6/07/2009

BAB VII - Pacar Baru Iren

(harap baca dari BAB I yaaa)

Di rumah Nandy
Tempat tinggal ini sungguh sunyi. Tak ada jeritan anak kecil yang berlari kian kemari, apalagi gonggongan seekor anjing rabies yang sedang mengejar makan malam-nya. Maklum, di rumah ini Nandy hanya tinggal berdua dengan Bu Wiana, seorang mama berusia 48 tahun yang selalu menyelimutinya dengan kasih sayang. Hari ini sepertinya Bu Wiana sedang berada di rumah, maka itu saat masuk rumah, Nandy langsung menghampiri kamar mamanya.

Sejak Bu Wiana bercerai dari suaminya 8 tahun silam, dia sendiri yang mencari nafkah untuk menghidupi Nandy, anak yang ia bawa sejak ia bercerai. Dia memiliki sebuah perusahaan penerbit buku populer. Jadwal kerjanya sangat padat. Mau nggak mau dia harus menjalani sebuah rutinitas yang menyesakkan, pergi pagi, pulang malam. Dengan adanya perusahaan penerbit ini, tentu saja uang yang ia miliki juga banyak, tapi ia tak pernah silau dengan harta. Setiap hasil yang ia dapatkan selalu ia simpan dengan rapih. Siapa tau saja sebentar lagi dia sudah tak sanggup lagi mengawasi perusahaan itu.

Hari ini Bu Wiana sedang terbaring sakit di atas ranjangnya.

Ciiitt..

Nandy perlahan membuka pintu kamar mamahnya. Sebentar ia menatap mamah-nya yang melirik kearah dirinya. Nandy pun berjalan mendekat.

“Nak, sudah pulang kamu, malam sekali.” Bu Wiana berkata penuh kelesuan.
“Mah, gimana keadaannya? Udah baikan belum?” Nandy menyalami tangan mamanya yang terkulai lemas.

Bu Wiana bercerai dari suaminya karna beberapa masalah yang sudah tak bisa dihindari lagi. Dan akhirnya jalan seperti ini yang harus diambil. Nandy berpisah dari papahnya, dan juga satu adik lelakinya. Awalnya adiknya itu merupakan hak mamahnya, tapi papahnya yang tak mau mengalah, meminta agar satu anaknya mengikutinya ke Jakarta. Sudahlah, Bu Wiana tidak mau mengambil runyam masalah ini. Dia rela berpisah dengan satu anaknya.

“Besok juga sembuh. Tuh, obatnya udah mau abis.” Bu Wiana menunjuk ke arah sebuah toples sebesar jempol orang dewasa yang berisi obat-obat.

Nandy tersenyum melihat ketegaran mamanya. “Ya udah mah, Nandy keluar yah. Mau mandi dulu nih, bau.”

“Tunggu sayang.” Bu Wiana menyambar lengan Nandy yang berniat pergi. “Se-karang tanggal berapa ya?”
“Mmm... 14 mah.”
“14.. berarti bentar lagi Jonathan, 20 tahun ya?”

Jonathan, nama adik Nandy yang sekarang berada di tangan papahnya. Dan hingga saat ini setelah mereka berpisah kenyataan mereka hanya menjalani 1 pertemuan, itu juga tanpa restu papanya yang ternyata tidak mengijinkan mereka berjumpa kembali.

Nandy memang pernah ketemu sekali di Jakarta. Saat itu Nandy sedang mengikuti Bu Wiana yang menghadiri undangan launching sebuah film yang ceritanya terinspirasi dari novel terbitannya, tepat saat 4 tahun ia berpisah, ia dipertemukan kembali dengan adiknya di tempat itu. Dia bersama seorang lelaki yang tentu saja adalah papahnya. Entah apa yang mereka lakukan di sana. Saat Jonathan sendiri, Nandy pun mendekati. Terjadi tatapan mata yang sunyi selama 5 detik, sebelum Jonathan bergegas bangkit dan pergi meninggalkannya.

Tidak ada sekali-pun terlintas di benak Nandy untuk berlari mengejarnya. Dan mungkin sejak saat itu dia percaya bahwa Jonathan yang tadi adalah Jonathan baru yang telah dirasuki jiwanya oleh ayah yang sudah tak menganggap Nandy sebagai anaknya lagi.

Cerita ini memang tak ada yang menarik untuk di publikasikan. Tapi saat kau me-ngetahui semuanya, cerita ini akan sangat berarti.

***
Tanggal 18 Oktober..

“Aaaaargh. Hari ini Joni ultah, dan gue nggak bisa ngasih apa-apa ke dia.” Ollie mememar-memarkan tubuhnya di atas kasur kamar kos Iren. Dia nggak habis pikir, hari ini ada kekasihnya yang ulang tahun, dan tak ada yang bisa ia kerjakan (buat yang ultah maksudnya. Kalo tidur sih masih bisa).
“Ngak penting banget sih Lie.” Iren masih membaca buku White Broken sambil bersila di atas meja belajarnya.
“Aaaaargh.” Ollie tak menghiraukan pendapat Iren.
“Lagi pula dia juga nggak pernah ngasih.” Iren menambahkan.
“Aaaaargh.” Ollie kembali tak menghiraukan tambahan Iren.
“Aduh Ollie, plis deh. Temen itu nggak wajib di ucapin selamat.”
“AAAAAAAAAAARGHHH.” Ollie lebih tak menghiraukan. “Hah..hah..hah..” Ollie menghembuskan napasnya berkali-kali yang kecapek-an dengan sifatnya yang ke-ter-la-lu-an.
“Capek?”
“Hah..hah..hah..” Ollie masih tak menghiraukan. Sepertinya teriakannya tadi membuat telinga Ollie kabur.
“Terserah dah, gue mau mandi dulu.” Iren menutup buku, turun dari meja, meng-ambil handuknya, lalu bergerak ke pintu kamar. “Baru nyadar ya, ternyata sobat gue punya kelainan.”

Ollie melempar dua bantal sekaligus ke arah kamar mandi yang keburu di tutup Iren. Iren bener-bener udah nggak peduli dengan Joni. Padahal dulu saat Joni ulang-tahun, dia yang peling sibuk menyumbangkan ide kejutan saat otak Ollie (yang sebenernya selalu) mandet.

Salah satunya ide untuk menculik Joni.

1. Pertama, menguntai dari belakang seperti preman yang berprofesi sebagai polisi gadungan.
2. Mengejar seperti preman yang ngeliat polisi beneran.
3. Memasukkannya dalam karung beras yang masih tersisa kutu-kutu nakal seperti preman yang gila beras (ini bukan masalah kutu).
4. Menyeret tubuhnya sampai ke dalam gudang seperti preman yang disuruh bawa maling ke kantor polisi.
5. Melempar agar gampang masuk kedalam gudang seperti preman yang di suruh mengusir gembel dari rumah kontrakan dengan alasan belum bayar uang sewa.
6. Sedikit menggebuk seperti preman yang sedang patah hati.
7. Membunuhnya seperti preman yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran (Sori, kalo ini nggak beneran, yang bener..). Menghidupkannya lagi dengan memberi nafas buatan seperti preman yang takut masuk penjara.
8. Mengejutkannya karna saat karung dibuka, yang terlihat bukanlah suasana gudang tapi cafe (walaupun sesungguhnya gudang) yang di padati kawan-kawannya, seperti preman baru insyaf
9. Terakhir, tentu saja membayar preman-preman yang ikut serta dalam pelaksana-an hal keji ini.

Sekarang dia malah diem. Bener juga sih, apalagi yang diharapkan Ollie?. Bisa apa dia sekarang (ones again, buat yang ultah, kalo tidur sih masih bisa)?

Sudahlah...

Ollie masih memejamkan matanya saat tiba-tiba HP Iren yang berada tepat di sebelah kupingnya, berbunyi. Membuat Ollie cukup terperanjat. Ollie pun mengambil HP itu. Dia lihat nama yang tertera di layar HP. ‘Ruben’. Ternyata itu telpon dari Ruben. HP terus berdering, sedangkan Iren sekarang masih di kamar mandi.

angkat-engga-angkat-engga..

Setelah terjadi beberapa suara dari hatinya, akhirnya Ollie memutuskan untuk mengangkat telpon itu.

“Halo.”
“Halo.”
“Halo.” Ollie kembali memberi salam.
“E... Halo.”
“Oi, gimana sih, udah tau gue nyaut, langsung kek bilang kemauan lo.”
“Iren nih.”
“Bukan sih.. hehe, salah sambung ya?”
“O...h nggak usah bercanda deh, ini Iren kan?”
“Bukan di bilangin.”
“Kalo gitu pasti Ollie. Ini Ruben.”
“Ya iyalah, mana mungkin Iren nggak nyimpen nomor lo.”
“Irennya ada nggak?”
“Tadi kegirangan waktu dapet telpon dari lo. Sekarang dia pingsan, baru aja dikirim ke UGD. Keadaanya kritis.”
“Ollie...” tiba-tiba Iren datang dengan rambut yang basah, sepertinya ia mendengar seluruh perkataan Ollie. Dia pun merebut HPnya secara paksa tanpa meng-hiraukan pemberontakan dari Ollie.
“Ruben ya?” Iren membawa HPnya menjauhi tubuh Ollie. Dengan mengumpat-umpat, dia berbicara panjang lebar.
“Huh!” Ollie melempar tubuh Iren dengan guling.

Setelah dua menit merea bicara, dan dua menit juga Ollie mengganggu, akhirnya Iren mengakhiri pembicaraannya juga. Dengan wajah penuh senyuman, Iren melempar Hpnya ke kasur, disusul tubuhnya yang sengaja meniban tubuh Ollie.

“Aduh, berat lo berapa sih Ren?” Ollie menggusur tubuh Iren dari atas tubuhnya.
“50 kilo.”
“Oh ya? Gue 55.”
“Dan bentar lagi bakal bertambah akibat hadirnya cinta.” Iren berguling menjauhi tubuh Ollie.
“Ciee.. benerkan lo udah jadian?”
“Belum, ih Ollie..” Iren menoyol kepala Ollie. “Malem ini gue di ajak ke CheZZin sama dia.”
“Berdua?” Ollie menyodorkan tanda peace ke atas.
“Berdua.” Iren menyentuhkan peace-nya ke peace Ollie di atas.
“Enak aja. Bertiga dong, gue wajib ikut.” Ollie menambahkan satu jari di tanda peace-nya.

Iren menutup kembali satu jari Ollie yang tadi dinaikkan. Ollie menaikkannya lagi, tapi belum lurus, udah keburu di tutup lagi oleh Iren.

“Sayangnya gue nggak ngizinin lo ikut malem ini.”

***

Suasana malam di rumah nenek. Hanya terdengar suara kuntilanak dari arah pohon jambu yang biasa berkumandang setiap lepas malam. Merasa terbiasa dengan hadirnya makhluk-makhluk non visual di rumah ini, membuat hantu itu selalu dianggap ‘hantu kacangan’ (diharapkan saat membaca untuk tidak menanggapinya secara lanjut).

Termasuk di rumah rumah kos. Semua orang sekarang sedang memfokuskan se-genap jiwa raga nya pada setiap lembaran-lembaran kertas pelajaran yang telah menjadi makan malamnya. Tapi kesibukan ini sama sekali tak dirasakan Iwat, nggak pernah dia memanfaatkan sebuah waktu luangpun untuk membaca catatan. Kecuali saat tugas yang kebetulan sedang membebaninya. Begitulah cara dia untuk mendapat predikat mahasiswa ‘jenius’ atau ‘sok jenius’ bagi mereka yang iri akan kelibihannya.

Sepulang dari CheZZin dan DubZZ (cafe yang berada di sebelah CheZZin), ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa menghiraukan Ipul yang lagi serius mengerjakan PR ‘kurang ajar’ dari SMA ‘keparatnya’ di meja belajar ‘bajinganya’.

Udah hafal betul Iwat suasana hati Ipul jika sedang menunaikan PR matematika-nya. Otak menciut, rambut lusuh berminyak, kulit pucet mengerut, berkeringet dingin, mata merah, gigi kuning (sebenernya ini lebih mengarah ke gejala orang sakau). Berkali-kali Ipul menjeritkan kata-kata kasar kepada guru yang bertanggung jawab akan hidup dan kehidupannya kelak. ‘Bajing Loncat’, ‘budak buduk’, ‘buaya lumpur’, ‘badak cula pantat’, ‘botak eksotis’, karna tak dipungkiri, orang yang bernama asli ‘Batu Bara’ ini pernah menggantung Ipul terbalik di gerbang sekolah dan membiarkannya menjadi bahan tertawaan cewek pujaannya, akibat terang-terangan mengejek si Baba itu ‘manusia berhormon jungkir balik’.

Ke cuekan Iwat dihentikan saat Ipul membanting HP-nya sendiri.

Prang (lho kok ‘prang’)

“Sadar Pul, dunia ini nggak Cuma di atas tangan si Baba itu.”
“Ih, ogah deh menggantungkan dunia gue di atas sebuah tangan kasar yang penuh dosa ini-itu.” Ipul dengan gaya yang ‘oh-lepaskan-aku-dari-pup-anjing-ini!’.
“Kalo gitu nggak usah ngamuk kayak tadi dong.”
“Ngamuk? Maksud lo kayak gini. AAAAARRRRRGGGGGHHHHH!!!!!” Ipul berteriak sekuat tenaga dan hampir membuat lehernya copot dari tubuhnya.

Iwat yang amat merasa terganggu, tak mau ambil pusing, dia membalikkan posisi tidur ke arah dinding sambil menutup kupingnya dengan bantal.

“Wat, ajarin gue dong! Lo itu kan pernah hampir menang olimpiade matematika waktu lo SMA dulu.” Ipul meminta. “Iwaat!!” Melihat Iwat yang tak bergeming, Ipul langsung mengambil jam weker di depannya, dan melemparkan ke Iwat, tepat di pantatnya.
“Aaaw.” Iwat mengelus pantatnya, dia mengmbil jam wekker tadi dan segera melempar balik ke Ipul. “Kampret lo Onta!”

Lemparan nya tadi ditangkap secara tangkas oleh Ipul.

“Ettt, gini-gini gue atlit kasti pentolan lho di sekolah.”
“Pantes buduk.” Iwat kembali membalikkan posisi tidurnya ke arah dinding.
“Wat, please!! Otak gue dah mandet nih kalo lagi ngomongin soal rumus-rumus.” Ipul mendekati Iwat. “Ehem-ehem, Kak Iwat,ayo dong, kakak gak mau adiknya men-dapat masa depan suram kan? Ayolah kak!” Ipul mulai mengelus-elus lengan Iwat.
“Heh, langkahin dulu mayat gue, baru lo boleh nganggep gue kakak lo!” Iwat membalikkan lagi posisi tidurnya, menatap Ipul geli.

Ipul kembali duduk di kursi meja belajarnya. Ia menutup buku-buku matematika nya. “Jenuh gue ngeliat angka-angka. Wat, gue pinjem vespa lo dong. Mau cuci mata nih. Gatel mata gue!”

