari cowok-cowok di sini, Chintya, cewek berbadan eksotis ini selalu membuat Iwat merinding jika berada di sampingnya.
“Eh.. eh.. aduh.. duh.. tunggu dong Chin, jangan di raba-raba.” Iwat men-coba melepaskan belaian tangan Chintya dari tubuhnya. Bahaya.
“Say.. nanti malem mau kencan sama aku gak?”
“Ok.. ok, kita bicarain ini di kantin.” Iwat pergi.

Di tempat lain lagi-lagi...
“Woii.. Iwat!! Sini lo!! Kita mesti lanjutin pertandingan kemarin. Kemaren emang gue kalah, tapi nggak untuk sekarang!” Kekey, cewek sangar berbadan atletis yang gak henti-hentinya ngajakin Iwat tanding basket.
“....” Iwat tak bisa berkata-kata.
“Ah, cemen banget sih, kalo udah siap, jemput gue di kantin ya!”
Iwat berjalan menjauh tanpa perintah dari otaknya.

Kira-kira 2 meter dari tampatnya berdiri...
“Ehhmmm.. ehmm.. Iwat, mau gak kamu pacaran sama aku?” cewek ini yang paling Iwat benci, Vika, terlalu to the point, dan ke pd-an, udah 9 kali dia nembak Iwat secara langsunf. Iwat kenal dia juga karna dia nembak Iwat. Dan sebelumnya, merasa ketemu aja kagak.
“Enggak!!!!” Iwat kasar dan menjawab mantap. Mantaps.
“Ah bo’ong, pikirin lagi dong. Vika tunggu jawabannya di kantin ya..” Vika pergi menjauh dengan tampang berseri-seri.
“Anjrit.”
Masih berdiri emosi disitu.
“Iwat..”
“Siapa lagi sih?” Iwat menengok gemas ke arah datangnya suara. Ternyata dia bukan perempuan. Dia Dean, cowok terdeket Iwat di kampus. Dean itu tak lain adalah temen satu jurusannya Iwat. “Eh lo, knapa?”
“Lho, mestinya gue yang nanya ‘kenapa’.”
“Capek gue lama-lama ngehadapin yang namanya cewek.” Ya.. seperti yang pernah di bahas, Iwat itu nggak pernah tertarik sama cewek, apalagi sampai jatuh cinta. Pengalaman pacaran sih pernah, tapi itu hanya untuk ajang coba-coba, baru 2 hari jadian, putus, paling lama waktu pacaran Iwat hanyalah 3 hari. Satu lagi, Iwat ini juga di kenal dengan tukang mainin cewek. “Gue mesti gimana ya supaya bisa bebes dari cengkraman mereka.” Iwat mengacak-ngacak rambut jabriknya.
“Hahaha... emang takdir lo kali. Gue pengen makan nih, temenin ke kantin dong.” Iwat menuruti kemauan Dean tanpa berpikir lagi apa yang akan terjadi disana.

Di kantin yang bising..
“Nyet, kita dimana?” tanya Iwat gelisah.
“Di kantin lah.” Jawab Dean santai.
“KANTIN...?”
“IWWWAAAA.....TT!!!!!!” segrombolan kuntilanak berlari mengejarnya.

Malang memang harus di hadapi. Tapi mungkin dia kurang mensyukuri kelebihan tampang yang dimilikinya. Hingga kelebihan itu dapat menjadi bencana.

Untung Iwat masih sempet lolos dari cewek-cewek di kantin tadi. Ini tak sepenuhnya berkat Dean. Dari tadi, disana dia hanya sedikit berusaha melepaskan Iwat dari panggilan-panggilan aneh, selebihnya dia tertawa terpingkal-pingkal bahkan terguling-guling.

Iwat memasuki kelasnya. Dia terlambat 10 menit. Jelas lebih cepat dari biasanya yang bisa masuk 30 menit setelah kelas dimulai. Untung saja kali ini dosennya belum dateng. Iwat mengambil kursi paling belakang, karna kursi bagian depan sudah dipenuhi oleh anak-anak sok pinter yang hanya ingin mendapat pujian karna kesan seriusnya dalam pelajaran. Lagi pula duduk di kursi belakang memang incaran Iwat sejak pertama kali masuk. Dia bisa leluasa makan permen karet, bikin balon dari permen karet, nempelin permen karet di bawah meja, dan tidur. Hip..hip..horrey.

Dia duduk pas di sebelah seorang cewek. Kebetulan ada sesuatu yang ingin di tanyakan.

“Sssst.. cewek. Sst.” Iwat memanggil.

Cewek itu menengok, lalu tersenyum seolah berkata ‘Ada apa’. Iwat sedikit geli menatap senyumnya itu. Sepertinya ini tanda-tanda akan bertambahnya fans Iwat.

“Lo tau gak, kenapa cewek itu Cuma tertarik sama cowok?” pertanyaan nggak jelas yang bisa bikin alis perempuan naik karna matanya yang makin membesar.

Cewek tadi mengernyitkan dahi, dan memutuskan untuk membaca kembali buku yang ia pegang, tanpa harus menjawab dulu pertanyaan yang baru saja Iwat ajukan.

“Oi, bisu ya? Jawab dong kalo lo masih merasa seorang cewek.”
“Cowok waras biasanya masih bisa mikir.” Dia membereskan berbagai pe-ralatan di mejanya, dan bergegas mencari tempat duduk lain untuk menjauhi Iwat.
“Dodol.” Iwat membuka sebuah buku tulis dan mengambil pulpen dari saku celananya. Dengan perasaan yang masih jengkel, dia menulis.. ‘Janji, kalo udah lulus nanti, gue bakal lebih memilih nikah ama cowok..’.

Iwat melepaskan selembar kertas itu dari bukunya. Sejenak ia memandangi dahulu potongan kertas itu. Lalu ia meremasnya, dan melemparkannya kemanapun tulisan itu akan menampakan dirinya.

Selama beberapa detik kertas itu melayang, lalu ia memutuskan untuk kembali mendarat. Tepat disaat Pak Mahmud, seorang dosen yang mempunyai tugas untuk mengajar, memasuki ruangan.
Pluk..

Kertas itu mengenai kepalanya. Pak Mahmud mengambilnya. Ia tentu tertarik untuk segera membacanya, lalu..

“Siapa yang bertanggung jawab atas ini?”

Pak Mahmud sport jantung secara berlebihan yang hampir membuat dirinya tergelepar di lantai, ketika terlihat semua telunjuk mengacung ke Iwat.
***

Lain lagi dengan Ollie, ini saat pertamanya ia belajar di kampus. Tentunya tak banyak yang sudah ia ketahui tentang hidup anak kuliahan. Sedikitnya pengetahuan yang ia ketahui bahwa anak kuliahan itu wajarnya sudah memiliki gandengan, atau wajibnya sudah mulai mencari.

Jam segini, saatnya Ollie untuk bersantai menikmati ke indahan orang-orang di kampus. Kelas pertama Ollie baru selesai 1 jam yang lalu, dan masih butuh beberapa menit lagi untuk kelas berikutnya. Selama waktu kosong ini, Ollie hanya mengisinya dengan membaca buku di bawah sebuah pohon diantara pohon-pohon rindang lainya.

Hanya membaca buku.. ya, buku yang baru kemarin di belikan oleh Iren di toko buku sepulang dari CheZZin. Mungkin kalo cuma novel atau komik, Ollie akan membelinya sendiri, tapi kalo buku tentang ‘tips tips baik melupakan dia’ Iren yakin, Ollie tak akan menyentuhya. Tadinya Ollie juga tak mau menerima buku yang mempunyai judul ‘White Broken’ itu, ngapain juga Ollie nyimpen barang gituan. Kalo Cuma tips seperti itu, gak bakal di ambil hati olehnya. Tapi mungkin Iren terlalu ngebet nyuruh Ollie untuk se-cepetnya ngelupain Joni. Secepetnya bahkan setelah menamati buku itu, perasaan Ollie akan langsung hilang terhadap Joni.

Dari tadi ia memegang buku itu, tak ada satupun kalimat yang dapat ter-cerna dengan baik. Yang ia perhatikan hanyalah cover bukunya yang berwarnya merah marun kombinasi pink dan putih dengan gambar sebuah cocholate heart yang terbelah dua. Selain cover Ollie juga memperhatikan penulisnya.

Kalika Noerin Mentari, nama yang terpampang di dalam profil penulis. Dia menulis buku ini dengan harapan ingin menyadarkan orang-orang yang frustasi karna patah hati, tanpa harus menghancurkan hidupnya sendiri. Dengan jujur dia mengatakan sudah tiga kali menjalin hubungan dan tiga kali kandas di saat mereka mulai serius. Yang pertama, cowoknya harus pergi mengikuti kemauan orang tua untuk mempersunting orang lain. Yang kedua, tiba-tiba saja minta putus tanpa alasan yang jelas, dan baru ketahuan 3 hari setelah mereka putus, ternyata cowoknya itu udah selingkuh semasa mereka masih pacaran. Dan yang ketiga, meninggal karna kecelakaan maut.

Sangat menyedihkan pastinya. Ditinggal oleh orang terkasih secara tiba-tiba. Setelah membaca penggalan cerita ini, Ollie jadi berpikir akan ke pergian Joni selama ini. Apa mungkin dia ke Amerika untuk menemui jodoh yang telah dicarikan oleh ayahnya. Mungkin juga dia sengaja lari ke Amerika bersama cewek selingkuhannya untuk menjauhi gangguan Ollie. Atau... Hhhh sudahlah, Ollie tak akan memaksa untuk berpikir negatif tentang Joni.

Ollie menaruh buku itu di atas pangkuannya. Dia melirik kesekitarnya hanya sekedar untuk menjauhkan anggapannya tadi. Gerakan mata Ollie terhenti pada pohon di seberang pohon yang lagi di tongkrongin Ollie. Laki-laki berkemeja panjang kotak-kotak dengan kancing yang tak terlewatkan, celana jeans, rambut jamur, dan kacamata berukuran super dengan tebalnya yang mungkin mencapai ½ cm, sedang duduk dan sepertinya memperhatikan Ollie.

“Ha..ha..ha..” Ollie terbahak menatap keculunannya. Siapa sangka, orang yang dimaksud itu berjalan mendekati Ollie, tentu saja Ollie jadi gak tenang melihat langkah demi langkah orang itu saat berjalan mendekat.
“Permisi.” Orang itu memulai pembicaraan. “Apakah saya bisa...”
“Ire...n!!!” Ollie memotong kalimat orang aneh itu saat dia melihat Iren sedang berjalan di depan tak jauh dari tempat Ollie duduk. Kebetulan sekali ada Iren di situasi yang nggak jelas kayak gini. “Permisi.” Ollie segera berlari meninggalkan Orang tadi dan mendekati Iren.
“Hei Lie! Kenapa lo? Kok kelabakan gitu.”

Saat ditanya, Ollie langsung memindahkan pandangannya ke orang tadi, dia juga menatap Ollie sambil nyengir-nyengir dan memamerkan giginya yang berbehel. “Hiiiyy.” Ollie sedikit menggetarkan kepalanya.

“Kenapa sih Lie?”
“Itu, ada orang aneh yang nyengirin gue mulu.”

Iren memandang kemana telunjuk Ollie mengarah. Tanpa harus di deskripsikan lebih jelas lagi, Iren sudah dapat menemukan orang yang dimaksud, orang aneh yang lagi ngeliatin Ollie. “Haa..h. maksud orang itu apa’an?”

“Mana gue tau. Tiba-tiba dia ngedektin gue sambil senyam-senyum gitu. Gimana gue nggak ngeri tau nggak.” Ollie berbisik di telinga Iren. Dia mendorong tubuh Iren disertai lari kecil kakinya. Mereka berlalu meninggalkan orang gila yang ternyata bukan satu-satu nya hidup di kampus ini.

