11/11/2012
Alive GALAXY Tour 2012
Impian Dan Kenyataan
gilaaakkkk woooyyyy udah lama banget gue ga ngepost, saking lamanya sampe2 kayanya ke jayusan gue selama ini udah sirna nih #eaaa_part1
betewe betewe betewe lo tau ga sih hal terpenting yang pengen banget gue share selama ini tp ga pernah nemu waktu yg tepat, oke ini bukan kalimat sok sibuk atau maksud menduakan blog gue tercinta ini #eaaa_part2. tp beneran deh ini tuh penting bajingan blay.
kalo lo lo semua pembaca setia blog gue dr jaman ini blog orok sampe viewers nya udah belasan ribu begini #eaaa_part3, pasti lo semua tau apa impian terbesar gue selama gue idup dan apa guna dari segala perjuangan gue sampe setiap harus bangun jam 4 pagi karna kenyataan punya sekolah di ujung kulon.
IYA COOOOOYYYY, IYA BANGEEEEEEEETTTTTT, GUE KETERIMA DI SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG!! kyaaaa kyaaaaaaaaa alhamdulillah ya tuhan ya robi ya orang tua ya guru2 ya teman2 ya pembaca setia ramania's land ya si 'ehem'. ALHAMDULILLAH!!!
akhirnya gue bisa menaklukan si gajah ijo ganesha itu eumhahahaha. terbukti bukan di dunia ini memang tidak ada yang mustahil asal kita percaya dan mau berusaha + berdoa #eaaa_part4
nih coy bener2 gue udah official mahasiswi itb -->
kalo lo yg baca postingan ini udah keburu mikir kalo gue itu orang nya sombong bener sampe beginian aja di tulisnya selebe orang lagi di kejar anjing, maaf-maaf aja nih, well sebenernya inti dari apa yang gue tulis di sini cuma pengen ngasih lo studi kasus aja, kalo seorang anak yang bener-bener kopong ga bisa apa-apa, bahkan seringkali direndahin karna malesnya melebihi kucing obesitas, bisa ngewujudin apa yang dia pengen. efek sampingnya emang bikin jantungan orang-orang sih, dikit doang kok.
walaupun masuk itb emang tujuan hidup terbesar gue, tapi perjalanan gue ga berenti sampe disini doang bro, gue harus jadi future architect yang bener-bener berguna bagi nusa dan bangsa #eaaa_part5, wish me luck lagi ya ^^v
by the way,
gimana dengan lo? apa impian lo selanjutnya?
4/22/2012
Heaven knows what you've been through
So much pain
Even though you can't see
I'm not far away
We always say if one of us
Somehow went away
We'd light a candle and say a prayer
Know that love still remains
Close your eyes, go to sleep
Know my love is all around you
Dream in peace, when you wake
You will know I'm still with you
Live your life from this day on
And love again
I know you'd do the same for me
That's the way that loves is supposed to be
Close your eyes, go to sleep
Know my love is all around you
Dream in peace, when you wake
You will know I'm still with you
When you feel those lonely teardrops
Rolling down your face
Just know my love watches over you
Always, always
Close your eyes, go to sleep
Know my love is all around you
Dream in peace, when you wake
You will know I'm still with you
I'm still with you
3/27/2012
3/08/2012
The Words of A Dream
Langit sore itu begitu menakjubkan. Warna oranye yang mewarnai setiap titik keberadaan awan sendu membuatku tak ingin melewatkan setiap detik keajaibanya. Merasakan sejuknya angin senja yang senantiasa mengayunkan beberapa helai daun di ranting-ranting itu. Aku tersenyum membaringkan badanku di atas taman rumput, menyatu dengan alam, benar-benar tidak ingin beranjak.
Hatiku terenyuh saat mendapati pandangan indah ini memudar, terhalangi oleh genangan air yang membendung di kelopak mataku. Semakin penuh dan pudar, hingga akhirnya rubuh sudah. Setetes air mengalir di pipi, diikuti berpuluh teman-temanya. Banyak hal yang bisa saja kutangisi saat ini. Termasuk saat seekor burung kecil, entah dari mana asalnya, terbang di langit melewati batas pandanganku.
“Aku ingin seperti burung yang bisa terus terbang tinggi. Tak peduli sudah seberapa tinggi ia terbang, seberapa jauh ia meninggalkan tempat asalnya, ia akan terus terbang menemukan tempat baru dimana kehidupan yang ia inginkan berada.”
Jujur, aku baik hampir dalam segala hal. Termasuk berlogika dan apapun yang berhubungan dengan akal sehat. Namun belakangan aku baru menyadari bahwa aku tidak terlalu baik dalam memaknai arti kehidupan. Kalau bukan karna anak ini, mungkin aku sudah buta dengan perasaan.
Ia lah Ihsan Ramadhana, seorang anak laki-laki yang saat ku temukan tengah berumur 17. Dimana nyaris aku membunuh anak itu dengan menabrak hidup-hidup tubuhnya menggunakan mobilku.
Saat itu aku sedang mengendarai sebuah mobil sepulang mengajar dari sebuah bimbingan belajar. Hujan deras yang membahana terang saja menghalangi sebagian pandanganku ke jalan, membuatku nyaris tak bereaksi saat seonggok tubuh manusia mendadak tampak dari depan sana. Siap untuk di seruduk.