“Enak aja, langkahin du...” Iwat lebih memilih untuk diam seketika melihat HP-nya yang sudah berada di dalam genggaman Ipul, siap untuk di bumi hancur-kan.

***
Iwat terpaksa mengantar Ipul ke vespa-nya, karna khawatir dengan keadaan Ipul yang belum mahir dalam mengendarai vespa.

Di dalam perjalanan ke vespa, tepatnya saat baru keluar rumah kos, mereka di kejutkan oleh pandangan seorang cewek duduk di kursi depan rumah nenek. Ini lagi gak ngomongin soal kuntilanak, karna yang duduk itu adalah Ollie. Tampangnya mendekati sendu. Iwat pun iseng menghampirinya. Didahului Ipul yang lebih niat iseng meng-hampirinya.

“Sendiri aja?” Iwat duduk pager tembok pendek yang sengaja di buat untuk di jadikan tempat duduk di depan kursi.
“Ya, seperti yang lo liat deh.”
“Nggak baek lo anak gadis sendirian malem-malem di luar!” Ipul menyusul Iwat duduk disebelahnya.
“Elah, mulai deh ceramah, dasar anak onta.” Iwat sedikit menoyol Ipul yang emang kebetulan memiliki paras arab.
“Inikan belum di luar, baru di teras. Kalian mo kema...” kata-kata Ollie terputus seketika ada yang membuka pintu. “Nenek.”

Iwat dan Ipul kelabakan melihat nenek, presiden kos di sini. Mereka lekas berdiri dari duduknya.

“Eh, nenek.” Salam mereka berbarenggan.
“Eleh-eleh, aya si kasep di sini.” Nenek tanpa menyebutkan nama-nya. Jelas aja, dalam kondisi nenek yang mendekati penyakit ‘alzeimer’ alias ‘pikun’, mana mungkin nenek bisa apal semuan nama anak-anak yang tinggal disini. “Ku naon atuh, mmm... ngapel ya?”

Nghaaaa? (suara hati Ollie sekaligus Iwat yang berbarengan dengan teriakan Ipul)

“Nghaaaa?”
“E... engga kok nek, kita kan satu kampus, nggak pa-pa kan kalo mau berbagi pengalaman, apalagi Ollie kan baru masuk.”

Ipul menyikut lengan Iwat seolah bertanya ‘trus-alasan-gue-apa’. Tanggapan EGP keluar beriringan dengan bisikan ‘DL’ dari mulut Iwat.

“Ini kayaknya ada yang mau pergi ya?” Nenek menuduh.

Secepat kilat Iwat menunjuk Ipul. Seolah ingin menghindari sebuah dampak saat nenek mengetuhinya.

“Iya nek, saya pergi dulu ya.” Ipul bergerak keluar teras menjauhi panggilan nenek. Langkahnya terhenti seketika ada yang memanggil, Iwat, bukan nenek, dia me-lemparkan kunci vespa yang masih dalam genggamannya. Ipul menghembuskan nafas gelisah. Dia kembali berjalan, tapi terhenti lagi, yang ini adalah suara nenek. Napas pun ditariknya dengan kasar.

“Nenek nitip batagor ya, biasa, di tempat langganan. Nanti duitnya nenek yang ganti.” Seperti biasa.
***
Sesaat setelah adegan batagor tadi.

Suasana makin ribut di teras nenek. Cekikikan setan-setan tua ditandingi oleh jeritan kawula muda gila yang bersenandung aneh.

Du.. dududu.. du...
Senang hati bebas..
Bangganya ku lepas..
Tinggi melayang mencapai pentas..
Bernyanyi tuntas..
Hingga rasa hati puas..
Dan mati terlindas..

Lagu apa’an tuh? Tepatnya satu bait ciptaan Iwat yang spontan kluar dari hatinya. Sialnya lagu itu langsung memikat hati Ollie sampai-sampai rela menutup telinganya.

“Gue nggak nyangka lo bisa ngerock juga!” Ollie memberi tanggapannya setelah mengetahui tak satu kata lagi yang di keluarkan Iwat.

“Hahah.. emang gue tau kalo gue bisa nyanyi?”

Mereka terus bersenda gurau sejak tadi. Berbincang-bincang hingga satu diantara-nya mengeluarkan joke-joke segar walau sedikit jayuz.

“Suara piano lo jauh lebih indah! Ternyata lo mahir juga ya maen piano. Apa lagi lagu yang waktu itu lo mainin di CheZZin, nyentuh hati gue banget.”

“Lagu yang mana? Banyak kali lagu yang gue mainin di CheZZin.”

“Belum lama ini sih. Oh ya, hari Minggu, kira-kira seminggu setelah lo ngecat kamar gue. Pokoknya hari itu lo make kupluk bertali yang warnanya putih, sama sweater abu-abu. Lagu itu lagu yang terakhir lo mainin.”

Iwat sok berpikir sambil mengeluarkan kata ‘mmmm’ yang biasa digunakan sebagai alasan murid untuk menghindari pertanyaan gurunya. “Gue inget. Emang bener lo suka sama lagu itu?”

“Banget. Ngomong-ngomong, itu lagu siapa Wat?”

Iwat menundukan kepalanya, sejenak untuk melihat 10 jarinya yang bergumal nggak jelas. Kemudian kembali menatap Ollie dengan cengir menjijikan. “Gokil, gue gak nyangka ada yang segitu segannya ama lagu ini. Ini karangan gue, jack.”

Bumm..

Ternyata lagu yang dapat membuat hati Ollie menari-nari hingga berjingkrak sekalipun, adalah hasil karya Iwat. Si cowok kurang ajar yang nggak bisa ngehargain perasaan cewek itu. Mana mungkin Ollie segampang itu percaya.

“Gue kasian sama lo Wat, ngidam pengen bikin lagu profesional, sampe-sampe ngakuin karya orang lain sebagai ciptaan lo sendiri.”

“Kalo gitu buat apa CheZZin di undang sampe ke Amerika segala? Ya itu karna pemain-pemainnya udah termasuk profesional dalam mengarang musik apalagi ngebawainya.”

Ruben emang pernah cerita kalo CheZZin ngadain live concert di Amerika. Dan pianis muda menjadi bintang saat itu. Nggak salah lagi, itu pasti si Keiwataru.

Wow, Iwat keren abis.. udah cakep, genius, jago bikin lagu.. jangan-jangan..

Upps..

Apa’an, ngapain gue ngebangga-banggain si item ini? Kurang ajar, belagu, nggak pernah ngerti perasaan cewek, jorok lagi.. hiii..



L K J



Filsa.

Perempuan berdagu panjang ini berjalan melintasi rumah kos-nya menuju pintu pagar, hendak keluar untuk mengunjungi keluarganya yang tinggal di daerah Subang. Liburan gini emang saatnya untuk sekedar menengok keluarga dan menagih uang saku mereka.

Akhirnya mukanya kembali ceria sejak peristiwa tragis yang jelas melanggar HAM sebagai perempuan yang patut disayangi. Setelah melewati masa penyembuhan pembengkakan bola mata, Filsa pun berani lagi keluar rumah tanpa menggunakan kaca mata hitam.

Dengan dagu yang mengarah lurus ke bawah (Pastinya, apa ada dagu yang me-nyamping?), dia berjalan layaknya seorang penyelamat dunia yang tetap tegar walaupun kaos kaki keramatnya dicuri. Semua anak kos pun tercengok melihat ‘dagu’ nya yang terlihat lebih panjang 1 cm. Filsa makin menarik dagunya tanpa rasa malu sedikitpun (Sayangnya tak ada orang berdagu panjang yang ikut serta dalam penulisan naskah ini).

Saat di luar pagar, tangannya pun mulai melambai keluar bermaksud meng-hentikan angkot yang dari tadi hanya lalu lalang (Tak tertutup kemungkinan bahwa mereka ngeri dengan bentuk dagunya). Lambaian tangannya terhenti seketika ada yang menyambar bahunya, yang membuat ia membalikkan badan.

“Hei Filsa, mau kemana?” Iwat, ternyata ia yang menghentikan lambaian tangan Filsa. Apa maksudnya?

Tentu saja ada yang hampir sport jantung disini. Iwat yang pernah membuat hati-nya menjadi serupa dengan sabun colek, yang membuat matanya melebihi bola ping-pong, dan sempat membuat dagunya menyusut ½ cm, bersikap sok perhatian sekarang.

“Eh, mmm, hhh..” tak sebuah kata yang berguna di keluarkan Filsa.

Dag-dug-dig..

“Ehmmm, aku mau minta maaf soal tempo hari dulu. Waktu itu aku lagi kebawa emosi, jadi nggak bisa menjernihkan pikiranku untuk ngomong sama kamu.” Mukanya memerah padam.

Filsa menatap Iwat serius tanpa terhalang dagunya. “Aku nggak percaya kalo waktu itu kamu lagi emosi. Emang dasar sifat kamu kayak gitu kan? Nggak bisa nge-hargain perasaan cewek. Aku sadar, selama ini kamu baik sama aku Cuma ingin mainin perasaan aku doang, soalnya kamu bisa nebak kalo aku itu udah lama suka sama kamu.”

“Eeee.. nggak-nggak bukan maksud aku buat...”
“Udah lah Wat.”

Mereka sama-sama terdiam. Iwat mengetukan ujung sepatunya berkali-kali ke aspal. Suasana hening beberapa detik saat tak ada lagi mobil yang melintas.

“Trusss..” Filsa memecah keheningan saat tak ada respon lagi yang Iwat berikan.
“Ya... lo mau ma’apin gue nggak?”
“Gue nggak pernah nganggep serius masalah ini. Emang sih saat kejadian itu gue pengen banget nyekek leher lo. Tapi sekarang, biasa lah.”
“Oo...h.” Apa yang di maksud dengan ‘oh’ itu?
“Jadi, lo masih buka kemungkinan buat gue?”

Bumm..

Tenggorokan Iwat tiba-tiba saja tercekat dengan pertanyaan tadi. Tak ada suara sedikitpun yang mampu ia publikasikan saat ini.

“Ya enggak lah Wat, gue bercanda. Respon lo kayaknya sampe segitunya deh. Gue tau, lo lagi pedekate sama cewek lain, pesen gue Cuma satu, jangan buat mata cewek itu membengkak ya!” Filsa melancarkan aliran udara di tenggorokan Iwat.
“Cewek yang mana?”Show All
“Yang mana ya? Gue pergi dulu ya Wat, keburu sore nih.” Filsa kembali berniat menyetop angkot. Namun tangan Iwat kembali menyambar.
“Mau kemana sih? Gue anterin deh.” Iwat berlari kedalam dan kembali sambil mendorong vespa nya. “Silahkan naik!” Iwat duluan yang menuduki vespa itu.
“Mau ke Subang, lo mau nganterin?”
“Subang? Mmmm, gue anterin sampe terminal aja deh.”
“Okay, ngirit biaya nih.” Filsa duduk di belakang Iwat. Tas yang ia bawa tak besar, ialah hanya semalam.

Iwat menggas vespa nya. dia menatap ke pohon jambu sebelum menjalankannya. Disana berdiri seorang Ollie yang dari tadi mengintip. Mereka berdua menyodorkan jempolnya masing-masing. Dua detik, lalu pergi.

Ternyata Ollie lah yang memaksa Iwat untuk menyadari kasalahannya kemarin. Memang pertama Iwat menolak mentah-mentah. Namun 2 jam berikutnya, Iwat pun akhirnya setuju dengan alasan ‘kropos gue 2 jam dengerin khotbah lo’.

***
1 jam sudah waktu yang Ollie hitung saat Iwat pergi mengantar Filsa ke terminal. Dari tadi ia nyengir-nyengir sendiri bila membayangkan peristiwa semalam yang cukup memaksa batin Iwat. Seperti yang di bahas tadi, sampe 2 jam Ollie menceramahi Iwat tentang makna kasih sayang dan kata maaf, sampai akhirnya Iwat luluh. Bukan karna sadar, tapi ia kasihan dengan kupingnya.

Semenit setelah genap 1 jam kepergian Iwat, tiba-tiba lagu sexy back keluar dari speaker HP nya. Itulah tanda telpon masuk.

Ollie dengan sigap segera merogoh kantongnya. Dari layar HP nya, keluar tulisan ‘Iwat Item’. Ollie pun menekan tombol hijau.

“Assalamualaikum, bang!” salam Ollie pada Iwat, lawan bicaranya.
“Walaikumsalam, ngkong. Kagak penting lo pake salam-salaman segala!”
“Mengucapkan salam itukan pahalanya gede.”
“Iya-iya ngkong ku! Puas lo sekarang?”
“Ah.. kurang, mestinya lo nganterin dia sampe Subang, jangan Cuma ke terminal doang, dong!”
“Lo mau bayar ongkos bensinnya?”
“Gue balikin modalnya aja deh.”
“Trus tenaganya?”
“Dasar mata duitan!”
“Emang. Pokoknya sekarang juga lo ke kamar kos gue, pijitin seluruh badan gue 2 jam lamanya!”
“Itu sih mau lo. Dasar item..”
“Emang.”
“Norak..”
“Emang.”
“Gila..”
“Emang.”
“Pacar Filsa.. Emang”
“Em..., ‘Eeeehhh kampret lu.”
“Hahahaha”

***

Ketika sore semakin larut, Iren dengan tampang lesu berjalan mengeluari pintu rumah nenek. Ollie menemaninya sampai ke pintu luar. Setelah puas mereka menggosip, dan menikmati celotehan nenek sambil membantu-bantu di dapur.

Sebelum Iren pergi meninggalkan rumah ini, ia terlebih dahulu mengorek kantong celanaya. Selembar gocengan yang terlihat telah remuk dalam genggamannya. Tiba-tiba ia menaruh uang itu di atas telapak tangan Ollie.

Tentu saja Ollie heran melihatnya. Dia menatap Iren dengan nada ‘what`s wrong’.

“Gue mau berbagi kebahagiaan sama lo.” Iren menjelaskan. Namun tak jua membuat mimik Ollie berubah. “Itu hasil gue sama Ruben. Sorry deh kalo gue telat ngasih tau lo.”

Tampang Ollie mendadak berubah. Wajahnya penuh dengan seri-seri menakut-kan. Bibirnya terlalu lebar untuk tersenyum. Matanya terlalu belo’ untuk melotot. Rambutnya terlalu panjang untuk berdiri. Giginya terlalu kuning untuk unjuk. Nafasnya terlalu bau untuk berteriak....