Setelah jauh berjalan dari tempat tadi..

Di tempat ini Iren kembali membicarakan soal pertemuan Ollie dengan cowok ingusan. Rambut poni jamur. Behel warna coklat di gigi. Kacamata yang melebihi kapasitas wajah. Dan pakaian era bokap Ollie di jaman dulu.

“Hahaha... sumpah, tuh anak udah jadi model calon kriminalwan (apalah itu namanya) yang udah gak punya lagi harapan sebuah masa depan yang ceria. “Kok bisa cowok berparas kutu yang melekat di buku itu merhatiin lo.”
“Itu bukan kutu buku lagi, tapi jamur di buku.” Ollie meralat.
“Baru tau gua ada jamur yang mau tumbuh di buku.”
“Ya contohnya dia. Udah lah Ren, bosen gue. Ganti topik!”

Ollie dan Iren memasuki kantin, lalu duduk diatas salah satu kursi kantin itu. Selama perjalanan, sudah banyak topik yang mereka bicarakan. Mulai dari saling menukar memori mereka tentang kehidupan di SMA dulu. Menjelek-jelekan saudara kandung sendiri. Mengungkit gosip-gosip seleb tadi pagi. Sampai memperserbasalahkan kejadian impor tomat busuk dari Singapur ke Indonesia.

“Bagaimanapun juga, itutuh salah Singapur, ngapain dia Impor tomat busuk kesini.” Sanggah Iren.
“Ya emang, tapi mungkin Singapur gak tau kalo tomat yang dia Impor itu busuk semua.”
“Ok, mungkin juga wak tu di pak tomat itu belum busuk.”
“Nah. Dan jadi busuk karna kelamaan diperjalanan, atau karna faktor cuaca yang tak memungkinkan untuk kemakmuran tomat-tomat itu.”
“Hmmmm.. tapi Lie, masa segitu begonya Singapur ngirim tomat kesini, padahal mereka harusnya udah tau kalo tomat itu nggak bakal bertahan lama-lama, apalagi kalo nganterinnya Cuma pake kapal.” Iren memprotes. “Lagi pula gue baru denger kalo di Singapur punya kebun tomat yang makmur, sampe-sampe Indonesia minta dikirimin segala. Padahal jelas-jelas Indonesia itu punya bejibun tomat seger di setiap kebunnya.”

Hening, Ollie menahan tawanya.

“Tuh kan, gue kena kibul lagi deh.”
“HaHaHaHa....”
“Kamprettt!!!” Iren menggelitik tubuh Ollie, sebentar sebelum dia me-nemukan sebuah buku di tangan Ollie. Iren menarik buku itu, lalu me-mandanginya. “Ternyata lo mau baca buku ini juga, Lie?”

Ollie dengan sigap merebutnya.

“Nggak usah di sembunyiin, lo emang mau ngelupain Joni kan?” Iren mengeluarkan nada menuduhnya. “Udah sampe pelajaran yang mana?”
“Oh iya, jam segini gue ada kelas. Udah dulu ya Ren, gue gak mau telat nih.” Ollie panik meninggalkan Iren dan kepenasarannya.

***

BAB IV - Segitunya..

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9.25, bunyi dengkuran dari kamar Ollie mulai terdengar. Gak biasanya jam segini Ollie udah tidur. Sehabis makan malam, Ollie langsung merebahkan badan mungilnya di atas kasur berisi kapuk-kapuk yang menggempal di beberapa bagian. Layaknya debu-debu yang mulai menyumbat hidungnya.

Niat hati Cuma mau tidur-tiduran doang. Apa daya raga tidak kuat. Lupa matiin lampu dan radio kecil yang di bawanya dari rumah. Hmm mungkin inilah dampak keenakkan tidur di atas kasurnya orang kaya.

“Ollie......!”, seseorang membuka pintu kamar tanpa mengetuk lagi. Dan sedikit kecewa ketika melihat sang gadis cantik telah tertidur lelap dengan posisi yang memalukan. “Yah, udah molor. Baru aja pengen ngobrol.” Suara ngorok itu terdengar lebih jelas.

Sekejap saat seseorang mengucapkan kata terakhirnya, Ollie terbangun dari tidur Cuma-cumanya. Ollie yang kaget ketika melihat wanita berpostur supermodel berdiri di dekat pintu seperti malaikat yang akan mencabut nyawanya (lho).

“Ngg syapa ya...? Masuk-masuk-mhwaaaaaw. Hmmm.”, Ollie sambil mengucek-ngucek matanya dan menguap dan yang paling di benci : bau iler.

Orang itu tersenyum-senyum melihat Ollie yang menatap dirinya dengan posisi kepala jungkir balik. Ollie masih mencoba untuk bisa menegakkan kepala dan berusaha memfokuskan kesadarannya yang baru konek 50 %.

“Eh-eh-eh..”

BRUKK

Hasilnya : dia harus rela untuk pindah tempat tidur dari kasur berkapuk menjadi lantai penuh keramik. Benturan cukup keras di sekitar tubuhnya membuat memori kepala Ollie lebih sempurna. Ollie mendongak dan menatap sang sepupu yang tertawa terjungkal-jungkal di samping pintu. “Teh Tia..!!!”

Itulah nama panggilannya. Gadis dewasa berumur 22 tahun ini adalah satu-satunya sepupu kandung Ollie yang tinggal seatap dengan nenek bersama kedua orang tuanya. Padahal sepupu Ollie bisa lebih dari 10 orang, tapi mereka semua sudah tersebar-sebar di hampir seluruh pelosok Indonesia. Ada yang di Jakarta, Yogya, Bali, Papua, bahkan di Melbourne (berharap ia menjadi salah satu anggota Indonesia). Yang di Bandung juga ada, tapi biasanya mereka cari kos-an sendiri. Kini Tia juga sedang berkuliah di salah satu Universitas negeri di Bandung.

“Ya ampu..n. Kalo mo tidur atuh di matiin lampunya.”

Cklik. Tia mematikan lampu.

“Jangan di matiin Teh, mau ngobrol dulu dong.”

Cklik. Lampu kembali menyala. Tia mendekati Ollie yang sudah berdiri walau masih lemas dan kembali menaiki kasurnya. Hup. Keduanya melompat ke atas kasur dan meluangkan 3 detik untuk berpelukan sekedar melepas rindu.

“Dari mana aja teh? kok jam segini baru pulang.”
“Hehe.. jalan-jalan sebentar dari kampus sama ‘temen’.”
“Temen?”
“Iya, mang napa?”
“Temennya dalam tanda kutip, kan..”
“Hhhh.. hayang seri!! Ollie sendiri gimana, dah ada belum?”

Tiba-tiba tenggorokan Ollie tak mengizinkannya untuk berkata dalam be-berapa detik. Namun akhirnya dia bisa bernapas kembali dengan tenang. Kini di otaknya hanya ada wajah Joni yang tersenyum. Dan memanggil-manggil namanya dengan suara yang semakin tersekat. “Mmmnggmmmngg.. belum.”
“Ya ampun, kok serius amat. Ollie kan masih kecil, belum punya mah wajar. Tapi tenang aja, Ollie kuliah di UPB kan? Disitu banyak cowok seger lho.”

Hehe..

***
Pagi hari yang sejuk di rumah nenek. Ollie membuka pintu kamarnya. Sejenak dia berdiri mengucek-ngucek mata yang masih merah dan ber-belek. Dia celingak-celinguk memandangi keadaan di sekitarnya, masih saja seperti kemarin malam.

Ini adalah pagi pertamanya di rumah nenek setelah dua tahun gak pernah lagi. Di rentangkan tanganya agar lebih bisa merasakan aroma sejuk yang dihadirkan oleh udara pagi di luar sana.

Hm.. masih jam 6 pagi, ngapain gue bangun jam segini. Ollie menatap jam tangan yang masih menempel di pergelangan tangannya.

“Huacchhhhi......h!” semburan air liur keluar dari mulutnya.

Ollie akan mencoba untuk bisa lebih beradaptasi dengan udara di sini. Setiap dia kerumah nenek, pasti harus mengalami yang namanya ‘hidung tersumbat ingus’. Kini Ollie mengucek hidungnya. Mungkin karna debu-debu yang menghiasi dinding kamarnya.

Ollie berjalan menuju meja makan.

“Pagi nek.” Salam pertama yang ia ucapkan kepada neneknya yang sedang beres-beres dapur.
“Pagi geulis. Udah bangun. Makan dulu sana.”

Mereka sama-sama berjalan menuju meja makan. Disana udah ada Uwak Didi dan Uwak Ning, dan juga sebakul nasi goreng di sertai teman-temannya. Ollie mengambil 2 centong nasi goreng dan sepuntung pentungan goreng yang sangat lezat (pikirkanlah apa yang di maksud).

“Huacchhhhi......h!” tidak sedikit semburan air yang mendarat di atas calon pengisi perutnya. “Alhamdulillah”
“Ollie pilek lagi?”
“He’eh”
“Kurang adaptasi doang kok.” Uwak Didi meremehkan.
“Ini mah namanya bukan kurang adaptasi lagi. Tapi kurang bersih.” Uwak Ning nyeletuk.
“Ollie nggak pernah lupa mandi.” Ollie melahap makanannya.
“Bukan kamu yang kurang bersih. Kamar kamu itu terlalu berdebu.”
“Huacchhhhi......h!” bersin lagi. “Ollie makan di luar aja ya... gak enak kalo bersin-besin terus di sini, jorok.” Ollie menjauh dari tempatnya duduk setelah mendapat anggukan dari semua makhluk yang ada di meja makan (mungkin nggak termasuk semut-semut liar). Dia masih berjalan ke pintu luar, sampai akhirnya tiba juga di teras depan rumah. Kemudian ia duduk di atas.. tempat duduk pastinya, atau lebih cocok dibilang kursi. Dan melanjutkan makan sambil sedikit bersin-bersin, juga sambil celingukkan melihat apa yang ada di depan matanya, tepatnya 2 rumah yang di sewakan menjadi kamar-kamar kos.

Ups...

Celingukkan mata Ollie terhenti ketika melihat sesosok lelaki beserta se-orang temannya sedang mengobrol ria. Ollie mengerti sekarang. Arti celingukan-nya tadi adalah untuk menemukan dia.

Iwat.. Iwat.. kenapa gue mesti ketemu lo lagi..

Iwat menatap Ollie, tatapannya tak sampai sedetik sebelum ia membuang mukanya. Begitu halnya Ollie, dia tetap konsentrasi terhadap makanan-nya. Iwat dan temannya melanjutkan obrolan. Tiba-tiba saja mereka tertawa, dan teman Iwat menatap singkat ke Ollie. Pasti Iwat sedang ngomongin Ollie. Entah mem-permalukannya atau memperburuk keadannya.

“HEH TANTE, JAM SEGINI EMANG WAKTUNYA NGEGOSIP YA!!!!!!” Ollie membanting piringnya di atas meja kecil samping kursi. Sementara di sebrang sana, mereka menyempatkan tubuhnya untuk sementara mengalami kekagetan. Iwat berdiri dan tersenyum licik.

“Ada cairan bening tuh kluar dari idung lo. Ha..ha..” Iwat dan temannya kembali tertawa. Refleks Ollie mengelap hidungnya, gak sadar, ternyata memang ada.

“Huacchhhhi......h!”

Iwat.. Iwat.. Kalo gini terus, gimana gue bisa akur sama lo..

Ollie gak mau diem aja, jayus gak jayus, dia harus bales.

“Woi darah kentel lo masih ngalir, mau adu jotosan lagi gak?” Ollie senang ketika masih bisa melihat perban di hidung Iwat hasil dari kenakalannya.