BAM!
Rasanya jantung ku sempat berhenti berdetak. Bukan main kagetnya. Beruntungnya tangan ini sempat membanting kemudi ke arah berlwanan (dan yang lebih beruntungnya tidak ada mobil yang balik menabrak mobilku saat ku mengalihkan kemudi, nampaknya akan lebih tragis).
Aku menoleh hendak memastikan bahwa orang itu masih berada di tempatnya berdiri tadi tanpa mengalami lecet sedikitpun. Sialnya, yang kudapati justru kerumunan orang yang sedang mengeremuni sesuatu, orang itu terkapar di tengah jalan!
“Oh man, C’mon!” rintih ku panik sambil membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri tempat kejadian, hujan-hujanan tentunya. Beberapa orang disana terdengar mencaci maki diriku dengan kata-kata yang sudah tidak lagi bisa ku cerna dengan akal sehat. Sial, mereka tidak tau bahwa gue—juga—nyaris—mati—kali. Dan sebagian dari mereka mulai mengangkut tubuh itu hendak dibawa ke tempat yang lebih aman, setidaknya tidak di tengah jalan seperti ini. “Mmm maaf pak, masukan ke mobil saya saja, biar bisa langung saya bawa ke rumah sakit.”
Dan tinggalah kami berdua di dalam mobil, sang korban dan korban lain yang tidak diangap. Dengan basah kuyup tentunya, aku kembali menerobos hujan walaupun perasaan canggung masih menyelimuti otak ini. Aku memberanikan diri melirik korban yang sedang terbaring itu melalu kaca di mobilku, anak remaja ternyata.
“Hei, kau masih bisa bertahan, kan? Kumohon jangan mati dulu.” Tanyaku, nyaris setengah sadar saking panik nya. Dan tiba-tiba anak itu bangkit dari tidurnya, duduk tenang sambil menerawang ke luar jendela, seolah-olah baru saja dibangunkan dari tidur siang.
“Helo?” aku heran.
“Kau tidak perlu membawaku ke rumah sakit.” Anak itu akhirnya angkat bicara.
“Ha? Tapi kau kan terluka.”
“Aku tidak apa-apa, hanya lecet sedikit, sudah biasa.”
“Kalau begitu dimana rumahmu? Biar kuantar.”
“Jangan, aku tidak ingin ke rumah, turunkan saja aku disini.”
“Loh, tahu tidak, kau tadi nyaris mati, dan bukan hanya itu, aku juga nyaris mati karna jantungan melihat orang bodoh bengong di tengah jalan. Kenapa sekarang kau berlagak seolah tidak terjadi apa-apa?”
“Hmmm…aku memang bodoh, semua orang bilang seperti itu kok. Makanya aku ingin bunuh diri.”
“………”
Beruntung, hal yang kulakukan selanjutnya bukan menurunkannya saat itu juga dari mobilku, walau dengan emosi yang semakin memuncak di ubun-ubun, kubawa dia ke apartemen ku tak jauh dari tempat tadi. Entah kenapa akhirnya aku memutuskan untuk membawanya kesini. Ya, tentu aku tak bisa berlaga tidak peduli dan membiarkanya bunuh diri dengan cara yang ia mau. Seorang anak muda seperti dia, tampan, dan hidup di era canggih seperti ini, masih berpikiran untuk bunuh diri?
Kubiarkan dia mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian ku untuk sementara. Kuberi dia secangkir teh hangat, saat ku mulai melontarkan beberapa pertanyaan basa-basi yang sesungguhnya menjerumus ke persoalan bunuh diri tadi. Tentu cukup sulit memancing hingga anak ini ingin menceritakan kehidupan yang mungkin begitu pribadi ini, namun sepertinya tidak akan sesulit bila aku yang bertanya.
Seperti yang pernah ku bilang, aku adalah seorang guru matematika di sebuah bimbingan belajar, ya, sebenarnya itu hanya sebuah selingan untuk mengisi waktu kosong, sekaligus menyalurkan hobi mengajarku. Aku sesungguhnya adalah seorang mahasiswa S2 fakultas psikologi. Bertemu dengan remaja-remaja labil seperti anak ini merupakan sebuah tantangan bagiku. Tantangan untuk menelaah hidupnya, syukur bisa membantu memperbaikinya.
Setelah melalui percakapan panjang hingga akhirnya aku dapat mengetahui nama asli nya, Ihsan pun memulai kisahnya.
“Aku gamau pulang, aku bosan dengan aturan rumah. Mereka selalu menentang apa yang ingin kulakukan seperti seorang bayi yang harus terus diawasi. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa sempitnya lingkup duniaku bila tidak merasakanya sendiri, mungkin beribu kali lebih menyakitkan dari yang kini kau bayangkan.” Penjelasan Ihsan yang nampak dipenuh dengan kedengkian. “Sekarang aku sudah kelas 3 SMA, apakah salah jika aku juga ingin melakukan apa yang aku hendaki?”