“KOK CUMA GOCEEE.....NG???? PELIII....T”

***

-bersambung-

6/05/2009

BAB VI - Dia Lagi Deh

(harap bacanya dari bab I yaa)

Jam lima sore di rumah nenek, aktifitas rutin yang kebanyakan peng-huninya lakukan adalah:

1. Untuk nenek sendiri : masak makanan buat dimakan besok pagi (kenyataan bahwa microwave itu sangat berguna di rumah ini), ngemil kue bikinan sendiri sambil nonton acara sore atau biasa disebut dengan ‘infotaiment’.
2. Uwak Ning : menghindari kemalasan nenek memasak di pagi hari dengan menyiapkan makan malam (untuk malam), ngemil kue bikinan nenek sambil nemenin nenek nonton ‘infotaiment’.
3. Uwak Didik : masih ngurusin (bukan perutnya yang kaya gentong) usaha optik dan apoteknya yang kebetulan mempunyai kesamaan tempat.
4. Teh Tia : sibuk dengan pelajaran dan pengajarannya pada anak SD + SMP yang membutuhkan guru privat matematika (pelajaran yang sukses membuat Ollie pingsan saat ujian). Calon dokter genius yang keseharian-nya selalu diisi dengan membaca (buku pelajaran pastinya).
5. Sedangkan Ollie : dengan bangga memamerkan sebuah suara yang mengguncang di kamarnya. Menunjukan kehebatannya mengenai keberuntungan dalam tes SPMB kemaren.

Emang dari kecil Ollie mempunyai cita-cita untuk dapat menghibur orang dengan senandungnya. Tapi, semenjak menderita karna dilempar botol saat mengikuti lomba nyanyi di sekolahnya... membuat Ollie sadar dan memutuskan bernyanyi demi kesenangan pribadi.

Malam ini Ollie akan pergi lagi ke CheZZin lagi. Bersama Iren. Dan bejibun SMS yang memaksa, seperti...

Message 1, 15.47
From : Iren My Beibilop
Lie... syalan loe!! Kok kabur sih tadi,, pan msh ad yg mau gw omongin.

Message 2, 15.50
From : Iren My Beibilop
Udh kgk usah minta maap,, mlm ini kt k CheZZin, oce!

Message 3, 16.01
From : Iren My Beibilop
Kgk pake Protes!! Gw mau lo ngeliat lagi pianis kmaren. Kalo ganteng, pan lo jg yang seneng. Syapa tau dia yg bkl ngisi hati lo.

Setelah SMS ke-3 ia terima, Ollie jadi bener-bener berpikir. Pianis itu, jam setengah sembilan dia bakal main lagi. Dan Ollie jadi bener-bener membulatkan keinginannya mengikuti kemauan Iren. Mantaps.

Message 4, 16.45
From : Iren My Beibilop
ok deh, sepakat semuanya. Nanti gw jmpt lo jam 7.

Message 5, 17.31
From : _Regha
Ada suami lo tuh d MYTV.

Message 6, 17.33
From : Iren My Beibilop
ollie.. liat MYTV, please. Sekarang, please.

Yak, dari pembahasan tentang pianis, langsung berpindah ke acara Justin Timberlake di MYTV.

Message 7, 18.45
From : Iren My Beibilop
Gw jmpt lo sekarang. Jgn lupa bw White Broken-nya ya! Kt bhs nnt.

Duk-duk-duk..
Terdengar suara pintu di ketuk dari arah pintu utama rumah nenek. Tidak salah lagi, sekarang jam 7 malam, pasti Iren yang datang untuk menjemput Ollie. Ollie dengan segera berlari menyalip nenek yang baru saja ingin membuka pintu.

“Biar Ollie aja nek.” Ollie membuka pintu. Terlihat di luar Iren yang sudah berpakaian rapih, wangi dan cantik. Beda dengan dirinya yang masih memakai kaos oblong dan bercelana pendek. “Hoi.”
Iren menyempatkan 2 detik untuk melihat penampilan Ollie, lalu ia mengernyitkan dahi. “Lo mau pake ginian?”
“Gue belum mandi tau.”
“Hngaa..! Duh Ollie, udah berapa kali sih gue ngirim SMS ke lo, masa gak ada yang di baca?”
“Gue sengaja tau.” Ollie menarik Iren masuk ke dalem. “Supaya lo bisa kenal deket sama nenek gue.”

Mereka sampai di ruang TV. Di sana duduk nenek. Yang lagi asyik ganti-ganti ‘cenel’ TV.

“Nek, Ollie titip Iren ya.” Ollie meninggalkan Iren bersama neneknya. Sedangkan dia pergi ke ruang belakang untuk mandi.
Iren duduk di sebelah nenek, dengan senyum-senyum nakalnya. “Nek.”
“Eh iya, Iren nyak. Ollie teh sering cerita tentang kamu ke nenek. Mau pergi kemana sih, malem-malem, anak gadis juga.”
“Hngg.. mau ke cafe nek sebentar, ada urusan mendadak. Lagi nonton apa nek? Kok di ganti-ganti mulu.”
“Ini, lagi nyari ‘Infotaiment’, kumaha atuh, masa teu’ aya.”

Jeger.. jam 7 nih lebih nih, masih ada gosip?
***
Lima belas menit sudah Iren menunggu, akhirnya Ollie keluar juga dari kamar mandi. Tapi masih ada 10 menit untuk nunggu Ollie dandan, juga 5 menit untuk nunggu Ollie pamitan kepada neneknya.

Mereka berdua melewati gelapnya malam, lalu mereka memasuki mobil VW kodok Iren. Kini penampilan Ollie menjadi lebih fresh. Beda dengan Iren yang sudah mulai ngantuk.

“Gimana Ren pendapat lo tentang nenek gue.”
“Sama kayak lo, doyan nonton gosip.”

Mereka berlalu. Ollie tak akan lupa dengan pesan nenek tadi, ‘Hati-hati nyak geulis, di Bandung banyak brandalan. Jangan coba maen-maen sama mereka. Salah-salah nanti kamu diapa-apain lagi.’ Dan juga gak lupa pesan di sisi yang lain, ‘Kalo pulang, tolong beli’in nenek batagor, nyak!’. Huh.
***
Kembali dalam suasana klasik di CheZZin. Tempat ini kembali dipenuhi oleh wanita-wanita berlipstik dan farfum menyengat mereka. Ollie juga kembali merasakan kejanggalan saat berada disana.

Kalo Ollie nggak terpesona dengan alunan pianis kemaren, mungkin Ollie nggak akan rela balik lagi ke sini walau harus di seret sekalipun. Hanya ada 5 ke-giatan utama yang akan Ollie penuhi disini..

-mendengarkan alunan musik sang pianis kemaren.
-mendekati sang pianis.
-minta kenalan.
-sukur-sukur kalo ganteng minta no. HP
-kabur dari cafe itu dan berjanji tak akan kembali.

Namun sepertinya Iren berkehendak lain. Ada kegiatan di luar kegiatan Ollie tadi yang sudah Iren rencanakan. Penjabaran tentang buku White Broken kepada Ollie yang mungkin kurang mengerti dengan penjelasan-penjelasan dalam buku itu.

“Mana White Broken nya?” Iren menyodorkan tangnnya di depan Ollie.

Ollie mengubek-ngubek tas, dan mengambil sebuah buku yang dimaksud. Di taruhnya buku itu di atas tangan Iren. Iren membacanya sebentar (15 menit itu sebentar lho untuk membaca buku, apa lagi buat yang mau ngeguru).

“Gimana Ren, dapet nggak pokok bahasanya? Gue mah nggak ngerti.”
“Lumayan.” Lumayan, berarti Ollie masih harus menunggu lagi. “Dalem buku ini terdapat jenis-senis patah hati yang sedang pembaca rasain. Pertama patah hati karna kejenuhan dia terhadap lo, kedua patah hati karna penghianatan. Dan ketiga.. patah hati karna ditinggal untuk selamanya.” Iren memulai sesi pengajaran. “Kira-kira lo masuk kategori yang mana, Lie?”
“Menurut loe? Nggak ada apa yang patah hati karna di tinggal pergi ke Amerika dan sampe sekarang kita nggak tau keadaan dia.”
“Isi buku ini nggak mungkin sama persis kaya kisah lo.” Iren melotot dan memperkeras suaranya. “Ya mungkin elo masuk ke dalem kategori nomor 3 deh Lie.”
“Tapi...”
“Lo nggak tau keadaan dia sekarang. Lo sama Joni itu udah kayak di dua dunia. Menjalin cinta tapi tanpa kontak. Dan dalam kategori 3 ini, lo diajak supaya bisa nge ikhlasin kepergiannya karna takdir yang udah diatur. Ngerti.”

Ollie memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia enggan menatap mata Iren yang penuh harapan.

“Kita sama-sama kehilangan, tapi jangan berpiki negatif dulu.” Iren menggenggam pergelangan tangan Ollie yang makin mendingin. Lalu ia menutup buku yang ia pegang. “Kita lanjutin pelajarannya besok aja ya.”
“Lho, kenapa Ren? Gue gak sedih kok, terusin dong!” Ollie memaksa.

Mata Iren menunjuk seseorang yang sedang berjalan mendekati mereka.

“Hei girl!! Ada acara apa’an nih dateng kesini? Pada kangen sama gue ya.” Ruben nyamber dan langsung menduduki kursi yang tersisa di meja itu (meja Ollie dan Iren pastinya).
“Hati-hati, orang ge-er itu bibirnya jeber lho.” Saran Ollie dengan maksud ingin mengejek.
“Nandy mana nih? Kok nggak keliatan.” Ruben celingukan ke sekitar.
“Nggak pa-pakan kalo berdua doang? Aku Cuma mau nganterin Ollie yang mau kenalan sama pujaan hatinya kemaren.”
“Puja’an hati? Nanti dulu dong mbak, kita liat tampangnya dulu.”
“Jadi kalo ganteng, mau lo gaet? Kalo buruk rupa, mau lo apa’in dong?” Iren bertanya. Ollie tersenyum, senyuman yang nakal. “Wah, cewek dangkalan lo!” Dari senyum najong Ollie, mungkin Iren sudah dapat menebak jawabannya.
“Ngomong-ngomong, cowok yang lagi lo omongin ini, pianis kemaren ya?” Ruben memastikan dengan gaya yang ‘gue-alergi-sama-curut’. “Tenang aja, kalo liat tampang sih, lo nggak bakal kecewa.”

Iren dan Ollie saling tatap. Lalu mereka mengeluarkan senyum kemenang-an. “Inner nya gimana, Ben?”

Gaya Ruben kini berubah menjadi gaya yang ‘gue-geli-sama-anjing-buduk’. “Jujur, gue gak terlalu suka sama inner nya.” Ruben menatap pandangan sedikit kecewa dari raut wajah Ollie, begitu juga Iren. “Ya itu baru menurut gue. Semua itu kan relatif. Lo mau kenalan sama dia, Lie?”

“Mau, tapi kok dari tadi dia nggak muncul ya?”
“Hari ini dia lagi main di cafe sebelah. Sini gue anterin, kita nggak perlu keluar kok, tinggal lewat lorong belakang aja.” Ruben menarik tangan Ollie dan Iren. Dengan pasrah, mereka mengikuti kemana Ruben inginkan.

Mereka berjalan memasuki sebuah lorong. Lorong yang cukup besar dan gelap mungkin. Dengan tempelan-tempelan lilin kecil di dinding lorong itu. Lorong itu kira-kira mempunyai panjang 12 meter. Baru memasuki lorongnya saja suara musik dengan volume yang cukup memengangkan telinga sudah menggelegar.

Cafe ini sungguh berbeda dengan CheZZin. Suasananya anak muda banget. Dinding cafe ini hampir seluruhnya terdiri dari kaca. Warna sofanya hitam, merah dan sedikit kuning (maaf bila menjijikan). Orang-orang yang berada di dalem mengenakan baju yang lebih santai. Setara dengan baju yang sedang mereka gunakan. Musik yang dimainkan juga jauh berbeda.

“Cafe ini emang khusus buat kita-kita. Nandy aja yang terlalu tua, doyannya dengerin musik klasik atau jazz.”
“Aku juga suka kok sama selera musiknya mas Nandy.” Ollie protes.

Ruben berhenti pada sebuah sekat yang berisi seperangkat tempat duduk. Lalu ia melepaskan genggaman tangan yang menggenggam tangan Ollie dan Iren. Mereka menduduki pantatnya masing-masing.

“Kok tumben kita nggak duduk di deket panggung?” tanya Iren.
“Yang duduk di sebelah panggung itu khusus buat orang yang mempunyai kekuatan kuping lebih dari orang normal. Musik yang di mainin di panggung itu bisa ngebuat jantung lo lompat-lompat.” Ruben menjelaskan. “Cafe ini masih satu grup sama cafe sebelah. Namanya DubZZ. Oh ya, kayaknya Kei baru selesai main tuh, gue bawa dia kesini ya.” Ruben berlalu setelah mendapat anggukan kepala dari Ollie dan Iren.
“Ren, nama pianis itu siapa? gue lupa.”
“Mmmm.. Keiwataru Takainuchi katanya.”
“Lucu ya, namanya Jepang banget. Padahal katanya Indonesia asli.”
“Bokapnya Jappanesse holic kali.” Iren menatap Ruben yang berjalan men-dekat sambil membawa seorang lelaki. Mereka berjalan di belakang Ollie. Semakin dekat. Iren makin dalam melihat lelaki yang di bawa Ruben.

Siapa ya.. siapa ya.. kok kayaknya gue kenal. Iren bergumam dalam hatinya. “Lie, kayaknya gue pernah liat orang itu deh.”

“Oh iya, itu kan waitress yang nganterin minuman buat kita kemaren ya?”
“Bukan yang itu, di belakang.” Iren menunjuk tanpa memandang mata Ollie yang berlaenan arah.

Ollie membalikkan badannya.

“Lie, Ini yang namanya Kei.” Ruben memperkenalkan orang di sebelahnya.

Jegerr..

Bagai disambar petir rasanya. Lelaki bersweater ijo. Yang melayangkan hati Ollie lewat lagunya kemaren, yang dicari-cari untuk di ajak kenalan, ke’IWAT’aru. Bisa ya. Pertemuan mereka selalu tak bisa diduga.
Maksud semua ini apa?
***
Terpaksalah Ollie harus berbincang-bincang dengan Iwat, juga Iren yang sepertinya dari tadi punya niat buat nyomblangin mereka berdua. Iren bertanya macam-macam kepada Iwat.

“Ren, udah malem nih, nanti gue gak sempet beliin batagor buat nenek gue.” Ollie mulai mengeluh.
“Oh iya, kayaknya bentar lagi gue juga mesti manggung nih.” Iwat mem-bela.
“Ya udah lah, yuk Lie. Dah, Iwat. Lain kali ketemu lagi ya.”

Iren dan Ollie pergi ke lorong lagi untuk mengambil mobil nya di cafe sebelah. Saat ingin memasuki lorong, tiba-tiba ada waitress yang memanggil.

“Permisi teh, ini ada titipan dari A’ Ruben.” Waitress itu mengantarkan sebuah potongan kertas kecil kepada Iren.
“Buat saya?”
“Katanya sih buat Iren.”
“Oh, makasih ya.”
“Sami-sami.” Dia berlalu.

Iren masih bingung dengan kertas itu.

“Buka dong Ren!” pinta Ollie.
“Entar aja ah.” Iren memasukannya ke dalam saku celananya.

***
Di dalam sebuah kamar kos yang simple dan dingin, tergeletek seorang perempuan cantik sedang mengalami kecapekan akibat menemani temannya keliling-liling nyari kios batagor yang berada di Bandung seluas ini.