Iwat kembali tertawa. Menatap Ollie lagi dan menaikkan bahunya seolah ber-kata ‘terserah lo aja deh’. Dia masuk ke dalam rumah kos, disertai temannya yang didahului dengan mengedipkan sebelah mata ke arah Ollie.

Iwat.. Iwat.. Kenapa nama lo mesti Iwat, enek tau gue dengernya..

***

“Asyik.”

Sebuah kata yang di ucapkan Ollie ketika mengetahui bahwa kamarnya ini akan di cat ulang oleh Uwak Didi. Hihi.. mungkin karna gak tahan kalau mesti ngeliat Ollie terus menerus yang slalu diwarnai oleh hidung merahnya. Ya semoga saja dengan barunya warna cat, otomatis volum debu yang menyebar akan ber-kurang.

Sudah cukup lama dia bernyanyi di dalam kamar, sambil mengemas kembali barang-barangnya untuk sementara di pindahkan keluar. Setelah menyadari seluruh barang telah berada di luar, dan perabotan-perabotan di dalam sudah di balut oleh koran, Ollie mulai melepas big poster ber gambar Justin Timberlake.

“Oh my prince.. I love u.. I love u.. I love u..” Ollie merangkai kata-kata dan menjadikannya sebuah nada yang menyilaukan telinga bagi pendengarnya, sambil mencium-cium foto Justin, dia melakukan gerakan-gerakan menyerupai sebuah tarian yang menyilaukan mata bagi penatapnya. “I promise.. my love is just for u.. just for u.. I promise.. OOOOHHHppp..” seluruh perbuataan Ollie saat itu terhenti seketika Ollie melihat ada seorang lelaki yang berdiri mematung di depan pintu sedang membawa 2 kaleng cat beserta peralatan lainnya untuk mengecat. Posisi Ollie kini sungguh memalukan, mengangkat poster di tangannya sambil berdiri memakai satu kaki seolah seorang balerina. Secepat mungkin dia menaturalkan tingkahnya.

“Iwat.. ngapain lo disini?”
“Udah 3 menit gue disini.” Iwat cengingisan.
“Berarti lo...”
“Ya... Oh My prince I love u.. I love u..”
“Shut UP!!!” muka Ollie memerah.. sangat merah.. mungkin dapat di gambarkan seperti udang rebus. “Ngapain sih lo disini?”
“Dapet amanat dari Uwak Didi untuk ngecat sebuah kamar, beliau sibuk hari ini.” Iwat mulai memasuki kamar Ollie setelah memastikan bahwa kamar inilah yang layak untuk di cat ulang. Sambil menaruh semua peralatan, Ollie membuka kaleng cat. “Yacksss pink... kenapa milih warna pink, inikan just for girls”
“Woi.. hallow.. gue ini termasuk cewek kan?”
“Iya apa.. cewek sekasar lo? Lebih pantes di sebut cewek jadi-jadian.” Sambil mengecat .
“Gue tau gue salah, makanya ma’apafinin gue dong, gue khilaf waktu itu.”
“Bagus lah kalo nyadar.”
Mereka tak berkata sejenak. Rasanya Ollie mulai jengkel lagi.
“Bukan mestinya gue doang yang minta maaf sama lo. Lo juga kok yang main api, ngapain ngelempar tas gue.”
“Salah sendiri ngejudesin gue, kan gue udah bilang sorry.”
“Lagian lo nubruk gue! Untung aja nggak ada tulang yang patah.”
“Makanya jalan itu pake mata!”
“Dibilangin gue nggak bisa jalan pake mata, mata gue itu ada di kepala, masa gue mesti jungkir balik?”

Udah la...h kok jadi nge rewind kejadian kemarin sih!!!!!!!!

***

Hari semakin malam, sudah mulai ada tanda-tanda kedekatan antara Iwat dan Ollie, walaupun dalam perbincangannya masih saja terselip penghinaan untuk para lawan jenis. Tapi mereka seolah telah melupakan kejadian tempo hari.

Iwat pun juga telah menyelesaikan tugas mengecatnya, cukup singkat mungkin. Ya.. karna dalam pengecatan ini mengambil sistem ‘asal nempel’. Cat sebelumya tak di keletek atau bahasa resminya tak di protolin dahulu. Tapi hasilnya lumayan kok.

Ia membereskan kembali barang-barang yang tadi ia bawa, lalu bergegas keluar kamar yang sudah di tinggal duluan oleh Ollie. Langkahnya terhenti sesaat ketika ia mendapati sebuah big poster bergambar Justin Timberlake yang tadi senantiasa di cium-cium oleh Ollie.

Iwat tersenyum melihatnya. Ollie pun datang memasuki kamar sambil membawa 2 buah jeruk yang slalu menjadi buah kesukaannya. Sekilas ia memperhatikan hasill kerja Iwat.

“Udah selesai nih?”

Alis mata Iwat dinaikan seolah berkata ‘seperti yang lo saksikan’.

“Rapih juga, bakat ya lu jadi kuli.” Ollie tersenyum, Iwat menanggapinya dengan pasrah. “Mau jeruk?” Ollie melempar satu jeruknya ke tangan Iwat. Lantas langsung ia tangkap, walaupun harus menjatuhkan barang-barang yang ia bawa. “Oh iya, nama gue Ollie. Masa dari tadi kita ngobrol, lo gak nanya nama gue sih.”
“Jeruk kok makan jeruk.”

Ollie melongo kaget menatap Iwat, sambil duduk di atas kasur yang sudah tak beralas koran lagi.

“Adakan istilah kayak gitu?”
“Tapi lu nggak ngalamin itu kan?”
“Ya nggak lah, gue normal.” Iwat menyusul duduk di sebelah Ollie.

Mereka mulai mengupas jeruk. Sedikit demi sedikit, jeruk itu mulai me-nampakkan dagingnya, ketika satu persatu kulitnya terjatuh. Keadaan di sana sangat sunyi, hanya ada suara serat jeruk yang tidak kuat lagi menyatukan antara kulit dan dagingnya. Iwat dan Ollie serius menjalani kesibukannya. Sebelum..

“Fans berat Justin juga ya?” Iwat memecah kesunyian.
“Fans? Gue kekasihnya! Calon istrinya!” Ollie melahap satu dari delapan bagian jeruk.
Iwat tak menghiraukan pernyataan Ollie tadi. Keliatan dari raut mata Ollie yang belum dan ingin sekali bertemu walau hanya sekejap.

“Kok, cuman punya satu.. koleksinya?”
“Di Jakarta banyak, tapi udah pada di tempel di dinding kamar.”
“Percaya nggak kalo gue pernah ketemu dia langsung?”
“Huahahahahaha......!” Ollie terbahak, hingga satu potong jeruk yang baru saja ingin di makanya, nyemplung ke dalam kaleng cat.
“Ke kamar kos gue yuk.” Iwat melahap potongan jeruk terakhir, sambil berdiri dan meminta Ollie mengikutinya. “Ada yang mau gue tunjukin ke loe.”

Iwat dan Ollie udah ada di dalem rumah kos cowok sekarang. Cukup rame penghuninya. Dari tampangnya sih, tak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah se-orang mantan narapidana, maupun buronannya. Mereka terlihat sangat ber-sahabat dan akrab, walaupun terdapat beberapa peralatan fitnes yang seakan menggambarkan kepribadian metroseksual mereka.

Baru pertama kali mungkin dalam hidup Ollie masuk ke dalam rumah kos. Apalagi cowok. Yang terbayang di benak Ollie hanyalah ‘kotor’ dan ‘bau’. Itulah yang terjadi di sini. Semua orang bertebaran di mana-mana. Ada yang lari-lari, baca koran di mana-mana, makan sembarangan, sampe yang tidur di tengah rumah. Tentunya ada bau tidak sedap yang di hasilkan kegiatan mereka tersebut.

Rumah ini memang tidak tingkat, tapi cukup luas. Ollie masih mengikuti Iwat yang dari tadi gak henti menerima sindiran teman kosnya.

“Gila.. bisa juga ya loe cinta ama cewek, Wat.” Atau, “Ternyata selama ini loe normal ya.” Bahkan, “Mau di kemanain tuh Ipu..ll?” bukannya itu nama cowok?

Tapi tak ia hiraukan, sepertinya disini sudah terbiasa saling menyela.

Iwat membuka pintu kamarnya. Ia masuk, begitu pula Ollie. Belum Ollie menginjakkan kakinya di kamar Iwat, aura tak sedap sudah terasa seketika ia melihat sebuah underwear yang tergeletak di depan pintu. Uurgghhh... jorok banget...

“Eh.. sory, gue beresin dulu deh kamarnya. sedikit berantakan.” Iwat menutup kembali pintu kamar dan membiarkan Ollie menunggu di luar.

Ollie menyandarkan tubuhnya di tembok. Sesaat sebelum ada yang mengagetkannya.

“Oi... pacarnya Iwat ya?”
“Bukan, apaan sih.” Ollie mencoba menyingkirkan sebuah tangan di bahunya. Terlihat di sebelah Ollie seorang cowok ber tampang model orang Arab dengan hidung mancung dan mata belo-nya.
“Jangan bohong! Kenalin, temen senasib seperjuangan sejenis sehati dan sekamarnya Iwat, gue Saiful dan lebih sering di panggil ‘Ipul’.”
“Ipul.. Ipul yang pacaran sama Iwat?”
“Gosipnya sih gitu. Hahaha.. gue emang terlalu deket sama Iwat. Apalagi kita itu gak terlalu tertarik dengan perempuan. Ya... dengan alasan-alasan itu, kita emang udah di cap gak normal atau..”

Krek..

Terdengar suara pintu terbuka, nggak salah lagi, Iwat lah yang kluar.

“Woi onta! Males banget sih nyuci... CD loe kemana-manatuh.” Iwat membentak dengan kata Onta sebagai panggilan buat Ipul, menandakan tanah keturunannya itu yang terkandung teman-teman dekatnya.
“Itu belum kotor, Tahu...ww. Tadi gue cepet-cepet mau pergi ketemu cewek.”
“Iya.. cewek itu emak loe, onta betina. Yang kalo telat 1 menit aja bisa di gantung.”
“Udah deh.. kita itu harus profesional. Kalo gue bisa pacaran.. kan loe juga yang seneng. Gue aja seneng kok loe bisa pacaran sama nih cewek.” Ipul menunjuk Ollie.
“Banyak nyongnyong lo, onta!.” Iwat melempar salah satu underware milik Ipul itu. “Ayo Lie masuk.”

Ollie menyelip dari belakang Ipul, sambil cengengesan dan langsung memasuki kamar.

“Waduh... baru pacaran udah masuk kamar.”

Brak...

Iwat membanting pintu.

Saat masuk, Ollie langsung di kejutkan oleh sebuah foto Justin Timberlake yang di bingkaikan. Foto itu terlihat asli. Plus tanda tangan di sebelahnya.

“Oh mine..” Ollie mendekati foto itu, ternyata foto ini beneran asli dari kamera sendiri.
“Percaya nggak, gue pernah ketemu dia loh, malah sempet moto dan minta tanda tangannya.” Iwat sedikit mamer. Dia tiduran di atas salah satu ranjang di kamar itu. Di sebrang ranjangnya terdapat satu lagi ranjang yang di perkirakan milik Ipul, teman sekamarnya.
“Kapan lo ke Amrik?”
“Belum lama kok.”
“Oh, ya, ngapain? Sumpe lo pernah ke Amrik?” Ollie melotot mengeluarkan seluruh perasaan terkejutnya ke pada Iwat. Sedangkan Iwat sendiri menatap sinis Ollie yang akhirnya merasa pertanyaannya itu sedikit terasa menyinggung dengan penampilan-nya yang terlalu ‘minim’ untuk ukuran Amerika.
“Ehem, gak usah di ambil hati OK.”