“Tidak semua apa yang ingin kau lakukan baik di mata mereka Ihsan, mereka adalah orang tua mu, mereka lebih berpengalaman di dalam kehidupan ini. Mungkin mereka sudah merencanakan sesuatu yang kelak lebih berguna untukmu. Bukan kah tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya terpuruk?”
“Kau tau apa yang ingn kulakukan?”
“Memang tidak, tapi apapun itu kurasa harus dipertimbangkan lagi. Karna menjalankan sesuatu tanpa restu orang tua tidak akan berkah. Ingatlah kau bukan satu-satunya anak yang mengalami masalah seperti ini, banyak sekali anak-anak seperti mu.”
“Ya, kau memang tidak tau apa-apa.”
“Kalau begitu apa rencanamu?”
Ihsan menyeruput teh hangatnya yang mungkin sekarang makin terasa hangat seiring dengan obrolan kita yang mulai mendekati ke klimaks. “Aku ingin ikut tes perguruan tinggi, aku ingin ke ITB. Layaknya lulusan sma pada umumnya. Hanya itu kok.”
Aku diam sejenak, berusaha menelusuri alasan masuk akal seorang orang tua sehingga tidak memperbolehkan anaknya berkuliah di ITB. Mungkin mereka ingin Ihsan menjadi dokter? Atau mereka tidak ingin ia pindah ke Bandung? Belum sempat aku menanggapi nya, Ihsan melanjutakan.
“Aku yakin mereka tau sekali kalau ITB adalah impian terbesarku. Memang tidak mudah masuk sana, dan untuk orang biasa saja sepertiku bisa dibilang mustahil bisa keterima. Tapi apa salahnya jika aku mencoba. Dan asal kau tau, jangankan masuk ITB, untuk ikut tes perguruan tinggi saja aku tidak boleh.”
“Lalu yang mereka inginkan apa kalau bahkan ikut tesnya saja kau tidak boleh?” mulai terasa terheran-heran mendengar ceritanya.
“Mereka ingin membawaku ke London.”
“Bukan pilihan yang buruk bukan? Banyak universitas disana yang jauh lebih menjamin daripada ITB.”
“Bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai pasien.”
Untuk kedua kalinya selama percakapan ini, aku tidak bisa berkata apapun. Lagi-lagi berusaha mencerna.
“Hahaha, rasanya salah jika aku menceritakan masalah ini kepadamu. Kau kan guru, bukan dokter.”
“Aku calon psikolog, tidak beda jauh, cerita saja.”
“Kau sedang berbicara dengan anak yang umurnya mungkin tidak akan sampai setahun lagi.” Dia tersenyum, pahit sekali melihatnya. “Katanya, mereka ingin mengenalkanku dengan pengobatan terbaru di London. Bahkan sebelum aku sempat lulus SMA. Tapi bagiku semua tidak akan berguna banyak. Aku tetap saja akan mati. Dan sebelum mati, aku hanya ingin meraih impianku, ya masuk ITB itu. Bukanya liburan di London dan menunggu ajal menjemput dalam kedamaian. Bukan itu yang aku mau.”
Aku tertegun. “Itu alasanya kau ingin bunuh diri?”
“Lebih baik aku mati lebih cepat dari pada menyesal dengan sesuatu yang tidak pernah bisa ku coba.” Ihsan mengernyit saat mendadak setetes darah mengalir dari hidungnya. Dia mengambil selembar tisu dari atas meja dan menghapusnya tenang. “Aku lelah, bolehkan aku numpang istirahat disini?”
“Ehm, ya…tentu. Kamarku disana, biar ku antar agar kau bisa tidur di dalam.” Aku berusaha meredam kepanikanku melihat sepercik darah dan wajahnya yang mendadak menjadi pucat sekali. Aku pun mengantarnya masuk ke dalam kamar dan membiarkanya tidur dalam ketenangan disana.
Entah walaupun belum sehari aku mengenalnya, rasa ingin melindungi dan membantu menyelesaikan problema hidupnya tumbuh begitu besar. Inilah alasan terkuat mengapa aku ingin sekali menjadi guru. Aku ingin merasakan perjuangan perjuangan anak-anak seperti Ihsan dalam meraih impian, aku ingin melihat mereka bahagia pada akhirnya. Bukan hanya itu, aku juga ingin turut andil dalam mempermudah perjuangan tersebut.
Sebelum Ihsan memejamkan mata dan tertidur, ada sesuatu yang ingin kusampaikan, setidaknya agar dia tidak mendapatkan mimpi buruk dalam tidurnya setelah menceritakan hal yang mungkin benar-benar merupakan mimpi terburuk baginya.
“Ihsan, memang tidak selalu apa yang kita inginkan akan berjalan lurus. Semua hal buruk dalam kehidupan ini pasti juga memiliki sisi baik yang terkadang baru muncul di akhir kisah. Impianmu bukanlah suatu hal yang buruk, dan tak ada hal baik yang berujung dengan kesengsaraan. Hidup itu adalah pilihan, kau yang memiliki hidup dan tentunya kau lah yang akan menentukan pilihan itu. Tapi tentunya tidak dengan pilihan untuk bunuh diri. Hanya pecundang yang melakukan itu. Bukankah tidak ada manusia yang benar-benar tau kapan kita akan mati? Kau tidak boleh menyerah semudah itu.”