Sambil tiduran,ia mencoba merogoh kantong celananya, dan mengambil sebuah kertas di dalam (kantong maksudnya). Setelah beberapa detik mencari, akhirnya tersentuh juga (woi.. woi.. maksudnya kertas itu). Dia membuka, dan membaca sebuah tulisan..

08167577xx
Please, call me on 11 o’clock
Ruben


Dia melihat ke jam dinding ber title Monokorobo black and white yang terpaku di atas kasurnya. 11.36, sudah terlambat sih, tapi mungkin Ruben masih menunggunya.

Diambilnya sebuah HP dan langsung ia pencet 10 digit nomor yang telah tertera. Iren (nah akhirnya Iren juga) menunggu, masih menunggu dan saking lamanya menunggu, Iren hampir saja mau menutup sambungan itu. Tapi saat ia ingin memencet tombol merah, tiba-tiba terdengar suara keras keluar dari HP-nya.

“Halo, siapa sih nih? Jam segini nelpan-nelpon, lo kira gue ini kuntil anak apa?” suara itu terdengar kasar dan sedikit semaunya. Mungkin akibat tak sadar-kan diri saat menerima telpon itu
“Ruben. Kamu yang nyuruh aku nelpon, tapi kok kamu yang ngambek?”
“Eh, Iren.” Suara di sana terdengar lebih segeran. “Lagian kamu nelpon jam segini! Aku kan nyuruhnya jam 11.”
“Ya ampun, Cuma kelebihan setengah jam doang.”
“Setengah jam..” Ruben diam, sepertinya ia sedang melihat jam. “Setengah jam tujuh menit.”
“Beda dikit. Mau ngomong apa sih, cepet dikit dong.”
“Mmmm, Ren.”
“Ya...”
“Emm.....”
***
“I MISS YOU...? Hahahahaha.”

Ollie berkaget-kaget ria di kampus saat Iren menceritakan kejadian semalam bersama Ruben. “Gila, 2 kali pertemuan lho.” Ollie menyodorkan tanda peace ke depan mata Iren, dengan suaranya yag masih tersendat-sendat.
“Iya, baru dua kali pertemuan.”
“Hebat lo Ren, itu tandanya si Ruben jatuh cinta sama lo.” Ollie menepuk pundak Iren.
“Gue juga tau, tauan manasih gue sama lo soal cinta?”
“Ya tauan lo dimana-mana lah. ‘Oww, jangan-jangan lo dah jadian lagi. Pajak nya dong?” telapak tangan Ollie terbuka di depan mata Iren.
“Belum.”
“Massssaaak”
“Capek ah ngomong sama lo!” Iren mempercepat jalannya menjauhi Ollie dengan senyum-senyum malu.

Saat Ollie berlari mengejar Iren, tiba-tiba.. “Waaaaw, Outch.” Kakinya terjelembab ke dalam got kecil, dan mengakibatkan sebuah bunyi ‘cklik’ dari telapak kakinya yang berada dalam got. “Adaaaww!!”
***

Iwat berjalan memasuki kantin terbesar di kampus ini. Dan kantin inilah yang paling doyan ia datangi. Selain masakannya enak, letaknya juga tak jauh dari gedung Elektro. Dia biasa datang kesini sekitar jam 12 untuk menemui Dean, selingkuhannya (bussyet). Sama dengan hari sebelumnya, Dean lah yang paling rutin datang, semetara Iwat, kalo dia lagi segan aja.

Masih dengan keadaan santai ia menerobos bau-bau makanan yang menggoda. Tanpa menghiraukan suara misterius yang memanggil-manggil nama-nya. Dia masih berjalan sampai akhirnya menemukan incarannya.

“Hei Bro! Wah, makan apa nih? Bagi-bagi dong.” Iwat nyerocos sambil me-ngangkat semangkuk mie ayam yang sedang dinikmati Dean.
“Heh.” Dean kembali mengambil semangkuk mie ayam yang sayang bila di relakan untuk Iwat. “Tumben lo kemari?”
“Kangen aja sama kamu.” Iwat duduk di samping Dean dan memeluk tubuhnya. Dean yang terganggu langsung memberontak. “Biasa aja kale.”

Dean melahap makanannya dan menunggu Iwat yang sedang memesan makanan juga. Tidak berlangsung lama, Iwat-pun kembali membawa sebotol pepsi.

“Dapet salam tuh dari Dini, katanya dia baru putus sama cowoknya.”

Tak ada reaksi apapun dari Iwat saat mendengar kabar itu, dia masih meminum pepsi nya santai. “Ehemmm. Udah 11 kali gue denger kabar itu. Nggak penting banget sih, ngapain pake nyampe’in ke gue. Mau dia putus kek, mau dia cere’ kek, mau boker, mau ngidam, mau teler, mau mati, yang namanya ‘Dini’ mah bukan urusan gue.”
“Sok jual mahal lo! Cewek sempurna di tolak.”
“Heh, nggak ngerti-ngerti ya lo. Udah gue bilangin, ‘cewek itu nggak penting’ (sialan lo Wat), bisanya Cuma nyusahin cowok doang. Meronta-ronta sok manja untuk minta dikasihani.”
“Dikasihi.”
“Sama aja.”
“Beda kasep (ganteng).”

Istri = Pi, Papi. Mami udah nggak kuat lagi nih, mau ngelahirin.
Suami = Sabar ya Mi, jalanannya masih macet nih.
Istri = Cepeeet,salip-salip aja mobil di depan.
Suami = Sabar Mi, sabar. Mana bisa nyalip, nanti kita nya yang mati.
Istri = Udah deh kalo kayak gini lebih baik Mami aja yang mati sekalian!

“Huh. Bikin ‘Capek deh’.” Iwat berhenti sebentar untuk menyedot pepsi-nya.

Sementara Dean, dia hanya mendengarnya secara pasrah, padahal dia udah sering banget mendapat penjelasan itu dari mulut Iwat sendiri.

“Ehemm. Dan lagi, menurut cowok sinting katanya cewek itu bisa me-muaskan nafsu laki-laki. Tapi apa’an, kebahagiaan yang mereka kasih itu semu. Bisanya Cuma ngasih anak doang, selebihnya, laki juga kan yang ngurus anak itu.”

Suami = Buset dah, stiap hari gue dijejelin bakwan goreng mulu ya.
Istri = Heh, masih mending dimasakin, mami sibuk nih! Gak ada waktu masak.
Suami = Sibuk apa’an? Uang, ada yang ngurus, anak, ada juga yang ngurus. Sibuk shoping mah? Masak itu kan gak lama.
Istri = Papi udah nggak percayaan lagi sama mami, kalo gitu Mami mati aja deh!

“Itu mah emang si Mami-nya kagak normal.” Dean melahap suapan ter-akhirnya.
“Nah, sama aja kayak cewek-cewek biasanya.”
“Kalo gitu elo yang punya kelainan!” Dean bergegas meninggalkan Iwat. “Ada satu pemberian cewek yang gak bakal lo temu’in dalam sosok cowok. Cinta. Setiap cowok bakal luluh bila mendapatkan cinta seorang cewek.” Dean berlalu meninggalkan Iwat yang masih termangu.
“Hmm, cinta.” Iwat berkata seolah ‘gue-nggak-kenal-sama-dia’. “Dasar Ten‘dean’.” Dia menghabiskan pepsi-nya, dan kemudian pergi menjauhi kantin. Iwat.. Iwat, makanya kalo mau ngerasain cinta, belajarlah menghargai cewek!

***
Dalam sebuah ruangan, sepi, seorang wartawan yang wajib menunaikan segala kewajibannya, diminta untuk mengintrogasi seorang psikolog awam tentang apa dan akibat patah hati itu.

“Bagaimana menurut anda tentang manusia yang sedang patah hati?” Wartawan membuka pertanyaan.
“Mmm.. menurut saya manusia yang sedang patah hati itu harus memiliki banyak duit untuk membayar psikolog handal seperti saya. Ooo.. syukur-syukur mereka bersedia untuk melaksanakn operasi pencucian otak. Ya.. sekedar menghindari...”
“Sory-sory pak, apa itu tidak terlalu berlebihan?”
“Okay, bagi orang yang gak mau ambil ribet atau ‘kere’, sepertinya RSJ lah tempat yang cocok untuk mereka.”
“Saya tidak sedang membicarakan orang sakit jiwa.”
“Apa bedanya?”
“Orang patah hati itu cenderung masih nyambung dibanding orang sakit jiwa.”
“Lho.. saya kan pakarnya, kok anda yang sewot sih?”
“Ya.... What ever lah.”
“Truss, apa yang akan anda tanyakan disini?”
“.......”

Sejak saat itu sang wartawan pun menyadari bahwa ternyata orang pintar itu banyak yang sakit jiwa.
Ya.. memang sakit jiwa..
Orang terpelajar itu banyak yang sakit jiwa..
Orang patah hati gak kalah banyak yang sakit jiwa..
Percintaan terhadap sesuatu menjerumuskan kita ke penyakit itu..
Cinta pelajaran, cinta karier, cinta pacar..

Cinta itu bodoh..
Memang cinta itu bodoh..

Ya..

“Memang cinta itu bego.”
BUKK
Sebuah hantaman buku esiklopedia 2380 halaman pun berhasil membangunkan Iwat dari semua mimpi singkatnya.
“KAMU LEBIH BEGO!! Dasar Iwat. Siapa yang nyuruh kamu tidur di kelas saya??!!”

***

Sebuah tragedi di rumah neneknya Ollie.

“AAA....WWW, AMPUUUUN NEKK. SAKKIIIT.”, teriak Ollie yang sukses membangunkan kebo mati di Madiun (entahlah).
“Cicing (diem) atuh, geulis.” Nenek dengan tenaga kebonya dalam proses pe-remukan kaki Ollie yang keseleo.
“Aduh.. duh.. patah nih, patah.” Ollie makin gelisah.

Krek..
Nenek makin sadis.

“ASTAGFIRULLAH......”

***

6/04/2009

BAB V - Denting Pertama

Hmm.. hari pertama ospek. Tegang.. tentu mereka rasakan. Apa lagi buat mereka yang gak kuat di bentak-bentak, seperti Ollie. Sungguh gak bisa nahan untuk mengeluarkan air mata bila dibentak. Tapi dia akan mencoba untuk selalu positive thingking bahwa dia bisa dan tidak akan buat masalah.

Ollie keluar dari mobil Iren, lengkap dengan atribut yang wajib dikenakan, seperti papan nama terbuat dari kardus dan bertalikan ravia yang sudah dikepang, kaos oblong putih, celana levis super duper rusuh, topi tentara, rambut acak-acakan, dan.. segala perlengkapan lagi yang membuat orang lain yakin bahwa ‘mereka lah orang gila depan rumah gue’.

Banyak orang yang berpelengkapan mirip dengan Ollie dan Iren masuk ke dalam kampus. Merekalah teman-teman senasibnya. Ollie menghembuskan nafas-nya panjang, dan menatap Rata PenuhIren dengan perasaan tegang.

“Santai aja kali Lie. Asal lo turutin semua yang mentor suruh, lo gak bakal nangis deh.” Iren menghibur dan sedikit menyindir.
“Gue bakal buktiin kalo gue gak cengeng lagi.”
“Seterah ape kate lo dah!” Baru saja mereka melangkahkan satu kakinya, tiba-tiba tepat di belakang mereka sesuatu teriakan keras yang telah sukses mem-buat kebo terbangun. Teriakkan menyuruh semua untuk segera masuk ke dalam.

Ollie, Iren dan yang lainnya yang masih berada di luar, segera masuk ke dalam kampus. Di sana sudah berkumpul para Junior dan mentornya. Mereka berdiri sembarangan di manapun.

Iren sepertinya sudah mempersiapkan secara mantap, bukti dari tadi dia cengar cengir mulu. Beda dengan Ollie yang gak henti-henti berdoa sambil me-yakinkan hati.

First day... first day. Apa saja bisa terjadi di first day.

***

First day, hmm.. benar-benar melelahkan. Gak ada yang bisa memungkiri-nya. Tapi kesenangan di hari pertama dan terakhir akan melebihi hari berikutnya (Semoga kalian setuju).
Semua mahasiswa keluar dari kampus saat jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Dengan muka yang sudah tak berbentuk lagi. Baju putih mereka sudah ber-mmetamorfosis menjadi sedemikian rupa, ada yang berubah warna, ada yang berubah bentuk, bahkan ada yang lenyap tak tersisa lagi (just for boys!!!).

Kaki mereka seakan berjalan sendiri tanpa ada perintah berarti dari pengendalinya. Kadang ada mata yang tak terbuka. Al hasil, sedikit kecelakaan pun terjadi. Gak sedikit yang saling menubrukkan diri ke pohon, tiang, maupun temannya sendiri.

Ollie yang baru kena hukuman dari mentor karna ke lemotannya men-jalankan perintah, jelas-jelas udah gak sanggup lagi menghentakkan kakinya akibat hukuman berlari berpuluh-puluh menit. Untung saja seorang laki-laki kenalan Iren bernama Nandy yang senantiasa mau membopong Ollie di belakang sampe ke mobil Iren. Padahal Nandy itu kan gak lain adalah mentor mereka juga, yang waktu itu jadi korban curi-curi pandangnya Ollie. Ternyata dia masih kenal sama Iren.

Iren masih setia mengelus-ngelus punggung Ollie sambil berjalan. Padahal dia juga sedang dilanda kecapean.

Ollie-Ollie, untung loe masih punya sahabat yang selalu menyertai loe dimana-mana.

Nandy mendudukkan Ollie di kursi VW Iren. Ollie menghembuskan napasnya (hal ini mungkin lebih wajar di lakukan Nandy).

“Maafin mereka yah, mereka emang keterlaluan. Dari dulu aku emang gak pernah suka sama yang namanya senioritas. Tapi..”
“Gak papa kok Mas Nandy.” Panggilan ‘mas’ menyertai nama Nandy. Walaupun ini adalah Bandung, tapi sebagian besar mahasiswa di sini berasal dari Jawa. Jadi sudah terbiasa para Junior memanggil Senior nya dengan nama panggilan khas Jawa.
“Ya udah, kalo ada apa-apa, ngomong aja sama aku.” Nandy berdiri dan menutup pintu mobil setelah menerima anggukan kepala Ollie. Iren yang udah duduk di sebelah Ollie, segera mengeluarkan mobil dari parkiran, dan me-lambaikan tangannya ke arah Nandy lewat jendela mobil yang terbuka. Bukan terbuka, tapi emang sengaja dibuka. Maklumlah, mobil Iren yang gak ber AC akan membuat nya sesak napas di dalam apabila tidak ada udara yang masuk.

Pandangan Ollie terhadap Nandy semakin dalam. Ollie gak henti me-mandang sampai akhirnya tak terjangkau lagi oleh matanya. “Entah kenapa ya Ren, setiap gue natap Nandy, kok tiba-tiba gue inget jelas Joni. Gue ngerasa kalo di antara mereka berdua ada ikatan batin.”
“Hmm.. emang sih Nandy itu mirip Joni, tapi.. gak mungkin kan mereka kakak-adek?” Iren serentak mengembalikan kartu parkir ke sang penjaga gerbang.
“Gue gak pernah tau kalo Joni punya sodara kandung.” Ollie mengerutkan dahinya. “Ya semoga aja ini jadi pertanda.”
“Pertanda?”
“Pertanda kalo gue masih di ijinin ketemu Joni.”