Iwat tersenyum simpul menatap ekspresi gugup Ollie.

“Biasa aja lagi.”
“Oh... Truss”
***

“Wat... please dong, buat gue fotonya.” Rengek Ollie. Kata –kata itu lah yang di ucapkan Ollie dari tadi, untuk bisa mendapatkan foto itu tanpa harus membayar. Sampai mereka keluar dari rumah, Ollie masih saja merengek.
“Minta? Bayar dong.”
“Ya ampun Wat.. Lo bukan fans berat dia kan?”
“Lo juga bukan kok. Lo itu kekasihnya kan, calon istrinya, mestinya kan lo..” Iwat tak meneruskan katanya lagi seketika melihat Ollie yang melotot. “Ok, deh. Lo boleh ambil foto itu, asalkan lo bisa ajukan 1 alasan tepat kenapa gue gak sudi ngasih foto ini sekarang.”

Tugas...
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, tentu saja sekarang Ollie udah tidur-tiduran di atas kasur empuk, sambil ngedengerin siaran radio langganan, dan memandangi poster Justin Timberlake di dinding kamarnya. Poster yang udah dia miliki dari umur 15 tahun ini, gak akan mungkin bisa bosen di pandangnya. Gaya nya cool abis, tatapan matanya tajem, sinar matanya itu telah menusuk hatiku, hoho.. gak salah aku idolain dia.. kata-kata itulah yang selalu dia keluarkan di dalam hatinya setiap saat melihat poster itu. Karna disetiap dia ngeliat foto-foto Justin, selalu keinget sama gaya sang pujaan hati aslinya. Udah lah jangan ngomongin dia.

Gak Cuma satu loh dia punya gambar Justin Timberlake, dulu di kamar Ollie yang di Jakarta, hampir setiap sisi dinding dipenuhi gambar Timberlake, mau yang poster, post card, digunting dari majalah, bahkan dari koran pun dia tempel. Teman SMAnya juga sering ngasih tapi dari sekian banyak foto-foto yang ada. Tapi kalo di kamar dia yang sekarang, hanya ada 1 poster, bukan karena dia mulai bosen, tapi nggak cukup kemungkinan buat dia untuk mencabut ribuan gambar satu persatu di kamarnya dan memindahkanya kesini.

Joni... masih terngiang di telinga Ollie saat dia menjanjikan sebuah foto dan tanda tangan asli Justin Timberlake. Sekarang semua itu sudah ada di depan matanya. Iwat telah memilikinya, walaupun tak bisa dibanggakan oleh Ollie.

Lo boleh ambil foto itu, asalkan lo bisa ajukan 1 alasan tepat kenapa gue gak sudi ngasih foto ini sekarang. Itu alasan Iwat kenapa dia nggak bisa ngasih foto Justin, meskipun sedikit mencerminkan kepelitannya. Apa ada alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Iwat? Mungkin itu kenangan-kenangan dia dari cewe nya waktu ke Amerika bareng. Gak masuk akal, masa fotonya sama Justin, bukan sama cewe nya.

Sudahlah, janji sebuah foto yang diucapkan Joni mungkin sudah tak ia harapkan. Dia bisa berusaha sendiri untuk memecahkan teka-teki Iwat. Kini ia hanya mengharapkan janji Joni untuk kembali kesini.

Sampai gak kerasa, akhirnya Ollie terlelap dalam tidur panjangnya (Eh, sorry bukannya mati). Di dalam mimpinya, ia berada di atas padang rumput luas, udaranya begitu sejuk menusuk hati, ia melihat dirinya yang memakai gaun putih se-lutut, rambutnya yang terjurai panjang, daun-daun yang berhempasan menuju dirinya, melihat sesosok Justin Timberlake yang membawa sepuntung bunga mawar, berjalan mendekati nya. Disaat-saat menegangkan seperti ini, tiba-tiba terdengar lagu ‘Sexy Back’ nya Justin di alam nyata. Ollie terbangun, mungkinkah Justin dateng menghampiriku dan menyatakan cintanya kepadaku... tapi kok back sound-nya gak nyambung, punggung seksi?

Tiba-tiba saja terasa seperti ada yang menggetarkan punggungnya kasar membuatnya terbangun, Ollie segera berdiri dan celingukkan mencari, gak sengaja dia ngeliat HP nya yang berkedap-kedip. Tepat di belakang punggung tempat ia tidur tadi. Oh iya, Ollie lupa kalo lagu ‘Sexy Back’ itu adalah ringtone HP nya. Ollie mengambil kasar HP nya, terlihat nama Iren di layar HP. Ollie pun mengangkatnya. Hayo... kata kasar apa yang akan keluar dari mulut nya, udah sering Iren menelponnya di saat yang tidak tepat. “APA???”

“Tuh, tuh, tuh, pasti setiap gue telpon lo sekitar jam 10, sapaan nya judes banget. Udah tidur ya?”
“Kalo Cuma tidur mah gue gak bakal se kasar ini. Gue lagi mimpiin Justin tau!! Jarang-jarang nih.”
“Oh Justin, sorry. Ngomong-ngomong, udah belum persiapan buat ospek besok? Aduh jangan bilang deh lo lupa?”
“Yap, kali ini gue gak lupa kok.”
“Beneran? Yaudah, bagus kalo gitu, biasanya kan lo sering pikkun. Udah ya Lie, Cuma mau ngingetin kok. Good Night. Oh iya jangan lupa matiin radio tuh!”
“Eh Ren!”
“Knapa?”
“Gue pengen curhat dong, bentar aja.”
“Curhat.. aduh, gimana ya.. pulsa gue gak tralu cukup nih buat denger curhat. Gimana dong?”
“Gitu. Ya udah. Night!”
“Oi.. ngambek ya? Gue serius. Pulsa gue gak banyak.”
“Iya yaudah Ren. Gue gak papa. Masih ada besok-besok kan kalo mau curhat. Sumpah gue butuh lo.”
“Ok deh. Gue bakal bantu lo sebisa gue. See you next time!”
“Bye..!” Ollie menutup telpon dan melemparkan HP itu ke atas kasur. Sebenernya ada sesuatu yang harus diperbincangkan. Ini masalah Joni dan dirinya. Ollie memang bermaksud untuk ngelupain Joni. Tapi semakin Ollie melakukan itu, rasanya ia makin tersiksa, apalagi ditambah hadirnya Iwat yang membuat Ollie makin teringat Joni.

Ollie kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Entah apa yang akan terjadi nanti, apakah mungkin cintanya dan cinta Joni masih memiliki kesempatan untuk saling bersatu.

Dia langsung melihat ke arah bahan-bahan yang akan dia bawa saat Ospek besok. Mungkin terlalu lucu. Ollie tersenyum kecil di balik kegelisahannya.

Ollie siap untuk menanti hari esok yang entah bakal menyenangkan ato menyedihkan. Sebelum dia tidur, dia mematikan lampu dulu, dan mencium poster Justin Timberlake sambil mengatakan “Good night my Princes”. (Jangan lupa matiin radio ya Ollie!). Lalu Ollie langsung merebahkan badannya di atas kasur. (Ollie, radionya matiin dulu dong!). Ollie pun perlahan-lahan mulai membawa dunianya yang sekarang ini kedalam dunia mimpi sambil berharap akan bertemu Justin lagi disana. (Woiiiiiiiiiiii, Radionyaaaaaaaa!!!!!!!!!). Tiba-tiba saja Ollie terbangun dan merasa melupakan sesuatu. “Oh iya Radionya”.

***

5/28/2009

BAB III - And His Name is..

Ollie mulai memasuki UPB-Universitas Pendidikan Bandung, kampus yang di gemari hampir seantero negara Indonesia ini kini telah menjadi miliknya. Perasaan bangga sekaligus tegang tak ayal sedang menyelimuti hati Ollie.

Dengan gaya sok tomboy-nya dia berjalan sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Saking enaknya dia berjalan, sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa ada seorang laki-laki berlari dengan kecepatan super cheetah di depannya.

“Waaaa......w!”
“AAHH AWAAAASS!!!”

BRUUAAK

Tabrakan pun tak dapat dipungkiri.
Mereka berdua terjatuh dengan keadaan yang bisa dibilang........ya gitu deh, kedua tangan lelaki itu tidak sengaja melingkari badan Ollie. Jarak muka mereka hanya berkisar 5 centi-an. Kedua mata mereka bertatapan sejenak sebelum Ollie mendorong tubuh lelaki itu dan segera berdiri.

“Eh Sorry.” Lelaki itu refleks berkata.
“Ngapain sih lo? Jijik tau gak?”, omel Ollie sambil menutup mulutnya. “Jangan asal tubruk dong, kan sakit!”
“Yaa gua udah minta maaf kan?”
“Maaf gitu doang sih basi.”
“Lho terus maunya apa?”, lelaki itu membangkitkan tubuhnya.
“Ya ngapain kek.”
“Stres banget sih lo, ngomel sendiri, udah tau ada orang lari didepan. Bukannya ngindar, malah melotot. Kayak di sinetron aja. Gue itu kalo lari susah nyetop, apa lagi larinya kayak tadi.”, lelaki itu balas ngomel.
“Ngapain gue ngeliat loe?”
“Makanya kalo jalan itu pake mata! Bukan kuping!”
“Gue gak bisa jalan pake mata. Mata gue itu di kepala, masa mesti jungkir balik! Dan satu lagi, gue gak pernah jalan pake kuping, gue Cuma bisa jalan pake kaki!”
“Bukan itu maksudnya...”
Belum sempat menjawab lagi, tiba-tiba Ollie menunjuk tas selempang kecil bututnya yang berada di bawah sepatu si lelaki. Tidak melihat reaksi lelaki itu, Ollie langsung berniat menarik tasnya. Tapi keburu ditarik sang lelaki.
“Oh..ini tas lo?”, tanya lelaki itu sambil menyodorkan tas Ollie.

Untuk kedua kalinya, Ollie mencoba mengambil tas nya. Namun dengan tanpa perasaan lelaki itu tiba-tiba melemparnya hingga terjatuh di jarak 10 meteran dari tempat mereka berdiri sekarang. Tanpa menghiraukan perasaan Ollie, lelaki itu mencoba untuk pergi dari tempat itu.

Namun Ollie menghalangi niatnya, ia mendorong bahu lelaki itu dengan tatapan judes sejudes-judesnya.

“Gue itung sampe 5, kalo loe gak ngambil, loe bakal dapet masalah! 1...2...3...”
“Sorry, waktu gue gak banyak buat ngeladenin lo.” Mendengar balasan menyakitkan yang terlontar dari mulut lelaki itu, perasaan Ollie kini jadi gak beraturan. Pengen rasanya menempeleng, nampar, tendang, jambak, bahkan cekik sekalipun hingga dia mati, lalu memotong-motong tubuhnya menjadi 1 lusin bagian per karung.

Tangan Ollie yang menggenggam keras siap untuk mendarat di muka lelaki itu. Sabar....sabar.....hanya kata-kata itu yang mau ia pikirkan di kepalaya. Apa daya lah, untuk orang yang sensitif seperti Ollie, susah untuk mengatasinya dengan menggunakan kepala dingin.
Lelaki itu mencoba meninggalkan tempat itu kembali untuk kedua kalinya. Nggak penting baginya merasakan apa yang dirasakan Ollie sekarang. Baru saja berjalan 4 langkah, tiba-tiba Ollie membalikkan tubuhnya dan langsung menarik kerah baju bagian belakang lelaki itu. Lantas lelaki itu juga terpaksa membalikkan tubuhnya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Ollie yang makin Panas, refleks menerbangkan sebuah tinju yang kemudian dilandaskan di muka sang lelaki.