Ihsan menatapku dalam dari atas tempat tidur, matanya terlihat berkaca-kaca. Kuharap tumbuh penyesalan dalam hatinya karna sempat berpikiran untuk bunuh diri.
“ITB bukan lah hal mustahil untuk dicapai bagi orang yang ingin berusaha. Kalau kau benar-benar ingin masuk sana, tunjukan usahamu. Kurasa sekeras-kerasnya orang tua akan luluh juga bila melihat anaknya bersungguh-sungguh.” Aku tersenyum bahagia, puas melihat air mata yang menetes dari matanya. Membuatku yakin akan penyesalan dan semangat baru nya. “Dan lagi, kau tidak sendiri. Aku, dan ku yakin teman-teman se profesi ku akan sangat senang bila bisa membantumu.”
“Kalau begitu tolong bantu aku ya, guru.” Dia tersenyum dalam air mata nya yang masih mengalir. Aku pun keluar dari kamar, meninggalkanya dalam mimpi indah.
Hari-hari berikutnya kami pun jadi lebih sering bertemu, untuk bercerita dan belajar tentunya. Aku dan teman-temanku pun menerima dengan senang hati kehadiranya di bimbingan belajar tempat kami mengajar. Sama dengan anak-anak lainya, semangatnya begitu membara, dan tidak akan pernah kupadamkan sebelum ia meraih apa yang diinginkan.
Tapi, tentu persoalan dengan orang tuanya tidak tenggelam begitu saja, masih sama seperti dulu. Bedanya kini Ihsan lebih sering berada di apartemenku dibanding di rumahnya sendiri. Jadi intensitas pertemuan dengan orang tuanya pun menjadi sedikit. Hal ini tentu saja mengundang amarah mereka, bukan hanya ke Ihsan, tapi juga kepadaku. Setelah mendapati apartemenku sebagai tempat persembunyian Ihsan selama ini, mereka akhirnya mendatangiku, tidak sendirian, tapi bersama polisi!
Selama beberapa minggu akhirnya aku merelakan beberapa kegiatanku untuk berurusan dengan polisi, tuduhannya benar-benar tidak bercanda. Mereka menuduh kalau aku telah menculik anaknya. Penculikan dimana sang anak masih sering sesekali pulang ke rumah, sedikit aneh bukan. Sempat Ihsan merasa begitu bersalah karna harus menyeretku ke masalah seperti ini, tapi tidak begitu saja menyulutkan rasa menyerah dalam diriku, dan tentunya lagi-lagi ku tanamkan dalam benak Ihsan kalau semua akan indah pada saatnya.
Benar saja, aku menang, aku bebas dari segala tuduhan. Hal itu membuat orang tuanya semakin murka. Dia lagi-lagi mendatangiku, hanya ibunya kali ini. Dan wanita ini menangis saat kutemui di depan pintu apartemenku.
“Anda tidak tau kan rasanya menjadi seorang ibu yang ditinggal pergi anaknya? Rasanya jika anak yang sangat dia sayang mengkhianatinya untuk sesuatu yang tidak ia restui? Rasanya………………..memiliki anak yang umurnya sudah tidak panjang lagi? BIARKAN DIA MERASAKAN WAKTU-WAKTU TERAKHIRNYA BERSAMA IBUNYA!” Tangisan ibu itu semakin menjadi, dia menjerit, memukul pintu, dan menatapku penuh dengan amarah seolah aku adalah penjahat yang akan membunuh anaknya. Tidak membuatku luluh sama sekali.
“Saya rasa seorang ibu tidak akan menjebak anaknya dalam kegalauan yang tidak berujung dan pilihan yang benar-benar tidak bisa ia pilih sendiri. Anda tau kan kalau umur anak anda sudah tidak lama lagi? Apakah anda tidak ingin membuatnya bahagia di saat-saat terakhir hidupnya? Seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya tentu akan ikut bahagia melihat anaknya bahagia, bukan?”
“TAPI SEMUANYA TIDAK SAMA! TIDAK USAH BERTEORI! SAYA TIDAK BODOH, DAN ANDA TIDAK AKAN PERNAH TAU RASANYA MENJADI SAYA SAAT INI!”
“Memang keadaanya sudah beda, tapi anak anda tetap sama seperti anak-anak yang lain, dia juga memiliki impian. Dia tidak ingin dibeda-bedakan. Memang sulit menjadi seorang ibu yang akan ditinggal mati anaknya, TAPI SADARLAH, AKAN JAUH LEBIH SULIT JIKA ANDA MENJADI IHSAN!” Tak terasa nada suaraku pun ikut meninggi seiring memuncaknya emosi di ubun-ubunku. Tangisan ibu itu semakin menjadi, begitu terisak sehingga tidak dapat berkata apa-apa lagi. “Maaf bu, tapi asal anda tau pertama kali saya bertemu dengan Ihsan, dia sedang dalam percobaan untuk mengakhiri hidupnya. Dia merasa lebih baik mati lebih cepat dari pada tidak mencoba melakukan hal yang benar-benar ia inginkan. Tolong bu, yang Ihsan butuhkan kali ini hanyalah dukungan, dan semuanya akan kembali normal, ia akan kembali ke rumah seperti dulu. Tapi biarkan dia hidup bersama perjuanganya meraih impian.”