Iren memaklumi kerinduan Ollie yang udah beberapa bulan ini mesti rela menahannya sendiri “Oh ya Lie, kemaren lo mau curhat apa?”

Ollie tersenyum kecil. “Udah lah, gak begitu penting.” Senyum Ollie makin mengejek.
Ejekan yang terlalu tertuju pada kebodohannya menunggu Joni pulang.

***

Ini dia hari terakhir, setelah seminggu lamanya diadakan. Jelas hari terakhir ini tidak terlalu melelahkan seperti hari pertama. Semuanya bergembira, hari ini penuh tawa. Pukul 7 malam semuanya udah pada bubar dan berhamburan kemana-mana. Beberapa dari mereka ada yang berteriak me-nandakan keresmian mereka menjadi mahasiswa.

Pastinya termasuk Ollie. Dia gak bisa nyangka kalo dia bener-bener bisa jadi mahasiswa Universitas unggulan. Berarti gak lama lagi, cita-cita Ollie untuk menjadi pengusaha sukses disamping cita-cita nya yang ingin menjadi istri Justin Timberlake, akan tercapai.

“Iren.. Ollie..” seseorang memanggil dari belakang. Iren dan Ollie pun serentak menengok.
“Halo Mas Nandy!”
“Hai.. eh selamat ya.. kalian udah berhasil ngelewatin masa-masa menyebalkan ini.”
“Menyebalkan? Masa sih? Masih ada tuh masa yang lebih menyebalkan. Jika harus di cekokin ujian-ujian aneh.” Ollie menggerutu.
“Hahaha.. bisa aja kamu Lie. Ke caffe dulu yuk, refreshing.” Nandy mengajak.
“Caffe, dengan bau badan yang kayak begini?”
“Udahlah nggak apa-apa, gak akan kecium kok, tempatnya gede.”
“Boleh sih, ayo. Mas Nandy naik apa.”
“Aku naik angkot.”
“Yaudah, naik mobil aku aja yah.”

Ya masa sih kalian ngebiarin gue naik angkot sendiri.

***


CheZZin!!
International Cafe and Restaurant


Begitulah nama yang terpampang di cafe bermodel heritage modern ini. Dari gedungnya aja, sudah tergambar suasana classic yang sangat bernilai.

Iren memarkirkan mobilnya, sederet dengan mobil-mobil mewah. Mungkin pemilik mobil mewah akan mengira bahwa salah satu ac disini tidak berfungsi, sehingga harus di service dulu, atau atap dapur yang kebetulan bocor, saat melihat mobil Iren yang terparkir disana.

Mereka masuk ke dalam cafe dengan dipimpin oleh Nandy. Ollie dan Iren celingukkan melihat ke sekitarnya. Semua perempuan yang keluar masuk hampir semua berparfum sungguh menyengat, serta-merta accesoris dan pasangan lelakinya. Mereka seolah menatap ilfill ke arah 3 pemuda berbau apek. Di hati Ollie dan Iren pun serasa ada yang mengganjal. Mereka mulai saling sikut-menyikut.

“Mas Nandy, aku gak tenang nih. Sampai kapan kita berjalan melewati mereka-mereka?” Iren membisik ke kuping Nandy.
“Sampai kita duduk disini.” Nandy menyentuh kursi dan langsung mendudukinya. Kursi dan meja berkaki tinggi yang terletak pas di depan sebuah panggung berisi alat-alat musik pemainnya.

Ollie dan Iren ikut duduk di kursi yang pas tersisa dua. Mereka kembali celingukan.

“Mas gak malu apa? Disini itu tempatnya orang-orang berkelas! Bukan anak bau kencur kayak kita.” Ollie
“Udah lah, kalian pada dengerin musiknya aja, keren-keren. Itung-itung buat cuci otak dari kejadian kemarin.” Emang keren-kerensih musiknya.

Nandy mengambil menu makanan yang sudah tertera di atas meja. Dan segera melambaikan tangan untuk mengharapkan seorang waitress datang. Tak berangsur beberapa menit, salah satu dari mereka menghampiri.

“What can I do for You?” disini semua penghuni memakai bahasa International. Bahkan cleaning service pun bergosip dengan bahasi inggris.
“Kalian mau pesen apa? Apa aja, kali ini aku yang bayarin.” Nandy menyodorkan daftar menu.

Ollie yang duluan menggapainya, mulai melihat-lihat. Iren nebeng. Nama makanannya aneh-aneh. Entah nama makanan dari manakah ini. Mereka nggak berani melihat harganya. Tapi Iren ingin menguji nyalinya. Hampir ia melihat satu angka dari beberapa angka di harga itu, sebelum akhirnya Ollie menutup buku menu itu.

“Ada Mi Rebus telor nggak?” Ollie bertanya seolah mengejek cafe CheZZin ini. Iren menyikut Ollie yang tak bisa menyembunyikan kehumorannya. “Aku bingung Mas Nandy, aku cukup teh anget aja deh.”
“Ollie....” Nandy masih tersendat-sendat setelah tertawa.

Ollie kembali membuka daftar menu di bagian minuman. “Ok, Soft Blue Berry.. apalah itu namanya.” Ollie yang hanya asal nebak, memberikan daftar menunya ke Iren.

Tapi langsung di tutup oleh nya. “Samain aja deh.” Iren mengoper ke Nandy.

“Well, two ‘Soft Blue Berry’ and one ‘Hot Cappucino’.” Nandy berbicara pada waitress. Waitress itu pergi setelah membacakan kembali minuman-minuman yang baru di pesan.
Plok-plok-plok...

Sebuah grup band baru selesai dengan pertunjukannya. Seluruh pemain me-nuruni panggung disertai dengan tepuk tangan para pendengarnya, termasuk tiga remaja tadi. Seseorang yang baru turun dari panggung, datang menghampiri Ollie, Iren, dan Nandy.

“Woi bro! Bawa cewek lo sekarang.” Orang itu menepuk bahu Nandy.
“Temen. Ya.. tepatnya mereka junior gue di kampus.”
“O.. Junior. Hei, I’m Ruben.” Ruben menyodorkan tangannya. Pertama ke Ollie, orang yang dia anggap paling muda.
“Ollie.” Ollie dengan sigap menggapainya.

Seperti yang diperkirakan, tangan Ruben berpindah menggapai tangan Iren yang sudah duluan menyodorkannya. “Iren.”

Nama itu seakan meleleh di kuping Ruben. Tangannya lembut, suaranya lebih lembut. Ruben terpesona dengan Iren. Sepertinya ini sebuah tanda.

“Ehemm.” Ollie menyadarkan Iren dan Ruben yang sudah 5 detik berjabat tangan sambil berpandangan. “Lama banget pegangannya.”

Lantas mereka berdua menarik tangannya kembali. “Sorry.” Ruben membalikkan badannya untuk mengambil sebuah kursi dari meja lain, dan membawanya kesini.

“Udah lama lo gak kesini Nand.” Ruben diam saat seorang waitress datang mengantarkan minuman. “Ngapain aja, setahu gue kerjaan lo belakangan ini Cuma nongkrong di sini sambil minum Hot Cappucino.” Sanggahnya sambil mengangkat segelas Hot Cappucino milik Nandy. Tanpa minta izin, Ruben langsung menyesapnya. Nandy pun tak rela, dia menarik gelas itu. Biasanya kalo Ruben udah ngambil barang miliknya, sulit untuk berharap akan kembali.

Ruben adalah sahabat Nandy yang terbilang paling dan sangat dekat. Belum lama sih, kira-kira sekitar 2 tahun lalu. Nandy memergoki Ruben sedang transaksi obat-obatan terlarang di sudut kota Bandung.

Ruben nekat ingin mencoba obat-obat itu karna tidak sanggup memenuhi kemauan orang tuanya. Mereka memaksa Ruben untuk melanjutkan kuliah dalam bidang hukum, sementara dirinya lebih memilih untuk bermain musik. Waktu itu umurnya masih 18 tahun. Dia kabur dari rumahnya karna merasa terkucilkan oleh saudara-saudaranya. Tapi dia juga tidak tau mau memperdalam hobinya ini kemana. Tak salah lagi, Nandy lah yang melamar Ruben di CheZZin. Dan sampai sekarang dia menjadi salah satu andalan caffe ini dalam bermain gitar.

Kembali ke suasana di caffe.

“Gue sibuk mikirin Ospek belakangan ini.” Nandy menjawab. “Gimana jalan-jalan ke ...... nya?” Kira-kira baru kemarin Ruben balik dari kota itu.
“...... ? Yang bener?” Ollie langsung tertarik. Jelaslah, disitu tempat Joni berkuliah. “Asyik banget sih, ngapain aja?”

Iren menyikut tangan Ollie pelan. Segitu kagetnya apa? Mentang-mentang ada Joni disana.

“Disana gue pentas, bukan gue doang sih, hampir satu DubZZ. Namanya juga caffe International. Semuanya di bayarin deh.”
“Oh ya.. ketemu sama Jon.. mm maksud aku Justin Timberlake nggak?”
“Kebetulan waktu itu dia nonton. Huh banyak cerita nih......” Ruben memulai ceritanya “Bla..bla..bla..”

Entah kenapa Ollie jadi gak konsen dengerin cerita Ruben, padahal dari awal dia yang paling semangat kalo denger cerita tentang Justin Timberlake. Tiga detik setelah cerita di mulai, Ollie mendengar seseorang mendentingkan piano di atas panggung. Sebernya dari tadi piano itu sudah berdenting. Tapi lagunya beda. Mungkin kalo hanya suara piano biasa, dia masih bisa mendengar cerita Ruben, tapi suara ini begitu masuk ke dalam hati Ollie. Dia sungguh terpesona.
Ollie membalikkan badannya bermaksud ingin melihat siapa pemainnya. Baik cowok maupun cewek. Umur 10 tahun atau 80 tahun. Tapi tak terlihat. Yang Ollie lihat hanya sebuah Grand Piano. Pemainya terhalang. Ollie mengernyitkan kening. Masa dia harus medekati piano itu, hanya untuk melihat pemainya.

Lagu itu masih bermain. Tak pernah Ollie sampai seterkesan ini. Apa lagi Ollie mempunyai kenangan tak mengenakkan tentang piano. Ollie dulu pernah kursus piano. Tapi dia merasa tidak pd saat melihat gurunya itu, benar-benar ahli dalam bermain piano. Semenjak itu dia sangat sakit hati bila melihat orang bermain piano.

Setelah +/- 5 menit lagu itu dimainkan, pemainnya berdiri, memberi hormat tanda selesainya lagu. Semua bertepuk tangan, termasuk Ollie, tidak termasuk Nandy, Iren, dan Ruben, mereka masih asyik berbincang. Pianis itu menuruni panggungnya. Dia seorang laki-laki. Belum tua. Sepertinya masih seumuran dengan Ollie. Wajahnya tak terlihat, dia memakai kupluk berwarna putih, dan bertali. Aneh, biasanya pianis-pianis yang pernah Ollie lihat, semuanya memakai Jas dan berdasi. Sedangkan dia hanya memakai sweater abu-abu, blue jeans, dan sneakers. Apalagi di padukan dengan kupluknya. Tubuh Ollie gemetar saat melihat dia turun ke belakang panggung.

“Hua.. ha.. ha.. ha..” Iren, Nandy, dan Ruben tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Suara mereka jelas membuat Ollie sedikit terlompat dari tempat duduknya. “Gila, gokil abiss. Haha.” Iren masih terpingkal-pingkal.
“Kenapa sih?” Ollie bertanya kepada siapa saja yang mau menjawab.
“Kenapa? Emangnya kamu gak dengerin Lie?” Nandy balik nanya.

Ollie perlahan-lahan menggeleng.

“Sorry, gak ada siaran ulang.” Ruben meledek.
“Tadi aku terlalu serius dengerin suara piano.” Ollie memelas. “Ben, ngomong-ngomong tadi siapa sih yang main piano?”

Ruben berpikir sejenak. “Yang mana?”

“Baru aja tadi selesai.”

Ruben menatap jam tangan nya, tertanda jam 8.39. “Hmm.. setengah sembilan. Anak itu ternyata udah pentas.”

“Ooow.. anak Japannesse itu ya?” Nandy memastikan.
“Japannesse? Namanya doang yang terlalu ngayal. Tampangnya Indonesia sengak banget.”
“Emangnya kenapa Lie? Tadi gue juga sempet dengerin lagunya.” Iren
“Gue mah makasih deh.” Ruben mengangkat tangannya. Sepertinya dia benci dengan orang itu.
“Aku kebawa banget sama musik itu. Aku bener-bener seolah terbang waktu dengernya.” Ollie menggambarkan perasaanya.
“Cie.. yang lagi terbuai nih.”
“Namanya siapa sih Ben?” tanya Ollie lagi.
“Keiwataru Takainuchi. Puass?”
“Kalo panggilannya?”
“Nggak penting banget sih nanya gituan.”

Ollie tak menanggapi ketidak sediaan Ruben untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dia masih menatap ke arah panggung, berharap pemuda tadi akan kembali. Sambil menyedot soft blue berry yang ia pesan tadi, tetes demi tetes ia keluarkan dari sedotan, dan baru lima tetes minuman itu menyentuh lidahnya..

Burrrr...

Ollie tanpa perasaan bersalah, menyemburkan minuman (lebih tepatnya ludah) itu ke Ruben yang berada tepat di depannya. Dia langsung menampakkan tampang kepanikan dan kepahitan.

“Kenapa lo Lie?” Ruben mengusap wajahnya yang penuh dengan cairan berwarna biru tua. Nandy dan Iren kembali tertawa.
“Wek.... minuman apaan nih?” Ollie menjulurkan lidahnya.

Iren mencicipi minuman yang satu menu dengan minuman Ollie, dia malah tak sampai 2 tetes mencicipinya. Dia sudah menjulurkan lidahnya, sama seperti Ollie. Iren menatap Nandy minta penjelasan.

“Ya orang itu alkohol, gue kira dari tadi lo pada emang minum gituan?”
“WHAT” Ollie dan Iren bersamaan.
***

Matahari sudah tinggi di atas para mahasiswa UPB yang berjalan kemana kemari. Kesibukan di sana sudah terasa lagi. Ada yang bener-bener mau belajar, main, pacaran, bahkan yang sekedar minjem lapangan olahraga. Mahasiswa/i disini memang tak setaat yang dipikirkan.