BUKK

Betapa besarnya tenaga pukulan Ollie. Terbukti, walau hanya sekali pukulan, tapi mampu membuat orang yang dipukul tergelepar-gelepar di atas aspal (bukan karna kepanasan, melainkan karna kesakitan).

Itu lah yang dialami lelaki tadi, sambil memegang hidung yang sepertinya patah atau remuk atau.. apa sajalah, dia berguling-guling. Gak tau setan apa yang berada di dekat Ollie, pokoknya setan itu membuat Ollie ingin menonjok lelaki itu untuk kedua kalinya saat pertama kali melihat darah segar yang keluar dari lubang hidung korban.

Ollie belutut di samping korban, lalu kembali mengepalkan tangannya di atas kepala korban yang masih memegang hidungnya. Baru saja ingin menjatuhkan tangannya, tiba-tiba....

“OLLIE.......!!!!!!!”, terdengar suara perempuan, perempuan cantik nan tinggi dan putih me-manggilnya dari kejauhan. Iren namanya, dia adalah sahabat Ollie dari TK-kuliah sekarang. Mereka tetanggaan, dia juga tetangga Joni, walaupun sekolahnya tidak pernah sama.

“Iren!”, panggilan Iren tadi sedikit telah menyadarkan Ollie atas perbuatan yang baru saja dilakukannya. Dia mata untuk melihat sekelilingnya, yang kini terlihat telah dipadati banyak orang, dan sepertinya mereka berniat untuk menyaksikan pertunjukan SMACK DOWN yang di lancarkan oleh Ollie. “Astagfirullahalazim.”

Iren berlari mendekati Ollie

“Gila lo lie! Baru pertama kali masuk aja, udah belagu!”, Iren sedikit mengomeli Ollie. “Sorry yaa... temen gue emang kayak gini, sensitif banget, gak bisa nyelesain masalah secara baik-baik!”
Lelaki itu malah membalas permintaan maaf Iren dengan dingin. Dia menatap sinis Iren dan Ollie, lalu langsung pergi meninggalkan tempat itu (tentu saja dengan tangannya yang masih memegang hidung). Para penonton pun dengan serentak membubarkan diri.

“Udah Lie, pergi yuk. Tuh cowok emang ganteng, tapi nyolot banget.”
“Tapi kira-kira dia mau maafin gue gak yah? Sumpah khilaf banget gue”, Ollie bertanya-tanya sambil menatap kepergian lelaki tadi yang udah mengeluari area kampus sambil mengendarai sebuah motor vespa keren berwarna coklat kombinasi merah dengan banyak stiker-stiker unik di body nya.
“Peduli amat, mending ketemu lagi. Orang dikampus ini kan bukan cuma lo sama dia doang. Udah yuk... telat nih!”, Iren langsung menarik tangan Ollie. Ollie yang masih dalam keadaan sadar gak sadar, bengong dan hampir melupakan sesuatu.
“Oh...iya, tas gue!”

Tas malang itu terlihat masih tergeletak lemas dengan benyak cap kaki di sekitarnya. Ollie menyadari kalau tas itu adalah korban amukan massa yang tadi melihatnya melakukan tindak kejahatan.

***

Akhirnya selesai juga pengarahan dari senior-senior Ollie dan Iren. Kira-kira lusa depan, para junior-junior yang baru masuk di UPB, khususnya yang mengambil program studi Teknik Sipil, akan menjalani ospek.

Ollie dan Iren keluar dari tempat perkumpulan dengan tampang yang lesu. Apa lagi Ollie yang udah gak jelas naguk-ngaduk mukanya.

“Hua............h! Akhirnya, selesai juga deh. Hua.....hmp”, Ollie berkata malas sambil menguap lebar.
“Woi, bau’! Jangan lebar-lebar!”, omel Iren serentak menutup mulut Ollie yang makin menjadi nguapanya.
“Ngantuk nih, biasanya jam segini gue udah buka kamar.”, Ollie melihat jam tangan G-SHOCK abu-abunya yang di beli seharga 10.000-an ditukang loak, dengan diberi sedikit fariasi blink-blink sendiri (ngapain mahal-mahal kalo masih bisa dimodifikasi).
“Jam segini Lie, ini kan masih jam 8, masa jam segini lo udah tidur?”
“Yah..... serah apa kata lo dah.” Ollie berkata. “Omongan senior-senior tadi kagak ada yang guna, basa-basi abis! Makanya gue bete.”
“Ssssst, jangan kenceng-kenceng. Kalo kedengeran yang mati bukan lo doang!”, Iren hampir mau ngebekeb mulut Ollie, untung aja Ollie langsung ngambil tindakan dengan menepis tangan Iren.

Ollie yang nggak peduli mau dimatiin sama senior dengan cara apapun kalo ngedenger keluhannya itu, tiba-tiba terpana dengan sosok lelaki yang duduk di sebelah pohon, sedang membolak-balikkan sebuah proposal tentang acara yang akan dilaksanakan saat ospek nanti.

“Eh lo liat deh, cowok disana, yang lagi sendiri.”, Ollie menunjukan lelaki tersebut kepada Iren. “Dari sekian banyak senior yang ngomong , Cuma dia yang paling to the point dan jelas.”
“Oh dia, Nandy namanya. Dia katanya ketua senat fakultas kita lho.”
“Hah.. Nandy, lo kenal gitu?”
“Temen sekelas kakak gue dulu waktu SMA di Bandung. Gak teralu temenan deket sih. Dia pernah mampir ke kos-an waktu gue lagi nengok kakak gue. Gue kenal dia juga kebetulan, malah mungkin dia gak kenal gue. Keliatannya sih baik, dan pengetahuannya luas, tapi kekuperannya itu yang bikin dia jarang punya temen.”

Ollie makin dalam melihat cowok ternyata memiliki nama Nandy itu. Tiba-tiba saja Nandy mendongak, melihat kearah Ollie dan Iren, yang seakan tau kalo dia dari tadi jadi bahan curi-curi pandang.

“Oh my God, ayo kita pulang!”, Ollie mempercepat jalannya, karna malu pengintipan secara diam-diamnya ternyata tak telalu sukses.

***

Sampai juga akhirnya di rumah yang akan menjadi tempat istirahat Ollie selama dia masih belum di nyatakan D.O(Drop Out) dari kampusnya.

Jam tangan Ollie sudah menunjukkan pukul 8.46. Biasanya kalo udah segini Ollie blom pulang, pasti dia udah di kunci’in dari luar sama mamah, dan boleh masuk ketika hari telah berganti. Untungnya ini rumah nenek. Lagi pula Ollie kan punya alasan yang tepat untuk membela dirinya.

“Ini tempat kos punya nenek loe Lie? Gede banget, rumahnya banyak lagi.”, tanya Iren yang baru aja nganterin Ollie pulang make mobil VW kodok tua yang telah berumur puluhan tahun, warisan dari kakek tercintanya.
“Iya lah. Yang di sebelah kiri rumah nenek gue, sedangkan yang kanan tempat kos-nya. Rumah yang cewek sama yang cowok sengaja dipisah. Tempatnya enak loh. Makanya, loe ngekos di sini dong!” Ollie sambil menuruni mobil.
“Promosi nih ye..!!!”
“I...h, bukan gitu, kan kita jadi deketan lagi.” Ollie sedikit melencengkan maksud hatinya yang ingin menghindari kebosanan. “Lo berani gak pulang sendirian?”
“Oh ya Lie, masalah cowok yang nabrak loe tadi, kalo loe tiba-tiba ketemu dia, loe mau ngapain? Cowoknya ganteng loh, siapa tau baik.”
“Mau loe apa? Gue gak kepikiran sampe sejauh itu tuh. Kan loe yang bilang sendiri, dunia ini tuh gak sekecil yang kita bayangin.
“Siapa tau aja itu jodoh lu. Itung-itung penggantinya...” Suara Iren mengecil dan enggan untuk berkomentar lebih lanjut lagi, melihat kepala Ollie yang mulai menunduk. “Aduh Lie, gue keceplosan, yang tadi gak usah di inget lagi ya..!”
“...”

Tak ada sepatah katapun yang keluar lagi dari mulut bawel mereka. Iren bener-bener gak bisa maafin dirinya. Telmi-telmi-telmi...

“Lie.. loe gak pa-pa kan?”
Beberapa detik kemudian, Ollie juga masih belum ngomong, dan itu membuat Iren jadi semakin merasa bersalah.
“Gak pa-pa kok.” Akhirnya Ollie menyuarakan pendapatnya.
“Tapi loe gak marah sama gue kan?”
“Ngapain marah? Gak ada untungnya tau. Lagi pula gue emang niat buat ngelupain dia..”

Hati Iren sedikit tenang. Tapi tetap saja merasa bersalah atas perkataan semena-menanya tadi. Iren melambaikan tangannya ke Ollie karna sekarang dia akan kembali ke tempat kosnya. Ollie pun membalas lambaian tangannya itu dengan senyuman yang terlihat di paksa.

Setelah memastikan mobil Iren bener-bener udah jauh, Ollie dengan lunglai memasuki pagar rumah. Yang ada di pikirannya kini hanya Joni, namun Ollie tak mau larut dalam kesedihan terus menerus. Ollie udah membulatkan hatinya untuk menghapus nama Joni dari daftar nama-nama orang yang dia kenal. Dia gak mau jadi kayak gini Cuma gara-gara orang yang bernama Joni.

Ollie masih berjalan lunglai, kini dia mendekati rumah. Jalannya mendadak terhenti seketika ia menemukan seorang perempuan sedang duduk tepat di sebelah tempat kos wanita. Udah jam segini, kalo bukan kuntilanak, ya.. paling pocong yang berkeliaran. Entahlah itu manusia atau bukan, tapi dia menangis. Seharusnya raga Ollie akan berlari dan segera masuk ke dalam rumah, tapi hati Ollie yang mengatakan agar dia berlari dan segera mengenal wanita itu.

Ollie menyodorkan tangannya di depan muka wanita itu yang tertutupi oleh kucekan jari. Wanita itu membuka matanya melihat tangan Ollie, sejenak dia berhenti menangis. Lalu pandangannya berubah ke arah mata Ollie seolah ber-tanya ‘siapa ya.?’

“Ollie, aku cucu dari yang punya kos ini.” Katanya memperkenalkan diri.

Tangan Ollie segera di gapai-nya. Mereka berjabat tangan. “Filsa.” Suaranya masih senyap sekali, tentu saja dengan mukanya yang sangat merah dan di penuhi air mata. Filsa, gadis yang berumur kira-kira 19-20 tahun ini.....

Ternyata manusia.

“Mbak Filsa kenapa? Kok nangis gini?”

Wanita bernama Filsa itu tak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya seakan meratapi nasib yang dia terima. Tiba-tiba ia menatap mata Ollie dan memberikkan senyuman tipis kearahnya. “Gak kenapa-napa kok.”

Ollie mengerutkan dahinya. “Cerita aja kali mbak.”

“Kalo aku cerita, emangnya kamu bisa bantu?”
“Aku gak tau, tapi setidaknya mbak bisa ngeluarin isi hati mbak. Kalo di pendem rasanya lebih sakit lho.” Ollie menyampaikan salah satu pesan moral yang dia peroleh dari nasihat nya Iren. Berkat nasihat nya itu, Iren sukses membuat Ollie menjadi orang yang gampang menangis.
Filsa kembali tersenyum, tapi mukanya tak menghadap Ollie. Mungkin ini senyuman untuk kisahnya. “Aku baru ditolak cowok.”

Damn...

Pandangan Ollie kosong, bibirnya masih tersenyum. Rasa penasaranya tadi menjadi sedikit kecewa. Istimewa, mengapa cewek jaman sekarang itu menganggap ditolak cowok itu menjadi sesuatu yang istimewa? Salah sendiri, gak semestinya cewek yang nembak cowok.