“Ihsan…………”
Pertemuan itu memang telah berlangsung, dan apa yang selama ini ingin ku ungkapkan terungkap sudah. Tapi entah kenapa, belum terdengar kabar keakraban antara Ihsan dengan orang tuanya. Dia masih saja melarikan diri ke apartemenku. Jelas tidak seperti yang kuharapkan.
Hingga akhirnya sampailah di hari tes seleksi perguruan tinggi. Ihsan yang bermalam di apartemenku bangun pagi sekali. Dengan penuh semangat, dia pun bersiap-siap untuk menghadapi tes hari ini. Walaupun terlihat jelas sekali tubuhnya yang semakin mengurus dan lukisan pucat di wajahnya. Dia bilang kalau tadi subuh ia sempat muntah-muntah karna sedikit merasa stress, yang kuyakini jelas bukanlah disebabkan oleh hal itu, tapi memang karna kondisi tubuhnya yang memburuk. Aku khawatir dengan kondisinya, namun melihat semangatnya yang tidak pernah berkurang membuat ku optimis kembali.
Aku pun mengantarnya ke lokasi tes, dan sesaat setelah memasuk lokasi tersebut, muncul sepasang lelaki dan wanita yang selama ini begitu Ihsan harapkan dukunganya, orang tuanya dating! Mereka bertigapun berpelukan, sungguh pemandangan indah telah yang menyayat hatiku. Kedua mata orang tuanya telah terbuka, dan kini mereka datang untuk menemani Ihsan meraih impianya. Aku bersyukur.
Tiga jam telah berlalu saat Ihsan memasuki ruang tes, dan bel tanda selesai pun telah dibunyikan. Ihsan mengeluari ruangan dengan wajah berbinar. Sukses sepertinya.
Ihsan menghampiri kedua orang tuanya dan mungkin sedang menceritakan apa yang baru saja terjadi di dalam kelas, aku yang berdiri cukup jauh mereka kurang bisa mencerna apa yang mereka bicarakan. Namun tak bisa kupingkiri, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Kuhampiri kehangatan keluarga itu untuk sekedar memberikan selamat pada Ihsan.
“Hey bro!! Selamat ya, akhirnya selesai juga. Gausah dipikirin hasilnya, yang penting udah kasih yang terbaik, bukan?”
Mendadak Ihsan menubruk tubuhku dengan pelukan yang cukup erat. Aku kaget, namun kemudian terbiasa dengan keadaan dimana aku—kesulitan—bernapas.
“Terima kasih, entah apalagi kata yang bisa kuungkapkan selain terima kasih. Kau adalah orang terbaik yang pernah kutemui, kalau tidak ada dirimu mungkin aku sudah mati waktu itu.” Ihsan menangis, begitu bahagia. Aku terlalu terharu untuk dapat mengucapkan sebuah kata. Aku sangat puas melihat Ihsan bahagia. Walaupun belum jelas hasilnya, tapi ia sudah dapat sebahagia ini. Selamat nak.
Tak kuduga sama sekali, ternyata hari itu merupakan pertemuan terakhirku dengan Ihsan. Malam hari, kondisinya memburuk, ia dirujuk ke rumah sakit oleh keluarganya, dan sebelum aku sempat menemuinya lagi, ia lebih dulu dipanggil.
Anak itu telah pergi, kembali ke tempat asalnya. Aku yakin kepergianya diselimuti oleh senyuman saat itu. Kuusahakan sekuat apapun untuk dapat melapangkan semua ini. Karna memang sudah saatnya ini semua akan terjadi. Lagi pula dia sudah melakukan apa yang benar-benar ingin dia lakukan. Ya, walaupun ia harus pergi sebelum hasilnya keluar.
Dan setelah upacara pemakaman selesai, sampailah aku dihari ini, menyempatkan diri untuk mengunjungi taman ini. Aku ingin sendiri, hanya di temani awan sendu dan burung yang kian terbang kesana kemari. Mengenang pertemuan singkat ku dengan anak luar biasa ini.
Satu lagi kisah telah ku ukir dan akan terus ku abadikan di dalam hati. Aku bersyukur karna akhirnya memilih menjadi guru. Telah banyak kutemukan anak-anak luar biasa yang penuh dengan kepercayaan dalam hidup mereka.
Terima kasih karna telah memberikanku arti hidup, teman-teman.
Terima kasih banyak, Ihsan Ramadhana
“Lebih baik merasakan sebuah kegagalan dari pada penyesalan seumur hidup karna tidak memanfaatkan kesempatan yang ada.”
-end-
12/02/2011
Obsession Moves
Hidup itu seperti permainan catur, yang berpikiran panjanglah yang akan menang. Unggul dalam ingatan, fokus serta konsentrasi, berimajinasi luas, dan tentu saja kuat atas nama logika.
Bagaimana jika kita anggap saja papan catur itu bumi, si bidak adalah fenomena kehidupan, peraturan permainanya adalah apa yang kita sebut dengan hukum alam, dan sang pemain di sisi lawan, tersembunyi dari kita.