Termasuk Iwat. Mahasiswa semester 3 yang mengambil Tekhnik Elektro ini, sudah terkenal di kalangan dosen sebagai The Danger Student. Sudah berkali-kali dia mendapat surat peringatan, sudah berkali-kali dia berada di ujung tanduk D.O. Cukup banyak alasan kenapa Iwat dijuluki The Danger Student. Pertama, tukang ribut di kelas. Dan kedua, bila dia sudah mengamuk, tak kenal siapapun yang akan dianiaya, dosen pun jadi. Tapi alasan Kampus untuk tidak men D.O. nya juga tak kalah kuat. Prestasinya tak sedikit. Dia selalu mendapat peringkat pertama di setiap semester. Bila ada olimpiade, dia-lah incaran utama.

Siang ini Iwat masih berada di kampus. Dia sudah berkali-kali berjanji pada dirinya untuk tidak lagi meninggalkan kelas. Dan setiap dia berpikir seperti itu, ada saja alasan tak masuk akal yang membuat dia malas masuk kelas. Lagi beres-beres kamar, nganterin temen yang kecelakaan, nemenin kakak belanja, atau menghadiri pemakaman orang yang sama sekali tak ia kenal. Padahal alasan-alasan itu hanya untuk menutupi ke jenuhannya bertemu dosen yang selalu ia kutuk.

Seperti halnya pagi tadi, dia membolos hanya karna ingin makan soto Bu Bariyah yang jelas-jelas lebih enak di nikmati pada malam hari.

Iwat berjalan dengan tenang disekian banyak orang yang mondar-mandir karna takut terlambat masuk kelas. Dengan tas selempang, celana 7/8, kaos lengan panjang, dan sepatu sneakers andalannya, Iwat berjalan dengan bawaan cool nya. Dia selalu menjadi idola para cewek-cewek di sana, dan 90% penggemarnya itu juga menjadi cewek incaran para lelaki malang di kampusnya. Tapi menjadi idola di sini malah membuahkan bencana baginya.

Simaklah apa yang terjadi siang ini..
“Iwa....t. Duh, kamu kok susah banget sih dicari, dari mana aja?” itu Mia, salah satu pengemarnya. Dia doyan makan, tapi badannya kurus sekali. Itu lah yang memperjelas kandungan cacing yang bebas berenang di dalam perutnya.
“Nggak dari mana-mana kok.” Iwat memaksakan senyumnya.
“Wat, makan bareng di kantin yuk.”
“Iya duluan aja, nanti gue nyusul.” Iwat pergi.

Di tempat lain...
“Assalamualaikum, A’ Iwat.” Yang ini Siti, cewek paling alim yang pernah menjadi idola Iwat. Liat aja, dia selalu manggil Iwat dengan sebutan A’a, padahal jelas-jelas lebih tua-an dia dibanding Iwat.
“Walaikumsalam, Sit, kalo mau nanyain tentang ka’idah-ka’idah agama, tunggu gue di kantin aja deh.” Iwat pergi.

Di tempat lain lagi...
“Hei..... kamu lagi sibuk ya, say.” Ini nih yang paling di gemari cowok-cowok di sini, Chintya, cewek berbadan eksotis ini selalu membuat Iwat merinding jika berada di sampingnya.
“Eh.. eh.. aduh.. duh.. tunggu dong Chin, jangan di raba-raba.” Iwat men-coba melepaskan belaian tangan Chintya dari tubuhnya. Bahaya.
“Say.. nanti malem mau kencan sama aku gak?”
“Ok.. ok, kita bicarain ini di kantin.” Iwat pergi.

Di tempat lain lagi-lagi...
“Woii.. Iwat!! Sini lo!! Kita mesti lanjutin pertandingan kemarin. Kemaren emang gue kalah, tapi nggak untuk sekarang!” Kekey, cewek sangar berbadan atletis yang gak henti-hentinya ngajakin Iwat tanding basket.
“....” Iwat tak bisa berkata-kata.
“Ah, cemen banget sih, kalo udah siap, jemput gue di kantin ya!”
Iwat berjalan menjauh tanpa perintah dari otaknya.

Kira-kira 2 meter dari tampatnya berdiri...
“Ehhmmm.. ehmm.. Iwat, mau gak kamu pacaran sama aku?” cewek ini yang paling Iwat benci, Vika, terlalu to the point, dan ke pd-an, udah 9 kali dia nembak Iwat secara langsunf. Iwat kenal dia juga karna dia nembak Iwat. Dan sebelumnya, merasa ketemu aja kagak.
“Enggak!!!!” Iwat kasar dan menjawab mantap. Mantaps.
“Ah bo’ong, pikirin lagi dong. Vika tunggu jawabannya di kantin ya..” Vika pergi menjauh dengan tampang berseri-seri.
“Anjrit.”
Masih berdiri emosi disitu.
“Iwat..”
“Siapa lagi sih?” Iwat menengok gemas ke arah datangnya suara. Ternyata dia bukan perempuan. Dia Dean, cowok terdeket Iwat di kampus. Dean itu tak lain adalah temen satu jurusannya Iwat. “Eh lo, knapa?”
“Lho, mestinya gue yang nanya ‘kenapa’.”
“Capek gue lama-lama ngehadapin yang namanya cewek.” Ya.. seperti yang pernah di bahas, Iwat itu nggak pernah tertarik sama cewek, apalagi sampai jatuh cinta. Pengalaman pacaran sih pernah, tapi itu hanya untuk ajang coba-coba, baru 2 hari jadian, putus, paling lama waktu pacaran Iwat hanyalah 3 hari. Satu lagi, Iwat ini juga di kenal dengan tukang mainin cewek. “Gue mesti gimana ya supaya bisa bebes dari cengkraman mereka.” Iwat mengacak-ngacak rambut jabriknya.
“Hahaha... emang takdir lo kali. Gue pengen makan nih, temenin ke kantin dong.” Iwat menuruti kemauan Dean tanpa berpikir lagi apa yang akan terjadi disana.

Di kantin yang bising..
“Nyet, kita dimana?” tanya Iwat gelisah.
“Di kantin lah.” Jawab Dean santai.
“KANTIN...?”
“IWWWAAAA.....TT!!!!!!” segrombolan kuntilanak berlari mengejarnya.

Malang memang harus di hadapi. Tapi mungkin dia kurang mensyukuri kelebihan tampang yang dimilikinya. Hingga kelebihan itu dapat menjadi bencana.

Untung Iwat masih sempet lolos dari cewek-cewek di kantin tadi. Ini tak sepenuhnya berkat Dean. Dari tadi, disana dia hanya sedikit berusaha melepaskan Iwat dari panggilan-panggilan aneh, selebihnya dia tertawa terpingkal-pingkal bahkan terguling-guling.

Iwat memasuki kelasnya. Dia terlambat 10 menit. Jelas lebih cepat dari biasanya yang bisa masuk 30 menit setelah kelas dimulai. Untung saja kali ini dosennya belum dateng. Iwat mengambil kursi paling belakang, karna kursi bagian depan sudah dipenuhi oleh anak-anak sok pinter yang hanya ingin mendapat pujian karna kesan seriusnya dalam pelajaran. Lagi pula duduk di kursi belakang memang incaran Iwat sejak pertama kali masuk. Dia bisa leluasa makan permen karet, bikin balon dari permen karet, nempelin permen karet di bawah meja, dan tidur. Hip..hip..horrey.

Dia duduk pas di sebelah seorang cewek. Kebetulan ada sesuatu yang ingin di tanyakan.

“Sssst.. cewek. Sst.” Iwat memanggil.

Cewek itu menengok, lalu tersenyum seolah berkata ‘Ada apa’. Iwat sedikit geli menatap senyumnya itu. Sepertinya ini tanda-tanda akan bertambahnya fans Iwat.

“Lo tau gak, kenapa cewek itu Cuma tertarik sama cowok?” pertanyaan nggak jelas yang bisa bikin alis perempuan naik karna matanya yang makin membesar.

Cewek tadi mengernyitkan dahi, dan memutuskan untuk membaca kembali buku yang ia pegang, tanpa harus menjawab dulu pertanyaan yang baru saja Iwat ajukan.

“Oi, bisu ya? Jawab dong kalo lo masih merasa seorang cewek.”
“Cowok waras biasanya masih bisa mikir.” Dia membereskan berbagai pe-ralatan di mejanya, dan bergegas mencari tempat duduk lain untuk menjauhi Iwat.
“Dodol.” Iwat membuka sebuah buku tulis dan mengambil pulpen dari saku celananya. Dengan perasaan yang masih jengkel, dia menulis.. ‘Janji, kalo udah lulus nanti, gue bakal lebih memilih nikah ama cowok..’.

Iwat melepaskan selembar kertas itu dari bukunya. Sejenak ia memandangi dahulu potongan kertas itu. Lalu ia meremasnya, dan melemparkannya kemanapun tulisan itu akan menampakan dirinya.

Selama beberapa detik kertas itu melayang, lalu ia memutuskan untuk kembali mendarat. Tepat disaat Pak Mahmud, seorang dosen yang mempunyai tugas untuk mengajar, memasuki ruangan.
Pluk..

Kertas itu mengenai kepalanya. Pak Mahmud mengambilnya. Ia tentu tertarik untuk segera membacanya, lalu..

“Siapa yang bertanggung jawab atas ini?”

Pak Mahmud sport jantung secara berlebihan yang hampir membuat dirinya tergelepar di lantai, ketika terlihat semua telunjuk mengacung ke Iwat.
***

Lain lagi dengan Ollie, ini saat pertamanya ia belajar di kampus. Tentunya tak banyak yang sudah ia ketahui tentang hidup anak kuliahan. Sedikitnya pengetahuan yang ia ketahui bahwa anak kuliahan itu wajarnya sudah memiliki gandengan, atau wajibnya sudah mulai mencari.

Jam segini, saatnya Ollie untuk bersantai menikmati ke indahan orang-orang di kampus. Kelas pertama Ollie baru selesai 1 jam yang lalu, dan masih butuh beberapa menit lagi untuk kelas berikutnya. Selama waktu kosong ini, Ollie hanya mengisinya dengan membaca buku di bawah sebuah pohon diantara pohon-pohon rindang lainya.

Hanya membaca buku.. ya, buku yang baru kemarin di belikan oleh Iren di toko buku sepulang dari CheZZin. Mungkin kalo cuma novel atau komik, Ollie akan membelinya sendiri, tapi kalo buku tentang ‘tips tips baik melupakan dia’ Iren yakin, Ollie tak akan menyentuhya. Tadinya Ollie juga tak mau menerima buku yang mempunyai judul ‘White Broken’ itu, ngapain juga Ollie nyimpen barang gituan. Kalo Cuma tips seperti itu, gak bakal di ambil hati olehnya. Tapi mungkin Iren terlalu ngebet nyuruh Ollie untuk se-cepetnya ngelupain Joni. Secepetnya bahkan setelah menamati buku itu, perasaan Ollie akan langsung hilang terhadap Joni.

Dari tadi ia memegang buku itu, tak ada satupun kalimat yang dapat ter-cerna dengan baik. Yang ia perhatikan hanyalah cover bukunya yang berwarnya merah marun kombinasi pink dan putih dengan gambar sebuah cocholate heart yang terbelah dua. Selain cover Ollie juga memperhatikan penulisnya.

Kalika Noerin Mentari, nama yang terpampang di dalam profil penulis. Dia menulis buku ini dengan harapan ingin menyadarkan orang-orang yang frustasi karna patah hati, tanpa harus menghancurkan hidupnya sendiri. Dengan jujur dia mengatakan sudah tiga kali menjalin hubungan dan tiga kali kandas di saat mereka mulai serius. Yang pertama, cowoknya harus pergi mengikuti kemauan orang tua untuk mempersunting orang lain. Yang kedua, tiba-tiba saja minta putus tanpa alasan yang jelas, dan baru ketahuan 3 hari setelah mereka putus, ternyata cowoknya itu udah selingkuh semasa mereka masih pacaran. Dan yang ketiga, meninggal karna kecelakaan maut.

Sangat menyedihkan pastinya. Ditinggal oleh orang terkasih secara tiba-tiba. Setelah membaca penggalan cerita ini, Ollie jadi berpikir akan ke pergian Joni selama ini. Apa mungkin dia ke Amerika untuk menemui jodoh yang telah dicarikan oleh ayahnya. Mungkin juga dia sengaja lari ke Amerika bersama cewek selingkuhannya untuk menjauhi gangguan Ollie. Atau... Hhhh sudahlah, Ollie tak akan memaksa untuk berpikir negatif tentang Joni.

Ollie menaruh buku itu di atas pangkuannya. Dia melirik kesekitarnya hanya sekedar untuk menjauhkan anggapannya tadi. Gerakan mata Ollie terhenti pada pohon di seberang pohon yang lagi di tongkrongin Ollie. Laki-laki berkemeja panjang kotak-kotak dengan kancing yang tak terlewatkan, celana jeans, rambut jamur, dan kacamata berukuran super dengan tebalnya yang mungkin mencapai ½ cm, sedang duduk dan sepertinya memperhatikan Ollie.

“Ha..ha..ha..” Ollie terbahak menatap keculunannya. Siapa sangka, orang yang dimaksud itu berjalan mendekati Ollie, tentu saja Ollie jadi gak tenang melihat langkah demi langkah orang itu saat berjalan mendekat.
“Permisi.” Orang itu memulai pembicaraan. “Apakah saya bisa...”
“Ire...n!!!” Ollie memotong kalimat orang aneh itu saat dia melihat Iren sedang berjalan di depan tak jauh dari tempat Ollie duduk. Kebetulan sekali ada Iren di situasi yang nggak jelas kayak gini. “Permisi.” Ollie segera berlari meninggalkan Orang tadi dan mendekati Iren.
“Hei Lie! Kenapa lo? Kok kelabakan gitu.”

Saat ditanya, Ollie langsung memindahkan pandangannya ke orang tadi, dia juga menatap Ollie sambil nyengir-nyengir dan memamerkan giginya yang berbehel. “Hiiiyy.” Ollie sedikit menggetarkan kepalanya.

“Kenapa sih Lie?”
“Itu, ada orang aneh yang nyengirin gue mulu.”

Iren memandang kemana telunjuk Ollie mengarah. Tanpa harus di deskripsikan lebih jelas lagi, Iren sudah dapat menemukan orang yang dimaksud, orang aneh yang lagi ngeliatin Ollie. “Haa..h. maksud orang itu apa’an?”

“Mana gue tau. Tiba-tiba dia ngedektin gue sambil senyam-senyum gitu. Gimana gue nggak ngeri tau nggak.” Ollie berbisik di telinga Iren. Dia mendorong tubuh Iren disertai lari kecil kakinya. Mereka berlalu meninggalkan orang gila yang ternyata bukan satu-satu nya hidup di kampus ini.

Setelah jauh berjalan dari tempat tadi..

Di tempat ini Iren kembali membicarakan soal pertemuan Ollie dengan cowok ingusan. Rambut poni jamur. Behel warna coklat di gigi. Kacamata yang melebihi kapasitas wajah. Dan pakaian era bokap Ollie di jaman dulu.

“Hahaha... sumpah, tuh anak udah jadi model calon kriminalwan (apalah itu namanya) yang udah gak punya lagi harapan sebuah masa depan yang ceria. “Kok bisa cowok berparas kutu yang melekat di buku itu merhatiin lo.”
“Itu bukan kutu buku lagi, tapi jamur di buku.” Ollie meralat.
“Baru tau gua ada jamur yang mau tumbuh di buku.”
“Ya contohnya dia. Udah lah Ren, bosen gue. Ganti topik!”