“Aku udah tertarik sama dia sejak tahun kemarin. Dia membuat hatiku luluh, entah kenapa, mungkin ini yang namanya cinta.”

Respon Ollie masih seperti tadi, raut wajahnnya memberikan perintah kepada Filsa untuk memberikan alasan yang lebih spesifik lagi.

“Truss, setelah setahun, aku merasa udah gak kuat lagi nyimpen perasaan itu sendiri. Jadi... aku beraniin diri untuk nyatain rasa ku itu ke dia.”

Ollie masih cengok.

“Tampang loe nyebelin banget sih.” Filsa sedikit menoyol kepala Ollie. Mereka tersenyum bersama. Ollie memasang tampang seakan ingin mendengarkan lanjutan cerita tadi.
“Ternyata aku di tolak. Mungkin kalau Cuma di tolak doang, aku gak akan seisak ini. Dia anak kos ini juga, namanya Iwat, waktu itu di depan kamar kos dia..

“Iwat, loe tuh nyadar gak, selama ini, selama setahun ini tuh aku suka banget sama lo. Setiap gue ketemu lo, jantung gue slalu deg-deg-an. Dan mulai saat itu gue tau, kalo gue jatuh cinta sama lo.”
“Trus, maksud lo nyodorin bunga ini ke gue apa? Mau lo apa sih?”
“Gue mau lo ngebales isi perasaan gue ini.”
“Mmm.. emang menurut lo gue tuh gimana?”
“Lo itu cowok ter ganteng dan terbaik yang gue kenal.”
“Masa sih, menurut gue lo itu cewek ter murah yang berani-beraninya minta gue jadi pacar lo. Gue minta lo tancepin aja nih bunga di kebun bunga lo. Gue alergi.”


“Dia ngomong gitu ke aku. Sambil ngebanting pintu kamarnya.” Filsa terisak dan kembali menangis. “Selama ini dia itu baik banget sama aku, dia sering nyapa aku, nemenin aku jalan-jalan. Tapi...”

Ollie menggeram. Tentu saja hatinya kesal. Berani-beraninya dia ngomong gitu ke wanita. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Ollie berdiri dan berjalan ke depan pintu kos pria. Oww....

Duk-duk-duk. Belum ada jawaban 2 detik setelah ketukan pintu tangan Ollie. Duk-duk-duk. Masih hening. Duk-Brakk-brakk-barkk!!!

“Shut up, Dude..” suara dari dalam mulai menggelegar. Terlihat beberapa lelaki dengan postur tubuh yang cukup mengerikan, membuka pintu dan menatap Ollie sinis. “Oh.. cewek.”

Ollie celingukkan ke dalem. Jelas aja, tapi mana dia kenal cowok yang namanya Iwat itu. Tentunya Iwat sih tidak termasuk golongan lelaki berbadan kekar seperti di depannya itu. “Mana yang namanya Iwat?”
“Ngapain? Nyatain cinta? Apa minta pertanggung jawaban? Basi tau gak! Kenapa sih, gak ada bosen-bosenya cewek nyari Iwat.”
“Ya.. soalnya Iwat itu emang jagonya main cewek.”

Tiba-tiba terdengar suara bermuara di belakang para cowok. Serentak orang-orang yang ada di depan Ollie menyingkir seperti membuat jalan khusus untuk menatap postur sang Iwat.
Terlihat lelaki tinggi berkulit sawo matang, bermata tajam melirik Ollie, dan berhidung..... ‘di hansaplast’.

“Here.. I-W-A-T.” Dia mendekat, entah kenapa tubuh Ollie jadi gemeteran. Firasat Ollie menandakan yang gak enak.

Semakin dekat, langkah Iwat makin lambat. Sampai akhirnya kedua mata mereka bertatapan sangat keras. Tubuh Ollie terasa lemas, lemas sekali. Dia tidak menduga seseorang yang berada di hadapannya sekarang. Begitu pula di pihak orang itu. Kedua pihak terdiam. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi (berlari untuk Ollie) meninggalkan kedudukannya masing-masing. Tanpa mengeluarkan suara yang sudah berada di ujung lidah mereka.

“Ohh shit!!” Ollie kelagapan kemudian menubruk pintu rumah nenek.

***
Ollie menelpon Iren malam sekali. Setelah kejadian tadi di luar, di butuh waktu untuk merenung dahulu, baru waktu untuk menghibur dirinya. Siapa sangka, orang yang mencari masalah dengan Ollie di kampus, ternyata tinggal di kos nenek nya.

“His name’s Iwat, Ren.. Iwat.. dia sekarang tinggal di kos nenek gue.”, Ollie ngobrol dengan Iren lewat HPnya.

Dengan gaya sok pusingnya, dia muter-muterin kamar yang kini menjadi tempat untuk istirahat. Nuansa ‘jadul’ menyelimuti aura kamar itu. Cat berwarna putih kelam dengan hiasan sarang laba-laba di setiap sudut plafon. Yang membuat Ollie merasa sedikit sesek napas berada di dalamnya.

Tapi tidak untuk saat ini. Karna dia masih memikirkan bagaimana cara untuk menahan malu dan meminta maaf kepada Iwat. Apa lagi sekarang mereka satu kawasan.

“Iwat, Iwat siapa?”, Iren minta penjelasan yang lengkap dari Ollie atas omongannya yang terlalu to the point.
“Adu....h itu loh.. laki-laki yang gue tonjok tadi pagi itu ternyata namanya Iwat.”
“Sumpe lo... wa.... dream comes true dong?”
“Monyang lu dream comes true! Siapa yang mimpiin dia.”

Ollie duduk di atas hamparan karpet dan menyandarkan tubuhnya di lemari baju, sehingga sedikit menghasilkan bunyi ‘duk’.

“Perasaan gue ternyata bener, lo itu keiket tali jodoh ama dia.”
“Dan ternyata perasaan gue itu bener juga, kalo ternyata lo itu bukan paranormal yang handal.”
“Gue emang gak punya keturunan paranormal.”
“Dan gue gak punya tali yang bisa ngiket jodoh gue ama dia.”
Hening..
“Oke Oke gue nyerah, akal lo itu gak mungkin gue tandingin soal rantai-merantai kalimat orang.”
“Ini bukan masalah merantai kalimat, Ren, jodoh itu tidak hanya memper-masalahkan beberapa kali tatapan mata, tapi eratnya ikatan hati. Lagi pula gue masih yakin, tali yang ngiket hati gue sama hati Joni, masih kesimpul rapih.”
“What do you think? Baru aja tadi malem lo mau ngelupain Joni?” Ollie mengetahui kalo di sebrang sana pasti Iren sedang marah. “Maaf Lie, tapi gue juga gak kuat ngeliat lo terus-terusan kesiksa karna nunggu Joni. Kalo dia emang bukan jodoh loe? Dan lebihnya lagi, kalo dia udah ngeduain lo? Lo bisa gila.” Terdengar suara Iren sedang menggebrak meja. “Tapi kalo dari sekarang lo udah berusaha ngelupain dia, lo akan lebih Enjoy ngehadapin apa yang akan terjadi besok.”

Ollie terdiam selama beberapa detik. Dia nggak bisa berkalimat lagi. pikirannya kemana-mana kini. Dia hanya mengharap Iren yang duluan mengakhiri teleponnya.

“Ya udah lah, gue ngerti perasaan lo. Udah ya Lie, terus jalani hari-hari mu berikutnya. Good night.”
“Night too..”

Baru saja Ollie ingin melempar kembali HP nya itu ke atas tempat tidur, tapi dering NOKIA Tones yang berarti ada SMS masuk tiba-tiba keluar dari HP nya.

“Siapa lagi sih nih?”

From = _ReGha
Woi kuntilanak! Enak banget yak lo, pergi kgk pake blng2 dulu! Iya deh gw tau, gw udh gak penting lg dlm hidup lo. Tp gw ini kan msh adek lo!

To = _ReGha
Gak ush sok dramatis gitu deh tuyul, gw lp. Lg pula lo udh tau kan, kalo hr ini gw bakal prg k Bandung. Jangan kngn, nanti gw sering k Jakarta deh. Salam aja yup buat ayah n’ mamah.

From = _ReGha
Bnr yak mbak, kalo perlu 1 minggu sekali!

To = _ReGha
oK deh, kalo lu mau bayar ‘ONGKOS JALANNYA’!!!

From = _ReGha
Kejem..

To = _Regha
Sekejem-kejemnya gue, jg msh kejeman lu tuh

From = _Regha
I’m not kidding

To = _Regha

Hngg tuiul, tp jgn tiap minggu dong, bisa mati pelan-pelan gw?


***

BAB II - Let’s Go....!!!

Siangpun tiba. Sudah saatnya Ollie pergi ke Bandung, ke rumah neneknya tepatnya.
“Saya...ng cepetan donk turun dari kamar! Lama banget, kita udah mau pergi nih.”, teriak mamahnya Ollie yang melongok ke lantai atas lewat tangga menunggu jawaban.
“Aduh tunggu donk, bawa barang sekamar gak bisa cukup satu menit.”, Ollie tergopoh-gopoh membawa bejibun barang di punggungnya sambil melewati tangga sempit rumahnya.

Setelah tinggal kurang lebih 4 anak tangga lagi untuk sampai ke lantai dasar, tiba-tiba tas koper terbesar dan terberat tentunya, nyangkut di sela-sela dinding dan tralis tangga. Aduh mati gue gak bisa gerak, begitulah suara dumelan hati Ollie yang tak tentu. Tanpa basa-basi lagi, Ollie langsung berteriak gak jelas mengharapkan sebuah pertolongan. “Wa...........hel.....p!!!.” teriaknya sok bule.

Teriakan mengguncang dunia tadi langsung menjadi perhatian sang ayah yang merasa sangat terganggu.

Gimana enggak, itu semua udah ngebuat kosentrasi ayahnya buyar saat sedang memecahkan teka-teki aneh yang di berikan oleh mamah. Itu adalah balasan untuk seorang ayah yang katanya tau segala hal.

“Aduh Ollie, Ayah kira kamu glinding, kalo cuma nyangkut doang, gak usah teriak dong!”

“Tapikan Ollie gak tau apa yang bakalan terjadi setelah nyangkut, Ollie gak bisa gerak, bisa aja nanti Ollie beneran glinding, atau malah terbang. Bahkan mati pun juga berkesempatan.”

Ayah Ollie tanpa bales ngomel lagi, langsung menarik tangan Ollie. Saking kencangnya tarikan ayah, sampe-sampe Ollie beneran terbang (hanya sesaat sebelum akhirnya jatuh kembali) langsung ke lantai bawah melewati empat anak tangga lainnya.

“Adu....H. Kalo gitu caranya mendingan Ollie nyangkut deh.”

“Lagian, bawa barang satu-satu aja kalee.. gak usah sekaligus satu kamar kamu bawa! Jadinya ginikan, kosentrasi ayah buat ngejawab pertanyaan mamah kamu tuh jadi ancur.”, omel ayah.

“Ayah gak bisa engertian banget sih. Aku itu cewek, inget cewek, biar gaya aku kayak anak cowok biasanya, tapi tenaga aku itu tenaga anak cewek normal. Mana bisa bolak-balik bawa barang berat naik turun tangga. Gak ada yang mau bantuin lagi.”

“Tapi kalo kayak gini terus, gimana mau mandiri?”

Ollie hanya diam terpaku menatap ayahnya yang lagi mengangkat-ngangkat tas koper terbesar dengan tatapan muka bertanya-tanya ini tas keselip bom atom kali ye...

“Kayaknya Ollie bener-bener belum siap deh tinggal sendirian di Bandung.”, Ollie menunduk menatap barang-barangnya yang akan ia bawa selalu di Bandung. Kemudian mengeluh dengan nada yang sangat mengharukan. Huhuhu...