Hidup dalam permainan catur dapat berubah-ubah di setiap langkahnya. Entah dapat menjadi baik, atau bahkan bertambah buruk. Sama seperti hidup kita, bukan? Karna saat melakukan kesalahan fatal walau satu langkah saja dapat menjadi bencana seumur hidup. Pasti sulit memperbaikinya.
Catur itu seperti gambaran kehidupan bagiku. Setiap bermain, pasti aku menemukan hal baru yang inginku analisis. Mungkin sudah berpuluh-puluh teori tentang catur dan hidup yang telah ku tanam dalam otakku, sekedar untuk memamerkan ke teman-teman mengenai hal ini dan….syukur-syukur dapat mengubah hidupku.
Mungkin sekarang kalian berpikir bahwa aku adalah pemain catur sejati yang sudah memenangkan beberapa kompetisi, hingga telah meresapi begitu banyak makna kehidupan yang terkandung di dalamnya. Aku sangat senang bila ada yang menanggapi seperti itu, karna kenyataanya semua orang di sekitarku lebih asik menyebutku The Chess Fanatic.
Aku bukanlah Thomas Huxley ataupun Fred Reinfeld. Dan bukan pula Bobby Fischer yang benar-benar tidak terkalahkan. Aku hanyalah seseorang yang sangat mencintai permainan mereka.
Aku bisa bermain catur, bisa, walaupun sepertinya lebih pandai berteori dibandingkan membuat posisi checkmate di atas papan. Pikirku, dengan berteori, otomatis aku telah mendapatkan kuas dan cat untuk melukiskan posisi checkmate tersebut di atas papan catur. Terbukti, aku memang bisa melukiskanya, bahkan untuk beberapa pertandingan. Namun bukanlah seseorang yang handal, seperti yang telah ku jelaskan dalam teoriku.
Terlalu banyak hal yang telah ku kemukakan mengenai sifat catur dalam kehidupan. Saking sibuknya berteori, sampai sepertinya aku pun kurang mempedulikan orang-orang yang telah lebih dulu sukses di sekitarku.
Di sekolahku sudah banyak sekali orang sukses. Daryan, si jenius yang baru saja mendapatkan medali emas untuk olimpiade Matematika. Kevin yang bahagia setengah mati setelah mendengar pengumuman bahwa ia terpilih menjadi salah satu pemain di tim basket nasional junior di luar sana. Saras baru saja mendapatkan penghargaan atas novel ke tiga nya. Dan setauku, Ghea, si pianis cantik itu sedang berada di Holland untuk mengisi konser musik artis ternama yang tak ingin ku pedulikan siapa namanya.
Mereka sukses. Walaupun kesanya aku tidak peduli dengan semua itu, namun—tentunya—hati kecilku mengais untuk bisa menjadi seperti mereka. Setidaknya, aku ingin mereka semua memandangku sebagai pecatur yang luar biasa dalam permainanya. Seperti Samuel, si mighty pawn, si saingan-terberat-bermain-catur yang pernah ku lawan.
Aku tidak tau kalau dia jenius, kalau dia memiliki memori yang kuat dan berimajinasi luas, setidaknya lebih dari yang ku miliki. Namun kenyataanya, dalam beberapa kali (mungkin sudah ratusan) duelku dengannya, aku-selalu-kalah.
Jujur, aku kagum denganya. Atau mungkin lebih bisa dibilang iri. Aku di juluki The Chess Fanatic saat dia mendapat julukan The Mighty Pawn. Maka itu, saking penasaranya, aku tidak tanggung-tanggung untuk mengajaknya berduel setiap hari. Agar dapat mengalahkanya, dan merebut julukanya. Bahkan hari ini.
Saat itu pulang sekolah di dalam ruangan perpustakaan, aku sudah berhadapan denganya sekitar lima belas menit yang lalu, papan catur pun sudah terpampang bersama bidak-bidaknya di atas meja. Aku berkeringat dingin, perutku mulas, hal ini sudah biasa kurasakan saat sedang berhadapan denganya. Dan yang selalu kupertanyakan, kenapa dia lebih terlihat seperti seorang ayah yang sedang bermain gundu bersama bocah umur 5 tahun? Aku memang tidak sejago dia, tapi bukan berarti dia bisa meremehkanku seperti ini, bukan?
Saat memasuki menit ke dua puluh kubersamanya, dia mempertanyakan sesuatu kepadaku yang membuatku ingin sekali menyogok mulutnya dengan pion-pion di atas papan catur ini.
“Bagaimana, sudah dapat teori baru, bung fanatic?” sambil tersenyum, licik.
Aku berusaha tidak mempedulikan pertanyaan sindiranya itu, dan memfokuskan pikiranku di atas papan catur yang sedang memanas ini. Dan alhasil, sekian menit aku berhasil pura-pura tidak mendengar perkataan Sam, di menit itu pun aku berhasil menjebak ratu-nya. Kini giliranku tersenyum licik.
“Good positions don’t win games, good moves do.” Ungkapku dengan puas.
Kemudian kami bermain kembali dengan suasana sunyi, selama kurang dari satu menit, saat Sam mengangkat suaranya lagi.