Ollie dan Iren memasuki kantin, lalu duduk diatas salah satu kursi kantin itu. Selama perjalanan, sudah banyak topik yang mereka bicarakan. Mulai dari saling menukar memori mereka tentang kehidupan di SMA dulu. Menjelek-jelekan saudara kandung sendiri. Mengungkit gosip-gosip seleb tadi pagi. Sampai memperserbasalahkan kejadian impor tomat busuk dari Singapur ke Indonesia.

“Bagaimanapun juga, itutuh salah Singapur, ngapain dia Impor tomat busuk kesini.” Sanggah Iren.
“Ya emang, tapi mungkin Singapur gak tau kalo tomat yang dia Impor itu busuk semua.”
“Ok, mungkin juga wak tu di pak tomat itu belum busuk.”
“Nah. Dan jadi busuk karna kelamaan diperjalanan, atau karna faktor cuaca yang tak memungkinkan untuk kemakmuran tomat-tomat itu.”
“Hmmmm.. tapi Lie, masa segitu begonya Singapur ngirim tomat kesini, padahal mereka harusnya udah tau kalo tomat itu nggak bakal bertahan lama-lama, apalagi kalo nganterinnya Cuma pake kapal.” Iren memprotes. “Lagi pula gue baru denger kalo di Singapur punya kebun tomat yang makmur, sampe-sampe Indonesia minta dikirimin segala. Padahal jelas-jelas Indonesia itu punya bejibun tomat seger di setiap kebunnya.”

Hening, Ollie menahan tawanya.

“Tuh kan, gue kena kibul lagi deh.”
“HaHaHaHa....”
“Kamprettt!!!” Iren menggelitik tubuh Ollie, sebentar sebelum dia me-nemukan sebuah buku di tangan Ollie. Iren menarik buku itu, lalu me-mandanginya. “Ternyata lo mau baca buku ini juga, Lie?”

Ollie dengan sigap merebutnya.

“Nggak usah di sembunyiin, lo emang mau ngelupain Joni kan?” Iren mengeluarkan nada menuduhnya. “Udah sampe pelajaran yang mana?”
“Oh iya, jam segini gue ada kelas. Udah dulu ya Ren, gue gak mau telat nih.” Ollie panik meninggalkan Iren dan kepenasarannya.

***

BAB IV - Segitunya..

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9.25, bunyi dengkuran dari kamar Ollie mulai terdengar. Gak biasanya jam segini Ollie udah tidur. Sehabis makan malam, Ollie langsung merebahkan badan mungilnya di atas kasur berisi kapuk-kapuk yang menggempal di beberapa bagian. Layaknya debu-debu yang mulai menyumbat hidungnya.

Niat hati Cuma mau tidur-tiduran doang. Apa daya raga tidak kuat. Lupa matiin lampu dan radio kecil yang di bawanya dari rumah. Hmm mungkin inilah dampak keenakkan tidur di atas kasurnya orang kaya.

“Ollie......!”, seseorang membuka pintu kamar tanpa mengetuk lagi. Dan sedikit kecewa ketika melihat sang gadis cantik telah tertidur lelap dengan posisi yang memalukan. “Yah, udah molor. Baru aja pengen ngobrol.” Suara ngorok itu terdengar lebih jelas.

Sekejap saat seseorang mengucapkan kata terakhirnya, Ollie terbangun dari tidur Cuma-cumanya. Ollie yang kaget ketika melihat wanita berpostur supermodel berdiri di dekat pintu seperti malaikat yang akan mencabut nyawanya (lho).

“Ngg syapa ya...? Masuk-masuk-mhwaaaaaw. Hmmm.”, Ollie sambil mengucek-ngucek matanya dan menguap dan yang paling di benci : bau iler.

Orang itu tersenyum-senyum melihat Ollie yang menatap dirinya dengan posisi kepala jungkir balik. Ollie masih mencoba untuk bisa menegakkan kepala dan berusaha memfokuskan kesadarannya yang baru konek 50 %.

“Eh-eh-eh..”

BRUKK

Hasilnya : dia harus rela untuk pindah tempat tidur dari kasur berkapuk menjadi lantai penuh keramik. Benturan cukup keras di sekitar tubuhnya membuat memori kepala Ollie lebih sempurna. Ollie mendongak dan menatap sang sepupu yang tertawa terjungkal-jungkal di samping pintu. “Teh Tia..!!!”

Itulah nama panggilannya. Gadis dewasa berumur 22 tahun ini adalah satu-satunya sepupu kandung Ollie yang tinggal seatap dengan nenek bersama kedua orang tuanya. Padahal sepupu Ollie bisa lebih dari 10 orang, tapi mereka semua sudah tersebar-sebar di hampir seluruh pelosok Indonesia. Ada yang di Jakarta, Yogya, Bali, Papua, bahkan di Melbourne (berharap ia menjadi salah satu anggota Indonesia). Yang di Bandung juga ada, tapi biasanya mereka cari kos-an sendiri. Kini Tia juga sedang berkuliah di salah satu Universitas negeri di Bandung.

“Ya ampu..n. Kalo mo tidur atuh di matiin lampunya.”

Cklik. Tia mematikan lampu.

“Jangan di matiin Teh, mau ngobrol dulu dong.”

Cklik. Lampu kembali menyala. Tia mendekati Ollie yang sudah berdiri walau masih lemas dan kembali menaiki kasurnya. Hup. Keduanya melompat ke atas kasur dan meluangkan 3 detik untuk berpelukan sekedar melepas rindu.

“Dari mana aja teh? kok jam segini baru pulang.”
“Hehe.. jalan-jalan sebentar dari kampus sama ‘temen’.”
“Temen?”
“Iya, mang napa?”
“Temennya dalam tanda kutip, kan..”
“Hhhh.. hayang seri!! Ollie sendiri gimana, dah ada belum?”

Tiba-tiba tenggorokan Ollie tak mengizinkannya untuk berkata dalam be-berapa detik. Namun akhirnya dia bisa bernapas kembali dengan tenang. Kini di otaknya hanya ada wajah Joni yang tersenyum. Dan memanggil-manggil namanya dengan suara yang semakin tersekat. “Mmmnggmmmngg.. belum.”
“Ya ampun, kok serius amat. Ollie kan masih kecil, belum punya mah wajar. Tapi tenang aja, Ollie kuliah di UPB kan? Disitu banyak cowok seger lho.”

Hehe..

***
Pagi hari yang sejuk di rumah nenek. Ollie membuka pintu kamarnya. Sejenak dia berdiri mengucek-ngucek mata yang masih merah dan ber-belek. Dia celingak-celinguk memandangi keadaan di sekitarnya, masih saja seperti kemarin malam.

Ini adalah pagi pertamanya di rumah nenek setelah dua tahun gak pernah lagi. Di rentangkan tanganya agar lebih bisa merasakan aroma sejuk yang dihadirkan oleh udara pagi di luar sana.

Hm.. masih jam 6 pagi, ngapain gue bangun jam segini. Ollie menatap jam tangan yang masih menempel di pergelangan tangannya.

“Huacchhhhi......h!” semburan air liur keluar dari mulutnya.

Ollie akan mencoba untuk bisa lebih beradaptasi dengan udara di sini. Setiap dia kerumah nenek, pasti harus mengalami yang namanya ‘hidung tersumbat ingus’. Kini Ollie mengucek hidungnya. Mungkin karna debu-debu yang menghiasi dinding kamarnya.

Ollie berjalan menuju meja makan.

“Pagi nek.” Salam pertama yang ia ucapkan kepada neneknya yang sedang beres-beres dapur.
“Pagi geulis. Udah bangun. Makan dulu sana.”

Mereka sama-sama berjalan menuju meja makan. Disana udah ada Uwak Didi dan Uwak Ning, dan juga sebakul nasi goreng di sertai teman-temannya. Ollie mengambil 2 centong nasi goreng dan sepuntung pentungan goreng yang sangat lezat (pikirkanlah apa yang di maksud).

“Huacchhhhi......h!” tidak sedikit semburan air yang mendarat di atas calon pengisi perutnya. “Alhamdulillah”
“Ollie pilek lagi?”
“He’eh”
“Kurang adaptasi doang kok.” Uwak Didi meremehkan.
“Ini mah namanya bukan kurang adaptasi lagi. Tapi kurang bersih.” Uwak Ning nyeletuk.
“Ollie nggak pernah lupa mandi.” Ollie melahap makanannya.
“Bukan kamu yang kurang bersih. Kamar kamu itu terlalu berdebu.”
“Huacchhhhi......h!” bersin lagi. “Ollie makan di luar aja ya... gak enak kalo bersin-besin terus di sini, jorok.” Ollie menjauh dari tempatnya duduk setelah mendapat anggukan dari semua makhluk yang ada di meja makan (mungkin nggak termasuk semut-semut liar). Dia masih berjalan ke pintu luar, sampai akhirnya tiba juga di teras depan rumah. Kemudian ia duduk di atas.. tempat duduk pastinya, atau lebih cocok dibilang kursi. Dan melanjutkan makan sambil sedikit bersin-bersin, juga sambil celingukkan melihat apa yang ada di depan matanya, tepatnya 2 rumah yang di sewakan menjadi kamar-kamar kos.

Ups...

Celingukkan mata Ollie terhenti ketika melihat sesosok lelaki beserta se-orang temannya sedang mengobrol ria. Ollie mengerti sekarang. Arti celingukan-nya tadi adalah untuk menemukan dia.

Iwat.. Iwat.. kenapa gue mesti ketemu lo lagi..

Iwat menatap Ollie, tatapannya tak sampai sedetik sebelum ia membuang mukanya. Begitu halnya Ollie, dia tetap konsentrasi terhadap makanan-nya. Iwat dan temannya melanjutkan obrolan. Tiba-tiba saja mereka tertawa, dan teman Iwat menatap singkat ke Ollie. Pasti Iwat sedang ngomongin Ollie. Entah mem-permalukannya atau memperburuk keadannya.

“HEH TANTE, JAM SEGINI EMANG WAKTUNYA NGEGOSIP YA!!!!!!” Ollie membanting piringnya di atas meja kecil samping kursi. Sementara di sebrang sana, mereka menyempatkan tubuhnya untuk sementara mengalami kekagetan. Iwat berdiri dan tersenyum licik.

“Ada cairan bening tuh kluar dari idung lo. Ha..ha..” Iwat dan temannya kembali tertawa. Refleks Ollie mengelap hidungnya, gak sadar, ternyata memang ada.

“Huacchhhhi......h!”

Iwat.. Iwat.. Kalo gini terus, gimana gue bisa akur sama lo..

Ollie gak mau diem aja, jayus gak jayus, dia harus bales.

“Woi darah kentel lo masih ngalir, mau adu jotosan lagi gak?” Ollie senang ketika masih bisa melihat perban di hidung Iwat hasil dari kenakalannya.

Iwat kembali tertawa. Menatap Ollie lagi dan menaikkan bahunya seolah ber-kata ‘terserah lo aja deh’. Dia masuk ke dalam rumah kos, disertai temannya yang didahului dengan mengedipkan sebelah mata ke arah Ollie.

Iwat.. Iwat.. Kenapa nama lo mesti Iwat, enek tau gue dengernya..

***

“Asyik.”

Sebuah kata yang di ucapkan Ollie ketika mengetahui bahwa kamarnya ini akan di cat ulang oleh Uwak Didi. Hihi.. mungkin karna gak tahan kalau mesti ngeliat Ollie terus menerus yang slalu diwarnai oleh hidung merahnya. Ya semoga saja dengan barunya warna cat, otomatis volum debu yang menyebar akan ber-kurang.

Sudah cukup lama dia bernyanyi di dalam kamar, sambil mengemas kembali barang-barangnya untuk sementara di pindahkan keluar. Setelah menyadari seluruh barang telah berada di luar, dan perabotan-perabotan di dalam sudah di balut oleh koran, Ollie mulai melepas big poster ber gambar Justin Timberlake.

“Oh my prince.. I love u.. I love u.. I love u..” Ollie merangkai kata-kata dan menjadikannya sebuah nada yang menyilaukan telinga bagi pendengarnya, sambil mencium-cium foto Justin, dia melakukan gerakan-gerakan menyerupai sebuah tarian yang menyilaukan mata bagi penatapnya. “I promise.. my love is just for u.. just for u.. I promise.. OOOOHHHppp..” seluruh perbuataan Ollie saat itu terhenti seketika Ollie melihat ada seorang lelaki yang berdiri mematung di depan pintu sedang membawa 2 kaleng cat beserta peralatan lainnya untuk mengecat. Posisi Ollie kini sungguh memalukan, mengangkat poster di tangannya sambil berdiri memakai satu kaki seolah seorang balerina. Secepat mungkin dia menaturalkan tingkahnya.

“Iwat.. ngapain lo disini?”
“Udah 3 menit gue disini.” Iwat cengingisan.
“Berarti lo...”
“Ya... Oh My prince I love u.. I love u..”
“Shut UP!!!” muka Ollie memerah.. sangat merah.. mungkin dapat di gambarkan seperti udang rebus. “Ngapain sih lo disini?”
“Dapet amanat dari Uwak Didi untuk ngecat sebuah kamar, beliau sibuk hari ini.” Iwat mulai memasuki kamar Ollie setelah memastikan bahwa kamar inilah yang layak untuk di cat ulang. Sambil menaruh semua peralatan, Ollie membuka kaleng cat. “Yacksss pink... kenapa milih warna pink, inikan just for girls”
“Woi.. hallow.. gue ini termasuk cewek kan?”
“Iya apa.. cewek sekasar lo? Lebih pantes di sebut cewek jadi-jadian.” Sambil mengecat .
“Gue tau gue salah, makanya ma’apafinin gue dong, gue khilaf waktu itu.”
“Bagus lah kalo nyadar.”
Mereka tak berkata sejenak. Rasanya Ollie mulai jengkel lagi.
“Bukan mestinya gue doang yang minta maaf sama lo. Lo juga kok yang main api, ngapain ngelempar tas gue.”
“Salah sendiri ngejudesin gue, kan gue udah bilang sorry.”
“Lagian lo nubruk gue! Untung aja nggak ada tulang yang patah.”
“Makanya jalan itu pake mata!”
“Dibilangin gue nggak bisa jalan pake mata, mata gue itu ada di kepala, masa gue mesti jungkir balik?”

Udah la...h kok jadi nge rewind kejadian kemarin sih!!!!!!!!

***

Hari semakin malam, sudah mulai ada tanda-tanda kedekatan antara Iwat dan Ollie, walaupun dalam perbincangannya masih saja terselip penghinaan untuk para lawan jenis. Tapi mereka seolah telah melupakan kejadian tempo hari.

Iwat pun juga telah menyelesaikan tugas mengecatnya, cukup singkat mungkin. Ya.. karna dalam pengecatan ini mengambil sistem ‘asal nempel’. Cat sebelumya tak di keletek atau bahasa resminya tak di protolin dahulu. Tapi hasilnya lumayan kok.