Mendengar perkataan Ollie tadi, ayahnya jadi merasa bersalah. Dia menepuk punggung Ollie yang kemudian langsung pergi meninggalkannya. Dasarrrr.

“Jangan menyesal gitu ah. Udah bagus kamu bisa keterima di UPB (Universitas Pendidikan Bandung). Kamu kan termasuk orang yang beruntung. Padahal kamu di SMA kan gak pernah dapet rangking.”

“Ya... dan masih untung juga Ollie masih bisa kuliah. Gak usah ngeledek deh!”

“Lagi pula di Bandung kamu gak tinggal sendiri kok, kamu tinggal sama nenek kan? Disana juga ada Uwak Didi, Uwak Ning, sama Teh Tia . Soalnya mamah tau, kalo kamu ngekos, gimana mau nyuci baju sendiri, nyuci piring aja gak pernah bener.”, bujukan mamah Ollie mulai menyinggung hatinya pada kalimat-kalimat tertentu.

“Bagu....s!”

“Udah yuk kita keluar!”

Keluarga Ollie keluar dari rumah dengan segala persiapannya. Dengan keadaan yang masih tergopoh-gopoh membawa barang, Ollie dan ayahnya berjalan meuju mobil mereka untuk segera memasukkan barang ke dalamnya. Sedangkan mamah malah asik-asik ngobrol dengan mpok, pembatu rumah tangga mereka yang sudah kira-kira 14 tahun bekerja. Tua. Kempot. Item. Bau pete. Memang ciri khas pembantu lansia yang sudah ditakdirkan menjadi penerus Betawie.

“Mpok, nanti kalo Regha pulang, makanya suruh pesen aja, tapi jangan banyak-banyak, bayarnya pake uang dia aja dulu, nanti digantiin. Mpok juga jangan lupa minta, kalo mpok gak makan, gimana mau semangat jagain? Jangan ditinggal sendiri ya mpok takut ada knapa-knapa. Trus bilangin jangan berperilaku kayak anak kecil lagi, inget udah masuk kelas 2 SMP.”, perintah mamah panjang lebar agar tidak terjadi apa-apa dengan Rega, adik kandung Ollie.

“Maka itu, karna dia udah 2 SMP, mamah jangan terlalu manjain dia, orang Cuma ditinggal........mmm..........yah pokoknya gak nyampe seharilah.”, Ollie yang masih sibuk dengan barang-barang bawaannya, sedikit menyindir mamah.

“Diem kamu!”

“Iya deh bu, saya bakalan jagain ade 24 jam, non stop.”, janji mpok yang rasanya mustahil untuk terjadi karna mpok nggak akan bisa ninggalin tidur siang 2 jamnya ini. Mpok biasa memanggil ade untuk panggilan ke Regha, dan mbak untuk panggilan ke Ollie. “Tapi bu, saya bolehkan tidur siang, kali ini nggak nyampe 2 jam deh!”

“Ng.....gimana ya...?”, pikir mamah.

“Iya mpok, boleh lah, 3 jam juga nggak apa-apa.”, ayah menepuk bahu mamah. “Mamah nih kenapa sih?”

Ollie yang melihat ayahnya malah ikutan berbincang-bincang dan meninggalkan pekerjaannya membantu Ollie, malah komat kamit sendiri menahan sedikit rasa kesal di hatinya.

Ayah yang ngeliat Ollie sedang marah, lansung mendekati sambil membawa kembali barang yang tadi ditinggalnya, dan sedikit menahan tawa melihat mulut Ollie yang ngebuka tutup tanpa suara.

“Dah, ini barang terakhir kan?”, tanya ayah. “Udah masuk semua kan?”

“Masuk semua pret. Liat donk, barang-barang di belakang Ollie! Barang-barang yang udah kita masukin itu, baru 69.99%”

“Truz...truz.......truz nih barang mau di taro dimana?”

“Kamu tuh ngapain pake bawa 2 bantal + guling + bed cover segala? Ini nih, boneka segini banyak Cuma bisa menuhin-menuhin doank. Disana barang-barangnya lebih bagus n’ ber-modis. Blom liat sih, keluarga mereka itu modern banget. Bener bener bagus deh, rumah kita gak ada apa-apanya.”

Kalimat mamah tadi membawa bayangan Ollie ke suatu tempat yang bener-bener gedung dan otlet adanya. Beberapa orang berpakaian ala remaja jaman sekarang sedang mententeng banyak kantong belanjaan bertuliskan berbagai macam merk-merk toko ternama yang harganya jauh di atas standar orang biasa. Tempat itu adalah surga orang sukses atau yang kelebihan harta.

Ollie masih terbengong menganga. Contoh orang yang gak doyan shoping seperti Ollie, dijamin tidak akan betah tinggal di tempat seperti itu.

“Ollie...Ollie sayang. Jangan cengok gitu dong. Mulutnya nganga lagi. Nanti keluar ilernya. Ollie...woi hallow!”, mamah berusaha menyadarkan Ollie. “MAOLLIE..........!!!!!!!”

“Eh iya mah. Aku gak suka hidup dibayangi oleh orang-orang bermodis seperti mereka. Pasti mereka sombong.”

“Kamu kayak gak tau Bandung aja.”

“Aku tau, Bandung itu kan bener-bener pusat perbelanjaan. Karna itu..”

“Takut gak betah? Kok bisa? Gak selamanya Bandung seperti itu kok. Tergantung orangnya juga dong, gampang tau, menyesuaikan diri.”

“Kamu tuh, sok-sok an gak suka shoping.”, ayah menyela. “Udah-udah, cepetan masuk mobil! Kalian pikir ayah cuti kerja cuma buat puasin ngobrol gak penting kayak gini? Peralatan tidur ini gak usah dibawa, apa lagi boneka-bonekanya, cuma bisa menuhin doang. Mobil kita tuh bukan Patas AC.”

“Oke deh yah, tapi nggak untuk Blondy, Ollie nggak akan tenang kalo kalau gak ada yang nemenin Ollie tidur.”, Ollie membela boneka beruang kecil berbulu pirangnya yang sudah dia pelihara sejak masih SD. “Oh iya, ayah kalo ngambek tambah jelek lho!”

“Bodok. Are you ready Ollie?”

“Oh,”

“Hm...merantau ke Bandung, demi menggapai yang kau impikan.”

“Why not? Let’s go to Bandung!!!”, melemparkan kepalan tangan ke atas. Tak lupa Ollie mengecek HP nya. Tak ada satupun SMS apalagi miss call.

Apa dia bener-bener lupa?

***

Setelah 2 ½ jam lebih dalam perjalanan, akhirnya keluarga mereka sampai juga di Bandung. Kini nenek Ollie tinggal bersama keluarga kakak pertama mamahnya. Saat masuk, mereka segera disambut dengan jalanan yang memisahkan dua tempat, di sebelah kiri rumah nenek, dan di sebelah kanan 2 rumah yang menyewakan sejumlah kamar.

Karna halaman rumah yang terbilang sangat besar, nenek dan dibantu oleh yang lain sengaja membuka usaha dengan menawarkan jasa kamar kos. Karna letak yang cukup strategis alias dekat kemana-mana, dan suasananya yang nyaman, nggak salah kalau tempat kos ini ramai dengan anak-anak kuliahan dan sekolahan dari berbagai kota.

“Mah, dari dulu tempat kos punya nenek rame banget yah.”

“Iya dong, kan murah meriah.”

“Tapi tau dari mana kalo tempat ini yang murah meriah?”

“Dari mulut ke mulut.”

“Emangnya semua yang ngekos disini sodaraan?”

Suasana hening terjadi di dalam mobil. Ayah dan mamah saling bertatapan. Ollie yang masih dengan tampang penuh pertanyaan, mulai menyadari ke-lemotannya itu. “Hahaha..” tawa’an yang tak di sengaja keluar dari mulut Ollie.

“Ayah jadi bener-bener khawatir mau ninggalin kamu sendirian.”

Mobil mereka sudah diparkirkan di sebelah mobil milik kakaknya mamah yang juga tinggal disini. Semua turun dan bersiap masuk ke dalam rumah yang cukup besar bernuansa jaman Belanda dulu.

Rumah nenek memang sengaja di tempatkan agak jauh dari tempat kos, tempat menyimpan kendaraan mereka juga dibuat berbeda. Agar suasana hiruk-pikuk anak sekolah dan kuliahan tidak terlalu terasa, sehingga tidak mengganggu kenyamanan.

Tok-Tok

Suara ketukan tangan ayah di pintu diseratai dengan salam, “Assalamu-alaikum”. Ollie celingukkan memandang ke tempat kos. Udah kurang lebih 2 tahun Ollie sekeluarga nggak pernah mampir kesini, lebaran kemarin Ollie pulang kampung ke kampung ayahnya di Bangka.
Celingukkan Ollie yang entah sedang mencari apa, dihentikan sesaat setelah ada hentakkan lembut benda tumpul di bahunya. Segeralah dia membalikkan badan, ternyata tangan mamahnya yang sukses membuatnya kaget.

Saat membalikkan badan, sudah terlihat disana wanita yang kerap ia panggil Uwak. Istri dari kakak mamahnya Ollie ini memiliki nama Nining, tapi Ollie memanggilnya dengan sebutan Uwak atau Uwak Ning. Ollie segera mendekati Uwak Ning dan mencium tangannya sebagai tanda penghormatan.

“Ayuk atuh masuk, nenek aya ti dalem . Lagi ngurus barudak kos.” Mestinya logat bahasa Sundanya lebih dalem lagi, tapi karna penulis belum terlalu mahir, jadi sebisanya saja lah.

Semuanya masuk ke dalam melewati ruang tamu, kemudian disambut dengan ruang bebas atau ruang keluarga yang cukup luas. Disana terdapat nenek yang sepertinya sedang mengurus sejumlah anak kos yang ingin membayar iuran bulanan. Walaupun nenek sudah tua, tapi nenek masih rajin mengurus yang begituan.

Anak-anak itu segera pergi setelah selesai dengan urusannya. Tiba-tiba saja nenek yang melihat Ollie langsung melotot dan mendekatinya sambil berkata.. “Si Putri...” hampir setiap cucu perempuannya ia panggil seperti itu. Tapi itu hanya sebutan saja. Kalo manggilnya tetap pakai their real names.

Ollie mempercepat jalannya ke arah nenek. Dengan segera dia menubruk sambil melingkarkan kedua tangannya di tubuh nenek yang rasanya makin me-nipis. Maklumlah, kawula tua. Nggak kerasa umur nenek udah 75 tahun aja. Rasanya baru kemarin Ollie lari pagi bersama neneknya. Sekarang, boro-boro lari, jalan aja sering keseleo.

Ollie seneng banget bisa ketemu sama nenek tercintanya lagi.

Hubungan Ollie dan neneknya sangat teramat dekat. Bisa dibilang Ollie adalah cucu tersayang nenek. Sifat periang, manja dan cengeng Ollie yang mem-buat neneknya makin gemes.

Kadang kalo Ollie lagi kena marah sama mamah dan ayahnya, nenek selalu melindungi, walaupun ujung-ujungnya nenek juga ikut mengambil bagian untuk memarahi.

Semua sudah berkumpul di ruang TV dan mulai bersenda gurau ria. Termasuk nenek yang lagi asyik ngobrol dengan ayah. Ayah kadang-kadang suka ngerebut hari nya bersama nenek. Sehingga Ollie jadi merasa bosan dan ingin segera balik. Apa lagi Regha nggak ada disini, nggak ada orang lagi yang pantes untuk dia jaillin.

Makin lama Ollie makin bosen ngedengerin pembicaraan mereka yang nggak mungkin bisa dimengerti oleh nya. Ngomongin saudara yang baru nikah, menjalani pernikahan, perceraian, bahkan yang mati setelah bercerai.