“But, the Pin is mightier than the sword” serentak dengan hentakan pion nya yang sama sekali tak terjamak, di sisi raja milikku. “It’s another ‘Chekmate’.”
Tak percaya, aku terdiam menatap papan, mencari barangkali saja ada celah yang bisa membuatku bertahan. Namun nihil. Sial, belum saja semenit aku merasa berada di atas angin untuk mengalahkannya.
Samuel meninggalkan tempatnya begitu saja sebelum aku selesai berpikir. Ia sudah membuka pintu perpustakaan saat aku meneriaki namanya.
"Sam, bisakah kita mengulanginya sekali lagi? Sekarang?" Ajakanku yang serentak menghentikan langkahnya.
Samuel menoleh, tanpa menutup kembali pintu yang telah ia buka. "Jangan pernah ajak aku bermain lagi, sebelum kau memperbaiki permainanmu. Aku tidak ingin bertanding melawan teori." Ia pun berlalu.
***
Perasaan kesal yang berbaur dengan kebingungan menyelimuti zona pikiranku. Tadi itu bukanlah pertandingan pertamaku denganya, tapi kali pertama saat dia meremehkanku seperti itu. Apa maksudnya tidak ingin bertanding melawan teori? Sial.
Aku membanting tubuhku di atas kasur saat melewati pintu kamar, mendesah kuat. Pandanganku serentak terlempar ke sebuah foto lelaki yang terpampang di dinding. Lelaki yang telah merubah pandangan hidupku. Bobby Fischer.
Untuk menjadi pecatur hebat, kita tidak bisa terlalu baik hati. Kita harus merasa tega untuk menghancurkan satu sama lain. Karna catur itu seperti sebuah peperangan. ‘I am the best player in the world and I am here to prove it’. Itulah analogi Fischer yang paling terngiang di otakku.
Bermain catur merupakan sebuah obsesi terbesarku. Aku rela dikritik sebagai seseorang yg keras kepala dan sombong saat bermain. Aku tidak sungkan untuk menghabiskan seluruh bidak lawanku agar mereka merasa takut dan akhirnya akulah yang menjadi pemenangnya. Semua lawanku begitu, kecuali Samuel.
Dia tidak pernah kesal saat aku mulai menghabiskan bidak-bidaknya. Dia tidak panik saat aku sudah mematahkan strateginya. Dan dia tidak pernah berkeringat dingin saat keadaanya sudah terdesak. Walaupun pada akhirnya, dia dapat memutar balik semua keadaan itu. Hingga aku yang seharusnya menang, tiba-tiba kalah.
Tidak ada yang bisa menjelaskanya, bahkan beribu teoriku pun tidak. Apakah selama ini aku salah, bermain catur dengan ribuan teori dikepala, dan analogi Fischer yang telah mencuci otakku? Entahlah.
Sejenak aku menelungkupkan wajahku ke dalam bantal, mencoba untuk tenang, melupakan segalanya, dan tidur. Selang dua menit setelah aku memutuskan untuk tidur dan beristirahat, terdengar suara pantulan bola cukup ribut dari bawah sana. Sial, atlit dari lurah mana yang main basket siang bolong seperti ini? Merasa terganggu, aku pun bangkit dan berjalan menuju jendela kamar, berniat untuk meneriaki nya dari atas.
Athina, adik perempuanku, sedang asik bermain basket sendirian di halaman rumah. Ya, itulah kebiasaanya sehari-hari, bukanlah biasa bermain basket, tapi kebiasaan mengganggu jam istirahat ku.
“Hei! Bisa tidak entar saja latihan basketnya? Aku sedang berusaha untuk tidur.” Seruku setelah membuka jendela tersebut lebar-lebar yang serentak menghentikan lemparan bola oranye besar ke dalam ring sederhana miliknya itu.
Ia menoleh tidak peduli, dan melanjutkan lemparan bolanya seolah aku hanyalah seonggok ayam yang tengah berkokok di siang bolong, menyebalkan. “Jam segini udah mau tidur? Cupu banget sih.”
“Aku sedang banyak masalah, butuh istirahat. Apa kau memang berniat membunuh kakamu sekarang, ha? Atlit kesiangan?”
“Kalau banyak masalah jangan tidur kali, tidak akan pernah pecahkan masalah.” Athina melakukan aksi lay up nya, sebelum ia menolehkan kepalanya ke jendela kamarku kembali. “Ayo olahraga, main basket bareng Thina, dijamin semua masalah pasti hilang.”
Aku mengernyit jijik mendengar ajakanya tersebut. “Males, ah.” Jawabku ketus.
“Hahaha, pasti kaka takut hitam, kan? Apa takut kalah lawan atlit kesiangan ini?” pertanyaan Athina dengan nada yang super duper meremehkan itu. Membuat ku benar-benar panas dan ingin sekali menjitak ubun-ubunnya dengan bola basket. Sejurus kemudian aku sudah beranjak keluar kamar dan menuju halaman rumah tempat ring basket berada. Hebat sekali adikku itu, bisa membakar amarahku sedemikan rupa hingga membuatku menggebu untuk segera menantangnya. Sama saja seperti Samuel, menyebalkan.