Ia membereskan kembali barang-barang yang tadi ia bawa, lalu bergegas keluar kamar yang sudah di tinggal duluan oleh Ollie. Langkahnya terhenti sesaat ketika ia mendapati sebuah big poster bergambar Justin Timberlake yang tadi senantiasa di cium-cium oleh Ollie.

Iwat tersenyum melihatnya. Ollie pun datang memasuki kamar sambil membawa 2 buah jeruk yang slalu menjadi buah kesukaannya. Sekilas ia memperhatikan hasill kerja Iwat.

“Udah selesai nih?”

Alis mata Iwat dinaikan seolah berkata ‘seperti yang lo saksikan’.

“Rapih juga, bakat ya lu jadi kuli.” Ollie tersenyum, Iwat menanggapinya dengan pasrah. “Mau jeruk?” Ollie melempar satu jeruknya ke tangan Iwat. Lantas langsung ia tangkap, walaupun harus menjatuhkan barang-barang yang ia bawa. “Oh iya, nama gue Ollie. Masa dari tadi kita ngobrol, lo gak nanya nama gue sih.”
“Jeruk kok makan jeruk.”

Ollie melongo kaget menatap Iwat, sambil duduk di atas kasur yang sudah tak beralas koran lagi.

“Adakan istilah kayak gitu?”
“Tapi lu nggak ngalamin itu kan?”
“Ya nggak lah, gue normal.” Iwat menyusul duduk di sebelah Ollie.

Mereka mulai mengupas jeruk. Sedikit demi sedikit, jeruk itu mulai me-nampakkan dagingnya, ketika satu persatu kulitnya terjatuh. Keadaan di sana sangat sunyi, hanya ada suara serat jeruk yang tidak kuat lagi menyatukan antara kulit dan dagingnya. Iwat dan Ollie serius menjalani kesibukannya. Sebelum..

“Fans berat Justin juga ya?” Iwat memecah kesunyian.
“Fans? Gue kekasihnya! Calon istrinya!” Ollie melahap satu dari delapan bagian jeruk.
Iwat tak menghiraukan pernyataan Ollie tadi. Keliatan dari raut mata Ollie yang belum dan ingin sekali bertemu walau hanya sekejap.

“Kok, cuman punya satu.. koleksinya?”
“Di Jakarta banyak, tapi udah pada di tempel di dinding kamar.”
“Percaya nggak kalo gue pernah ketemu dia langsung?”
“Huahahahahaha......!” Ollie terbahak, hingga satu potong jeruk yang baru saja ingin di makanya, nyemplung ke dalam kaleng cat.
“Ke kamar kos gue yuk.” Iwat melahap potongan jeruk terakhir, sambil berdiri dan meminta Ollie mengikutinya. “Ada yang mau gue tunjukin ke loe.”

Iwat dan Ollie udah ada di dalem rumah kos cowok sekarang. Cukup rame penghuninya. Dari tampangnya sih, tak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah se-orang mantan narapidana, maupun buronannya. Mereka terlihat sangat ber-sahabat dan akrab, walaupun terdapat beberapa peralatan fitnes yang seakan menggambarkan kepribadian metroseksual mereka.

Baru pertama kali mungkin dalam hidup Ollie masuk ke dalam rumah kos. Apalagi cowok. Yang terbayang di benak Ollie hanyalah ‘kotor’ dan ‘bau’. Itulah yang terjadi di sini. Semua orang bertebaran di mana-mana. Ada yang lari-lari, baca koran di mana-mana, makan sembarangan, sampe yang tidur di tengah rumah. Tentunya ada bau tidak sedap yang di hasilkan kegiatan mereka tersebut.

Rumah ini memang tidak tingkat, tapi cukup luas. Ollie masih mengikuti Iwat yang dari tadi gak henti menerima sindiran teman kosnya.

“Gila.. bisa juga ya loe cinta ama cewek, Wat.” Atau, “Ternyata selama ini loe normal ya.” Bahkan, “Mau di kemanain tuh Ipu..ll?” bukannya itu nama cowok?

Tapi tak ia hiraukan, sepertinya disini sudah terbiasa saling menyela.

Iwat membuka pintu kamarnya. Ia masuk, begitu pula Ollie. Belum Ollie menginjakkan kakinya di kamar Iwat, aura tak sedap sudah terasa seketika ia melihat sebuah underwear yang tergeletak di depan pintu. Uurgghhh... jorok banget...

“Eh.. sory, gue beresin dulu deh kamarnya. sedikit berantakan.” Iwat menutup kembali pintu kamar dan membiarkan Ollie menunggu di luar.

Ollie menyandarkan tubuhnya di tembok. Sesaat sebelum ada yang mengagetkannya.

“Oi... pacarnya Iwat ya?”
“Bukan, apaan sih.” Ollie mencoba menyingkirkan sebuah tangan di bahunya. Terlihat di sebelah Ollie seorang cowok ber tampang model orang Arab dengan hidung mancung dan mata belo-nya.
“Jangan bohong! Kenalin, temen senasib seperjuangan sejenis sehati dan sekamarnya Iwat, gue Saiful dan lebih sering di panggil ‘Ipul’.”
“Ipul.. Ipul yang pacaran sama Iwat?”
“Gosipnya sih gitu. Hahaha.. gue emang terlalu deket sama Iwat. Apalagi kita itu gak terlalu tertarik dengan perempuan. Ya... dengan alasan-alasan itu, kita emang udah di cap gak normal atau..”

Krek..

Terdengar suara pintu terbuka, nggak salah lagi, Iwat lah yang kluar.

“Woi onta! Males banget sih nyuci... CD loe kemana-manatuh.” Iwat membentak dengan kata Onta sebagai panggilan buat Ipul, menandakan tanah keturunannya itu yang terkandung teman-teman dekatnya.
“Itu belum kotor, Tahu...ww. Tadi gue cepet-cepet mau pergi ketemu cewek.”
“Iya.. cewek itu emak loe, onta betina. Yang kalo telat 1 menit aja bisa di gantung.”
“Udah deh.. kita itu harus profesional. Kalo gue bisa pacaran.. kan loe juga yang seneng. Gue aja seneng kok loe bisa pacaran sama nih cewek.” Ipul menunjuk Ollie.
“Banyak nyongnyong lo, onta!.” Iwat melempar salah satu underware milik Ipul itu. “Ayo Lie masuk.”

Ollie menyelip dari belakang Ipul, sambil cengengesan dan langsung memasuki kamar.

“Waduh... baru pacaran udah masuk kamar.”

Brak...

Iwat membanting pintu.

Saat masuk, Ollie langsung di kejutkan oleh sebuah foto Justin Timberlake yang di bingkaikan. Foto itu terlihat asli. Plus tanda tangan di sebelahnya.

“Oh mine..” Ollie mendekati foto itu, ternyata foto ini beneran asli dari kamera sendiri.
“Percaya nggak, gue pernah ketemu dia loh, malah sempet moto dan minta tanda tangannya.” Iwat sedikit mamer. Dia tiduran di atas salah satu ranjang di kamar itu. Di sebrang ranjangnya terdapat satu lagi ranjang yang di perkirakan milik Ipul, teman sekamarnya.
“Kapan lo ke Amrik?”
“Belum lama kok.”
“Oh, ya, ngapain? Sumpe lo pernah ke Amrik?” Ollie melotot mengeluarkan seluruh perasaan terkejutnya ke pada Iwat. Sedangkan Iwat sendiri menatap sinis Ollie yang akhirnya merasa pertanyaannya itu sedikit terasa menyinggung dengan penampilan-nya yang terlalu ‘minim’ untuk ukuran Amerika.
“Ehem, gak usah di ambil hati OK.”

Iwat tersenyum simpul menatap ekspresi gugup Ollie.

“Biasa aja lagi.”
“Oh... Truss”
***

“Wat... please dong, buat gue fotonya.” Rengek Ollie. Kata –kata itu lah yang di ucapkan Ollie dari tadi, untuk bisa mendapatkan foto itu tanpa harus membayar. Sampai mereka keluar dari rumah, Ollie masih saja merengek.
“Minta? Bayar dong.”
“Ya ampun Wat.. Lo bukan fans berat dia kan?”
“Lo juga bukan kok. Lo itu kekasihnya kan, calon istrinya, mestinya kan lo..” Iwat tak meneruskan katanya lagi seketika melihat Ollie yang melotot. “Ok, deh. Lo boleh ambil foto itu, asalkan lo bisa ajukan 1 alasan tepat kenapa gue gak sudi ngasih foto ini sekarang.”

Tugas...
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, tentu saja sekarang Ollie udah tidur-tiduran di atas kasur empuk, sambil ngedengerin siaran radio langganan, dan memandangi poster Justin Timberlake di dinding kamarnya. Poster yang udah dia miliki dari umur 15 tahun ini, gak akan mungkin bisa bosen di pandangnya. Gaya nya cool abis, tatapan matanya tajem, sinar matanya itu telah menusuk hatiku, hoho.. gak salah aku idolain dia.. kata-kata itulah yang selalu dia keluarkan di dalam hatinya setiap saat melihat poster itu. Karna disetiap dia ngeliat foto-foto Justin, selalu keinget sama gaya sang pujaan hati aslinya. Udah lah jangan ngomongin dia.

Gak Cuma satu loh dia punya gambar Justin Timberlake, dulu di kamar Ollie yang di Jakarta, hampir setiap sisi dinding dipenuhi gambar Timberlake, mau yang poster, post card, digunting dari majalah, bahkan dari koran pun dia tempel. Teman SMAnya juga sering ngasih tapi dari sekian banyak foto-foto yang ada. Tapi kalo di kamar dia yang sekarang, hanya ada 1 poster, bukan karena dia mulai bosen, tapi nggak cukup kemungkinan buat dia untuk mencabut ribuan gambar satu persatu di kamarnya dan memindahkanya kesini.

Joni... masih terngiang di telinga Ollie saat dia menjanjikan sebuah foto dan tanda tangan asli Justin Timberlake. Sekarang semua itu sudah ada di depan matanya. Iwat telah memilikinya, walaupun tak bisa dibanggakan oleh Ollie.

Lo boleh ambil foto itu, asalkan lo bisa ajukan 1 alasan tepat kenapa gue gak sudi ngasih foto ini sekarang. Itu alasan Iwat kenapa dia nggak bisa ngasih foto Justin, meskipun sedikit mencerminkan kepelitannya. Apa ada alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Iwat? Mungkin itu kenangan-kenangan dia dari cewe nya waktu ke Amerika bareng. Gak masuk akal, masa fotonya sama Justin, bukan sama cewe nya.

Sudahlah, janji sebuah foto yang diucapkan Joni mungkin sudah tak ia harapkan. Dia bisa berusaha sendiri untuk memecahkan teka-teki Iwat. Kini ia hanya mengharapkan janji Joni untuk kembali kesini.

Sampai gak kerasa, akhirnya Ollie terlelap dalam tidur panjangnya (Eh, sorry bukannya mati). Di dalam mimpinya, ia berada di atas padang rumput luas, udaranya begitu sejuk menusuk hati, ia melihat dirinya yang memakai gaun putih se-lutut, rambutnya yang terjurai panjang, daun-daun yang berhempasan menuju dirinya, melihat sesosok Justin Timberlake yang membawa sepuntung bunga mawar, berjalan mendekati nya. Disaat-saat menegangkan seperti ini, tiba-tiba terdengar lagu ‘Sexy Back’ nya Justin di alam nyata. Ollie terbangun, mungkinkah Justin dateng menghampiriku dan menyatakan cintanya kepadaku... tapi kok back sound-nya gak nyambung, punggung seksi?

Tiba-tiba saja terasa seperti ada yang menggetarkan punggungnya kasar membuatnya terbangun, Ollie segera berdiri dan celingukkan mencari, gak sengaja dia ngeliat HP nya yang berkedap-kedip. Tepat di belakang punggung tempat ia tidur tadi. Oh iya, Ollie lupa kalo lagu ‘Sexy Back’ itu adalah ringtone HP nya. Ollie mengambil kasar HP nya, terlihat nama Iren di layar HP. Ollie pun mengangkatnya. Hayo... kata kasar apa yang akan keluar dari mulut nya, udah sering Iren menelponnya di saat yang tidak tepat. “APA???”

“Tuh, tuh, tuh, pasti setiap gue telpon lo sekitar jam 10, sapaan nya judes banget. Udah tidur ya?”
“Kalo Cuma tidur mah gue gak bakal se kasar ini. Gue lagi mimpiin Justin tau!! Jarang-jarang nih.”
“Oh Justin, sorry. Ngomong-ngomong, udah belum persiapan buat ospek besok? Aduh jangan bilang deh lo lupa?”
“Yap, kali ini gue gak lupa kok.”
“Beneran? Yaudah, bagus kalo gitu, biasanya kan lo sering pikkun. Udah ya Lie, Cuma mau ngingetin kok. Good Night. Oh iya jangan lupa matiin radio tuh!”
“Eh Ren!”
“Knapa?”
“Gue pengen curhat dong, bentar aja.”
“Curhat.. aduh, gimana ya.. pulsa gue gak tralu cukup nih buat denger curhat. Gimana dong?”
“Gitu. Ya udah. Night!”
“Oi.. ngambek ya? Gue serius. Pulsa gue gak banyak.”
“Iya yaudah Ren. Gue gak papa. Masih ada besok-besok kan kalo mau curhat. Sumpah gue butuh lo.”
“Ok deh. Gue bakal bantu lo sebisa gue. See you next time!”
“Bye..!” Ollie menutup telpon dan melemparkan HP itu ke atas kasur. Sebenernya ada sesuatu yang harus diperbincangkan. Ini masalah Joni dan dirinya. Ollie memang bermaksud untuk ngelupain Joni. Tapi semakin Ollie melakukan itu, rasanya ia makin tersiksa, apalagi ditambah hadirnya Iwat yang membuat Ollie makin teringat Joni.

Ollie kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Entah apa yang akan terjadi nanti, apakah mungkin cintanya dan cinta Joni masih memiliki kesempatan untuk saling bersatu.

Dia langsung melihat ke arah bahan-bahan yang akan dia bawa saat Ospek besok. Mungkin terlalu lucu. Ollie tersenyum kecil di balik kegelisahannya.

Ollie siap untuk menanti hari esok yang entah bakal menyenangkan ato menyedihkan. Sebelum dia tidur, dia mematikan lampu dulu, dan mencium poster Justin Timberlake sambil mengatakan “Good night my Princes”. (Jangan lupa matiin radio ya Ollie!). Lalu Ollie langsung merebahkan badannya di atas kasur. (Ollie, radionya matiin dulu dong!). Ollie pun perlahan-lahan mulai membawa dunianya yang sekarang ini kedalam dunia mimpi sambil berharap akan bertemu Justin lagi disana. (Woiiiiiiiiiiii, Radionyaaaaaaaa!!!!!!!!!). Tiba-tiba saja Ollie terbangun dan merasa melupakan sesuatu. “Oh iya Radionya”.

***