Kadang mereka juga membahas soal pendidikan. Kalo lagi gini yang bikin Ollie tambah bete. Mereka membahas tentang pendidikan orang-orang yang dibilang sukses, akan sukses, dan sedang menuju kesuksesan. Apalagi orang tua Ollie yang terlalu membangga-banggakan Regha. Dia jauh lebih genius dari dirinya. Setiap pembagian raport Regha dan Ollie yang kebetulan hari nya tak terpaut jauh, Ollie selalu megurung diri di kamar, dan tak ingin berkomunikasi minimal 3 hari setelah raport mereka di serahkan. Seperti biasa, Regha selalu masuk 3 besar, dan kadang-kadang dapet juara. Sementara dirinya, paling tinggi hanya 13 besar, itu juga ketika dia berada di kelas yang riwayatnya kurang menyenangkan.

Ollie udah gak kuat lagi mendengar orang tuanya membangga-banggakan Regha. Apalagi sampai membandingkan mereka berdua. Ollie gak bisa nahan diri untuk marah bahkan mukulin adiknya. Maka sebab itu, dia hanya berusaha menenangkan diri dengan menangis sepuas-puasnya sambil mendengar radio kencang-kencang. Tradisi seperti itu sudah biasa terjadi setiap minimal 2 kali setahun.

Kembali ke keadaan di rumah nenek. Tangan Ollie yang juga udah ngerasa bosen, mulai iseng mencubit-cubit paha ayah di sebelah. Nggak ada respon yang berarti dari ayah selain mengusap pahanya. Ollie kembali mengulangi, sekedar memberi petunjuk bahwa anak gadisnya sedang nganggur. Semakin sering Ollie mencubit, Ollie malah kena omelan dari ayah.

Merasa tak ada kerjaan, akhirnya Ollie memutuskan untuk jalan-jalan ke-halaman sekitar rumah. Dia berjalan meninggalkan ruang TV.

“Ollie, katanya mau ke kampus, ayo.. udah jam setengah 2 lho!” baru saja bergerak 2 meter dari tempatnya duduk tadi, tiba-tiba seruan ayah yang terdengar menyebalkan otomatis menghentikan langkah selanjutnya. “Yuk say, nanti ayah yang naro barang-barang kamu ke kamar.”

Dia terlihat lesu, baru aja nyampe udah harus hang out lagi. Tapi ini wajib, this is her University program. Ollie memutarkan arah jalannya dan balik ke ruang TV untuk menyalami sekuruh isi rumah. Setelah itu dia kembali ke arah jalannya tadi sambil mengucapkan.. “Assalamualaikum.”
“Walalaikumsalam.”

***

BAB I - Ketika Cinta Berpisah [1]

Pagi ini tak ada bahagia. Rasanya suram sekali. Seharian Ollie memikirkan Joni. Apalagi yang harus ia perbuat untuk menahan Joni?

Tepat pada jam segini, pasti Joni sedang menunggu di luar. Tak berani memanggil karna takut justru bukan Ollie yang akan keluar. Joni cukup menunggu di dalam mobil. Ia membesarkan volume radio mobilnya tepat saat intro lagu Leaving On A Jetplane berkumandang. Kebetulan, ini adalah suara Justin Timberlake, Ollie ngefans berat sama penyanyi seksi ini.

All my bags are packed
I’m ready to go
I’m standing here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breaking, it’s early morn’
The taxi’s waiting, his blowing his horn
Already I’m so lonesome I could die

So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go
I’m leaving on a jetplane
Don’t know when I’ll be back again
Oh babe I hate to go
I hate to go

...

Sampai akhirnya terlihat ada yang membuka pintu. Tak salah lagi, itu dia, Ollie, remaja berusia 17 tahun yang mempunyai sebuah hubungan khusus dengannya. Joni pun mengeluari mobil, mengendap-endap melalui semak-semak di pekarangan demi mendekati Ollie.

Ollie harus rela melepas Joni, kekasih SMA-nya yang akan segera pergi ke Amerika. Joni harus menuruti kemauan ayahnya untuk memenuhi beasiswa berkuliah disana. Mungkin berat untuk mereka berdua, harus berpisah dengan umur pacaran yang baru jalan 1 tahun. Apalagi kedua orang tua Ollie belum mengetahui tentang hubungan mereka.. Selama ini orang tua Ollie hanya menganggap Joni sebagai sahabat Regha, adik Ollie. Bahkan Regha sendiri pun belum mengetahui apa-apa. Memang Ollie sering terlihat berduaan dengan Joni saat Joni sedang mampir ke rumahnya sekedar bermain PS bersama Regha, namun tak sekalipun Regha mencurigai hubungan mereka berdua.

Cukup menyedihkan jika mengingat masa pacaran mereka yang tak terbilang mengasikkan. Waktu jalan mereka berdua, hanya sebatas di jalanan sekolah, itu juga sebelum Joni lulus SMA. Tentu, mereka tak punya banyak waktu untuk saling mengunjungi, apa lagi jalan bareng. Walaupun rumah mereka berdekatan, tapi jika terlalu dekat, bisa kena curigaan mamah Ollie yang belum merestui anaknya bermain yang namanya cinta-cintaan.

Mereka bertatapan mata sejenak, sebelum akhirnya..

“Kamu yakin mau pergi sekarang?” tanya Ollie. “Perasaan aku gak enak nih.” Selalu kata itu yang di ucapkan semenjak Ollie mengetahui bahwa Joni akan pergi.

“Tentu dong, ini udah bulat.” Joni memandangi Ollie yang mulai menundukkan kepala. “Nanti aku sering-sering ngehubungin deh. Dan, seandainya aku bisa ketemu sama Justin Timberlake, aku bakal minta foto dan tanda tangan aslinya. Kalo bisa, aku kenalin kamu ke dia.” Joni mulai menggurau. Dia kate Amerika Cuma segede daon kelor?!

“Ah kelewatan kamu, mana mungkin Justin...”

“Pasti ketemu Justin kok. Tenang aja lah. Udah yah, nanti aku kelewatan pesawat. Dah....”.

Ia pun memalingkan tubuhnya memunggungi Ollie seolah tak sanggup lagi melihat matanya, namun beruntung Ollie sempat meraih tanganya sebelum Joni berlari.. “Aku nggak enak badan nih.” Ollie mengusap-ngusap lehernya.

Joni mendekati Ollie dan memegang jidat nya. Tak ada yang berbeda dari suhu orang normal. Bahkan lebih terasa panas tangan Joni.

“Kamu sehat-sehat aja.”

“Aku sakit. Tenggorokan ku gak enak.”

Joni kembali memegang jidat Ollie. Sebentar, lalu melepasnya lagi. Dia menggelengkan kepalanya

“Ini nggak bisa di tunda. Aku harus pergi. Maafin aku Lie.”

Ollie tau, segimana rupa dia menipu, tetap saja Joni akan pergi. “Yaudah, good luck ya. Jangan lupa ngasih kabar kalo udah sampe.”

Joni, dengan tatapan hangat, sedikit mencium kening Ollie. “Ok baby, Bye...” Ia kembali berlari ketika melihat bayangan mama Ollie yang berjalan mendekat. Joni tidak sanggup lagi menatap wajah Ollie, dia tidak mau dikatain cengeng hanya karna tidak tahan membendung air mata.

Serentak setelah mobil Joni pergi, mama Ollie keluar. Dia celingukkan sejenak ke sekitar sebelum memandang anaknya yang bertatapan kosong.

“Ngomong sama siapa sih Lie?”

Tak ada respon yang diberikan Ollie. Tatapannya masih kosong. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Joni.

“Ollie.. Masa mamah didiemin?” Mama Ollie mulai mengambil tindakkan, ia menepuk pundak Ollie

“Eh mah, maaf, hhh tadi nanya apa ya?”

“Tadi kamu ngobrol sama siapa?”

Wajah Ollie mulai sumrigah. “Mmmm... tadi itu, ada orang yang mau nganter soto, tapi salah alamat. Jadi balik lagi. ” Semoga aja mamanya Ollie tidak berpikir yang bukan-bukan. “Sumpah, Ollie gak bo’ong kok.”

“Siapa juga yang mikir kamu bohong?” sebodoh ini kah mamahnya Ollie? “Tapi kira-kira, toko soto mana yang nganterin pesenannya pake mobil?”

“Baru mah. Jaman sekarang kan udah canggih. Emang benyak yang nganterin makanannya pake mobil. Pesawatpun ada. Sepedah mah udah ga jaman.”

“Baru. Kamu tau alamatnya? Pasti soto nya enak banget.”

Ollie terdiam, dia tidak konek dengan pertanyaan mamah yang terakhir. Dia kembali teringat Joni. “Amerika. Liat nanti!”

“Ha? Di Amerika?” mamah melotot.

***
Belakangan ini Ollie selalu ribet untuk tidur. Gak pernah bisa hilang bayang-bayang wajah Joni yang sekarang lagi mengadu nasibnya di Amerika sana demi memenuhi segala cita-cita. Selalu aja gak pernah bisa tenang kalo inget janjinya yang akan selalu ngabarin keadaannya sekarang.

Udah sekitar setahunan Joni pergi. Dan sudah sejak 5 bulan kemarin Joni gak pernah ngasih kabar lagi. Di telpon gak pernah bisa. Di e-mail gak pernah di jawab. Di SMS? Apalagi. Ternyata firasat Ollie waktu itu sedikit terjawab.

Di sana kamu lagi ngapain? Aku kangen! Ollie meninitikkan air mata yang kemudian pecah diatas kerumunan debu genteng rumah. Berhubung di rumah Ollie tak terdapat beranda, maka, untuk melihat bintang-bintang, harus naik ke atas genteng dulu melewati jendela kamarnya.

Bintang.. dalam suasana hati yang gundah maupun kesel, Ollie selalu menyempatkan diri menatap sambil berbincang-bincang sedikit pada bintang. Selain berdoa kepadaTuhan, Ollie juga sedikit memohon bantuan bintang-bintang. Apa lagi semenjak Joni tidak memberikan kabarnya, hampir setiap malam Ollie kesini. Ollie memohon agar Joni segera memberi kabar.

Sulit untuknya menerima kalo pada akhirnya mereka gak bisa bertemu lagi. Apa lagi mesti harus diduakan. Ollie akan selalu menunggu. Karna hatinya yang gak mungkin bisa lupa semua cerita-cerita indah. Harus tegar. Ollie mengusap air mata dan memaksa kan bibirnya untuk tersenyum kepada bintang, menerima semua yang telah dan yang akan terjadi.

Besok, Ollie akan pergi ke Bandung untuk mengakhiri masa SMA nya, dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia akan berkuliah disalah satu Universitas di Bandung. Sesungguhnya Ollie ingin menyusul Joni. Tapi jalan beasiswa yang ia dambakan, tidak dapat terpenuhi. Nggak mungkin kalo Ollie harus merengek-rengek pada orangtuanya untuk diberi ongkos berkuliah di Amerika Serikat, menyusul Joni.

Apakah dia inget kalo Ollie akan pergi besok? Entahlah, pokoknya ke inginan Ollie untuk ngeliat dia saat pergi, pupus sudah. Udah lah, yang penting semoga aja besok dia ngucapin kalimat ‘Good Luck’ seperti yang diucapkannya saat dia akan pergi. Besok mereka pasti akan berbincang dengan riang. Meskipun hanya lewat sebuah Telepon Selullar.

‘Cinta sejati tidak akan kemana’. Kalimat itulah yang Ollie rekam setiap teringat kembali cinta Joni. Cinta sejati memang gak akan kemana, tapi kalo Joni bukan cinta sejati-nya, Ollie belum siap patah hati.

LuvU Forever My Prince : )

***