Di luar sana, Athina sudah menunggu dengan senyuman lebar di wajahnya. Entah bahagia karna mempunyai teman bermain atau bahagia karna menemukan lawan yang—pasti—dapat—ia—kalahkan. Aku merebut bola dari tangan mungilnya, dan mulai melempar bola oranye itu ke dalam ring pertanda pertandingan telah di mulai. Dan kami pun bermain one-on-one, seperti permainan catur kelihatannya, begitulah.
Awalnya, dua poin pertama memang jadi milikku, namun setelah 4 menit pertandingan berjalan, ia sudah melampaui 8 poin dari poinku sebelumnya. Hah, apa yang sedang ku lakukan? Kalah dengan perempuan tengil seperti ini? Permainanya terlihat semakin bersemangat dan tanpa ampun, membuat ku ingin segera menghentikan pertandingan ini segera, setidaknya sebelum harga diriku jatuh terlalu jauh dari selisih poin kami sekarang.
Aku mengangkat tangan, bukan pertanda menyerah (walaupun memang terlihat seperti itu). Aku pun duduk di sisi ring basket, saat Athina belum juga menghentikan permainanya.
“Aku tidak tahu kalau kamu bisa bermain basket, sejak kapan?” pertanyaanku setelah menghela nafas yang panjang.
“Bukan aku yang bisa, tapi kaka yang tidak bisa sama sekali.” Ledekanya sambil tertawa penuh kemenangan yang sepertinya tidak akan ia hentikan sampai aku melepas sendalku dan mengarahkan ke wajahnya. Ia meringis.
“Ga sopan!”
Menurut teori yang lainya, catur itu seperti olahraga karena unsur kompetisi di dalamnya tidak hanya mengandalkan kemampuan mental, namun fisik, emosi, sekaligus psikologi juga menentukan. Ada beberapa bentuk permainan catur, seperti juga dalam permainan basket. Permainan satu lawan satu antar teman yang menuntut adanya hasil di akhir pertandinganya, tidaklah dapat dikategorikan kompetisi serius. Karna untuk dapat dikategorikan olahraga, diperlukanlah unsur kompetisi. Aku tahu itu, dan jangan ragukan aku mengenai teori catur, karna dalil-dalil dalam teori catur itu dapat dibuktikan.
“Hehehe, bercanda kak. Sudah lama aku bermain basket, tapi baru kali ini aku merasa mencintai permainan ini.” Jawabnya simpel seraya menghentikan permainanya, dan mengambil posisi duduk di sampingku.
Aku berusaha mencerna kalimat terakhirnya dan menemukan sebuah kata yang janggal di telingaku, ya, sebenarnya sedikit sungkan untuk mengulangi kata itu lagi. “Mencintai?” pekikku lirih.
“Iya, untuk dapat menguasai permainan basket, kita harus mencintai permainannya dulu, kak. Bermain basket itu harus dengan perasaan senang, bukan di bawah tekanan. Menang atau kalah itu hal yang alamiah, sudah biasa terjadi. Masalahnya adalah apakah kita sudah melakukan yang terbaik atau belum. Dulu, aku bermain basket hanya untuk kemenangan semata, bukan kebahagiaan. Tapi aku yang sekarang bukan lagi aku yang dulu.”
Dulu, aku bermain basket hanya untuk kemenangan semata, bukan kebahagiaan. Aku terpaku oleh kalimat yang bukan lagi hanya menusuk telingaku, tapi sudah merasuk ke otakku. Darimana Athina belajar arti kehidupan seperti ini? Kalau aku tanyakan, pasti jawabanya adalah ‘dari basket’. Sama seperti ku yang akan menjawab ‘dari catur’ bila ada yang bertanya demikian.
Aku menyadari permainan catur ku selama ini, permainan yang penuh obsesi dan haus kemenangan. Puluhan teori yang sudah membengkak di kepalaku ini seolah selalu membenarkan permainan yang ku mainkan. Jawabanya adalah salah jika aku hanya bermain karna teori-teori tersebut, teori yang telah membangkitkan obsesi ku, obsesi yang telah menenggelamkan semua kecintaanku dalam bermain catur.
Bobby Fischer memang tidak terkalahkan, semua lawanya takut dengan dia, walau hanya di awal langkah saja. Tapi apakah benar hanya dengan kemampuan dan keangkuhan jalan keluarnya? Kupikir aku telah melewatkan suatu hal penting lainya dari Fischer. Cinta.
Aku bangkit dari tempatku dan berjalan meninggalkan Athina begitu saja. Kini aku lebih bergairah dari sebelumnya. Aku merasa telah menemukan jiwaku yang lama telah terpendam begitu dalam di dasar sana. Tak sabar aku ingin menatap hari esok dan bertemu Samuel di atas papan catur.
“Ka, ada apa?” Tanya Athina yang sepertinya heran melihat semangatku yang mendadak menggebu.
Aku menoleh menghadap Athina, dengan senyum tiga jari yang sudah terlukis di wajahku, mengacungkan sebuah jempol ke hadapanya seolah berkata:
Checkmate.
***
10/31/2011





.jpg)












